alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Koster Tegaskan Bendungan Tamblang  Program Prioritas

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Seremonial peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Bendungan Tamblang dilakukan Rabu (12/8) siang. Meski baru dilakukan, namun progress pembangunan sudah mencapai 21.03 persen. Pasalnya, pembangunan sudah dimulai sejak 2019 lalu. Ground breaking dilakukan langsung Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, Maryadi Utama serta Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana.

Gubernur Bali Wayan Koster, menjelaskan, pembangunan Bendungan Tamblang ini menjadi program prioritas Kementerian PUPR, agar bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat Buleleng, khususnya yang ada di wilayah Timur, seperti untuk dikonsumsi ataupun untuk irigasi. “Meski saat ini sedang dalam masa pandemi Covid-19, beberapa anggaran dirasionalisasi untuk penanganan Covid. Namun, khusus untuk proyek pembangunan bendungan ini bisa tetap berjalan, karena memang menjadi program prioritas untuk mendukung berkembangnya industri di Buleleng, utamanya industri yang berkaitan dengan pengolahan pangan dan industri pertanian,” terangnya.

Koster pun berharap kedepan, Bupati Buleleng bersama BWS Bali-Penida agar bersama-sama menjaga sumber mata air yang mengalir di Bendungan Tamblang. “Harus dari sekarang sumber-sumber mata airnya dijaga. Jangan sampai 20 tahun kedepan, bendungannya ini kering, karena bendungan ini adalah investasi besar,” harapnya.

Koster  menyebut telah menerima surat pengaduan warga yang ada di Kecamatan Kubutambahan, terkait pembangunan proyek Bendungan Tamblang. Ada tiga poin yang dikeluhkan warga.  Yang pertama, sejumlah saluran air subak tertutup oleh material lumpur dari  pembangunan Bendungan Tamblang. Sehingga warga harus bekerja keras melakukan pembersihan saluran subak, selama dua hingga tiga hari lamanya.

Baca Juga :  Ratusan Sopir Transport Konvensional Mesadu ke Cagub Koster

Kemudian yang kedua, warga juga mengeluh sejak proyek dimulai, pihak BWS Bali-Penida tidak pernah membangun komunikasi dengan warga terdampak. Dan, yang ke tiga, warga meminta agar BWS Bali-Penida lebih transparan menginformasikan rencana pembangunan proyek pembangunan Bendungan Tamblang, seperti  jumlah anggaran yang digunakan dan jumlah  luas lahan yang digunakan.

Informasi tersebut bisa dituangkan dalam sebuah baliho, yang dipasang di beberapa titik kawasan pembangunan Bendungan Tamblang. “Saya rasa semua keluhan dari warga itu sifatnya positif, tidak ada yang menolak. Saya sudah meminta kepada BWS Bali-Penida untuk memenuhi segala permintaan warga itu,”  pungkasnya.

Kepala BWS Bali-Penida Maryadi Utama menjelaskan, bendungan ini terletak di empat desa. Yakni Desa Bila (Kecamatan Kubutambahan), Desa Bontihing (Kecamatan Kubutambahan), Desa Bebetin (Kecamatan Sawan), dan Desa Sawan (Kecamatan Sawan), dengan total luas lahan mencapai 73.6 hektare, dengan 212 bidang. Rinciannya, di Desa Sawan 116 bidang seluas 38,59 hektaer, Desa Bebetin 3 bidang 1,49 hektare, Bontihing 39 bidang seluas 6,49 hektare, dan Desa Bila 54 bidang dengan luas lahan 12,2 hektare.

Proyek pembangunan Bendungan Tamblang ini dilaksanakan oleh PT Pembangunan Perumahan. Anggaran yang digunakan berasal dari APBN Kementerian PUPR, sebesar Rp 840 miliar. Bendungan setinggi 68 meter ini memiliki kapasitas tampung mencapai 7.6 juta meter kubik. Bendungan ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air baku sebesar 510 liter per detik di daerah layanan Kecamatan Sawan dan Kecamatan Kubutambahan.  Serta memiliki potensi pembangkit listrik sebesar 0.5 megawatt, dan pengairan irigasi untuk 588 hektare sawah.

Baca Juga :  KBS - Ace Jalani Tes Kesehatan di RS Sanglah

“Kami sangat berterimakasih dengan warga, telah mengizinkan tanahnya untuk dilaksanakan konstruksi, sebelum pembayaran ganti rugi dan seremonial ground breaking dilakukan. Artinya, masyarakat sangat mendukung pekerjaan ini,” terangnya kepada anak media.

Progres pembangunan Bendungan Tamblang, sebut Maryadi, sudah mencapai 21.03 persen. Rinciannya, pembuatan terowongan pengelak sepanjang 31 meter progresnya sudah mencapai 38.016 persen, main dam 5.796 persen, spilway 32.704 persen, bangunan fasilitas umum 9.183 persen, jalan inspeksi 61.716 persen, dan jalan akses 36.146 persen.

“Khusus untuk terowongan pengelak fungsinya untuk mengelakkan air. Setelah terowongan jadi, air baru kami alirkan. Kemudian di bendungan ini juga akan ada jembatan sepanjang 25 meter, lokasinya di hilir. Jembatan itu untuk operasional saja,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, menjelaskan, fungsi utama dari bendungan ini memang sebagai pengairan untuk sektor pertanian. Namun,  juga dapat menyediakan kebutuhan air baku.  Ia melihat sebuah prospek jika ketersediaan air baku yang dihasilkan Bendungan Tamblang sebesar 510 liter per detik dan dikombinasikan dengan air baku yang dihasilkan di wilayah Air Sanih, akan menanggulangi permasalahan kekeringan yang selama ini terjadi di Buleleng bagian Timur.

“Terpenting sekarang adalah Pemerintah akan menjaga hulu dari pada bendungan ini. Agar Pemerintah tidak mubazir sudah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membangun bendungan ini. Karena kontruksi tanah dibawah bendungan ini akan subur sekali dengan adanya bendungan ini,” ujarnya.  

 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Seremonial peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Bendungan Tamblang dilakukan Rabu (12/8) siang. Meski baru dilakukan, namun progress pembangunan sudah mencapai 21.03 persen. Pasalnya, pembangunan sudah dimulai sejak 2019 lalu. Ground breaking dilakukan langsung Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, Maryadi Utama serta Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana.

Gubernur Bali Wayan Koster, menjelaskan, pembangunan Bendungan Tamblang ini menjadi program prioritas Kementerian PUPR, agar bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat Buleleng, khususnya yang ada di wilayah Timur, seperti untuk dikonsumsi ataupun untuk irigasi. “Meski saat ini sedang dalam masa pandemi Covid-19, beberapa anggaran dirasionalisasi untuk penanganan Covid. Namun, khusus untuk proyek pembangunan bendungan ini bisa tetap berjalan, karena memang menjadi program prioritas untuk mendukung berkembangnya industri di Buleleng, utamanya industri yang berkaitan dengan pengolahan pangan dan industri pertanian,” terangnya.

Koster pun berharap kedepan, Bupati Buleleng bersama BWS Bali-Penida agar bersama-sama menjaga sumber mata air yang mengalir di Bendungan Tamblang. “Harus dari sekarang sumber-sumber mata airnya dijaga. Jangan sampai 20 tahun kedepan, bendungannya ini kering, karena bendungan ini adalah investasi besar,” harapnya.

Koster  menyebut telah menerima surat pengaduan warga yang ada di Kecamatan Kubutambahan, terkait pembangunan proyek Bendungan Tamblang. Ada tiga poin yang dikeluhkan warga.  Yang pertama, sejumlah saluran air subak tertutup oleh material lumpur dari  pembangunan Bendungan Tamblang. Sehingga warga harus bekerja keras melakukan pembersihan saluran subak, selama dua hingga tiga hari lamanya.

Baca Juga :  Adnyani Mahayastra Bantu Kursi Roda untuk Penyandang Disabilitas

Kemudian yang kedua, warga juga mengeluh sejak proyek dimulai, pihak BWS Bali-Penida tidak pernah membangun komunikasi dengan warga terdampak. Dan, yang ke tiga, warga meminta agar BWS Bali-Penida lebih transparan menginformasikan rencana pembangunan proyek pembangunan Bendungan Tamblang, seperti  jumlah anggaran yang digunakan dan jumlah  luas lahan yang digunakan.

Informasi tersebut bisa dituangkan dalam sebuah baliho, yang dipasang di beberapa titik kawasan pembangunan Bendungan Tamblang. “Saya rasa semua keluhan dari warga itu sifatnya positif, tidak ada yang menolak. Saya sudah meminta kepada BWS Bali-Penida untuk memenuhi segala permintaan warga itu,”  pungkasnya.

Kepala BWS Bali-Penida Maryadi Utama menjelaskan, bendungan ini terletak di empat desa. Yakni Desa Bila (Kecamatan Kubutambahan), Desa Bontihing (Kecamatan Kubutambahan), Desa Bebetin (Kecamatan Sawan), dan Desa Sawan (Kecamatan Sawan), dengan total luas lahan mencapai 73.6 hektare, dengan 212 bidang. Rinciannya, di Desa Sawan 116 bidang seluas 38,59 hektaer, Desa Bebetin 3 bidang 1,49 hektare, Bontihing 39 bidang seluas 6,49 hektare, dan Desa Bila 54 bidang dengan luas lahan 12,2 hektare.

Proyek pembangunan Bendungan Tamblang ini dilaksanakan oleh PT Pembangunan Perumahan. Anggaran yang digunakan berasal dari APBN Kementerian PUPR, sebesar Rp 840 miliar. Bendungan setinggi 68 meter ini memiliki kapasitas tampung mencapai 7.6 juta meter kubik. Bendungan ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air baku sebesar 510 liter per detik di daerah layanan Kecamatan Sawan dan Kecamatan Kubutambahan.  Serta memiliki potensi pembangkit listrik sebesar 0.5 megawatt, dan pengairan irigasi untuk 588 hektare sawah.

Baca Juga :  KBS - Ace Jalani Tes Kesehatan di RS Sanglah

“Kami sangat berterimakasih dengan warga, telah mengizinkan tanahnya untuk dilaksanakan konstruksi, sebelum pembayaran ganti rugi dan seremonial ground breaking dilakukan. Artinya, masyarakat sangat mendukung pekerjaan ini,” terangnya kepada anak media.

Progres pembangunan Bendungan Tamblang, sebut Maryadi, sudah mencapai 21.03 persen. Rinciannya, pembuatan terowongan pengelak sepanjang 31 meter progresnya sudah mencapai 38.016 persen, main dam 5.796 persen, spilway 32.704 persen, bangunan fasilitas umum 9.183 persen, jalan inspeksi 61.716 persen, dan jalan akses 36.146 persen.

“Khusus untuk terowongan pengelak fungsinya untuk mengelakkan air. Setelah terowongan jadi, air baru kami alirkan. Kemudian di bendungan ini juga akan ada jembatan sepanjang 25 meter, lokasinya di hilir. Jembatan itu untuk operasional saja,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, menjelaskan, fungsi utama dari bendungan ini memang sebagai pengairan untuk sektor pertanian. Namun,  juga dapat menyediakan kebutuhan air baku.  Ia melihat sebuah prospek jika ketersediaan air baku yang dihasilkan Bendungan Tamblang sebesar 510 liter per detik dan dikombinasikan dengan air baku yang dihasilkan di wilayah Air Sanih, akan menanggulangi permasalahan kekeringan yang selama ini terjadi di Buleleng bagian Timur.

“Terpenting sekarang adalah Pemerintah akan menjaga hulu dari pada bendungan ini. Agar Pemerintah tidak mubazir sudah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membangun bendungan ini. Karena kontruksi tanah dibawah bendungan ini akan subur sekali dengan adanya bendungan ini,” ujarnya.  

 


Most Read

Artikel Terbaru

/