alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Terpidana Wayan Sujena Serahkan Diri Pasca Sembuh dari Saraf Kejepit

GIANYAR, BALI EXPRESS – Informasi dan pemberitaan mengenai terpidana kasus penipuan I Wayan Sujena, 64, disergap oleh polisi di tengah jalan menuju Ubud, Gianyar, dinilai tidak sesuai dengan kenyataan oleh I Made Widiarta, yang tidak lain merupakan anak terpidana. Sebab menurutnya sang ayah menyerahkan diri langsung ke Polsek Payangan.

Sujena sendiri baru menyerahkan diri karena setelah divonis 1 tahun penjara berdasarkan Putusan Pengadilan Nomor 568/Pid.B/2021/PN.Dps tanggal 9 September 2021 lalu, dirinya mengalami saraf kejepit sehingga harus menjalani terapi. Dan setelah membaik, ia pun menyerahkan diri ke Polsek Payangan.

“Jadi ayah saya menyerahkan diri langsung ke Polsek Payangan, Jumat (4/2) malam secara baik-baik,” ujar Widiarta, Minggu (13/2).

Selanjutnya terpidana diserahkan kepada JPU untuk dilakukan penangkapan. JPU beserta Asisten Bidang Tindak Pidana Umum Kejati Bali kemudian membawa terpidana I Wayan Sujena ke Lapas Kerobokan.

 

Hanya saja, pemberitaan yang ia baca setelah itu justru menyebutkan jika ayahnya disergap di tengah jalan dalam perjalanan dari Payangan menuju Ubud. Padahal menurutnya saat sampai di Polsek Payangan, sang ayah diterima dengan baik oleh polisi yang bertugas. “Tapi berita yang muncul berbeda, ayah saya dikatakan dicegat di jalan,” sambungnya.

Disamping itu, Widiarta juga melihat ada yang ‘aneh’ dalam perkara tersebut. Diantaranya surat pemanggilan terhadap ayahnya justru dibawa oleh pelapor atau korban, I Putu Gde Aspartha Putra. Ada dua surat pemanggilan yakni tanggal 20 Januari 2022 dan 22 Januari 2022. “Surat pemanggilan yang semestinya dibawa oleh pihak dari Kejati Denpasar justru dibawa oleh pelapor yang notabene merupakan lawan dalam perkara ini,” lanjutnya lagi.

Tak hanya itu saja, tanggal 13 Februari 2022 sekitar pukul 23.30 WITA, pelapor datang ke rumah sang ayah di Banjar Singeperang, Desa Buahan Kaja, Payangan, bersama petugas, namun anehnya ketika itu pelapor justru mengatakan kepada keluarganya agar meminta sang ayah untuk bersembunyi. Bahkan istri terpidana diminta mengatakan kepada petugas bahwa terpidana sedang ke Jakarta dan tidak ada di rumah. “Ini yang saya tidak mengerti, ayah saya justru disuruh bersembunyi, aneh sekali,” imbuh anak kedua terpidana tersebut.

Padahal dibalik kesalahan yang telah diperbuat, sang ayah memiliki itikad baik untuk mengembalikan uang korban, sekalipun telah divonis 1 tahun penjara. “Ayah saya sudah dua kali menyerahkan uang ke pelapor setelah divonis, Rp 36 Juta dan Rp 65 Juta, dan itu ada bukti penyerahan uangnya. Dan sebenarnya utang ayah saya Rp. 675 Juta bukan Rp 1,5 Miliar seperti yang ramai diberita,” sebutnya.

Kendatipun menilai ada keanehan, pihaknya mengaku masih akan mempertimbangkan untuk melaporkan balik pelapor.

Ditambahkan oleh penasehat Hukum terpidana, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, dibawanya surat pemanggilan kepada terpidana oleh pelapor atau korban, merupakan suatu keanehan dalam perkara tersebut. “Kenapa bisa pihak lawan yang bawa surat panggilan untuk klien kami. Jadi wajar saja kalau terpidana kurang menanggapi surat pemanggilan itu, dan ini aneh,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa I Wayan Sujena dilaporkan oleh korban I Ptu Gede Asprtha Putra setelah sempat meminjam uang kepada dirinya. Saat korban hendak menagih hutang tersebut, Sujena memberikan tiga lembar cek BRI sebesar masing-masing Rp 300 Juta, Rp 175 Juta, dan Rp 200 Juta. Namun ternyata rekening cek tersebut telah kosong dan tidak ada uang dalam rekening tersebut. Terpidana pun terbukti melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan dan dijatuhi vonis 1 tahun penjara.

Dikonfirmasi terpisah, Kasipenkum Kejati Bali, A. Luga Harlianto menegaskan jika yang bersangkutan memang diamankan di jalan atau luar rumah, dan bukan di Mapolsek Payangan. “Sesuai data lapangan, yang bersangkutan diamankan di luar rumah oleh Polsek Payangan, lalu dibawa ke Polsek Payangan, kemudian diserahkan ke kita, dan dibawa ke Lapas Kerobokan. Tidak ada tuh yang bersangkutan menyerahkan diri. Malahan saat di Polsek Payangan, yang bersangkutan mau cepat-cepat dibawa ke Lapas. Jadi kami harap Sujena berbicara jujur kepada keluarganya,” ungkapnya.

Sedangkan mengenai surat panggilan yang dibawa oleh pelapor untuk disampaikan kepada Sujena, menurutnya hal tersebut tidak masalah. Karena hal tersebut sebagai bentuk bahwa pelapor tidak memiliki dendam pada yang bersangkutan. Bahkan, hal itu akan mempercepat proses yang bersangkutan mau memenuhi panggilan. Terlebih pelapor mengetahui dimana yang bersangkutan tinggal. “Mungkin keluarga tidak tahu bagaimana sulitnya kita memanggil Sujena ini. Sehingga kami harapkan sekali lagi, agar Sujena berkata jujur supaya tidak terjadi miskomunikasi dan tidak menjadi gaduh,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Informasi dan pemberitaan mengenai terpidana kasus penipuan I Wayan Sujena, 64, disergap oleh polisi di tengah jalan menuju Ubud, Gianyar, dinilai tidak sesuai dengan kenyataan oleh I Made Widiarta, yang tidak lain merupakan anak terpidana. Sebab menurutnya sang ayah menyerahkan diri langsung ke Polsek Payangan.

Sujena sendiri baru menyerahkan diri karena setelah divonis 1 tahun penjara berdasarkan Putusan Pengadilan Nomor 568/Pid.B/2021/PN.Dps tanggal 9 September 2021 lalu, dirinya mengalami saraf kejepit sehingga harus menjalani terapi. Dan setelah membaik, ia pun menyerahkan diri ke Polsek Payangan.

“Jadi ayah saya menyerahkan diri langsung ke Polsek Payangan, Jumat (4/2) malam secara baik-baik,” ujar Widiarta, Minggu (13/2).

Selanjutnya terpidana diserahkan kepada JPU untuk dilakukan penangkapan. JPU beserta Asisten Bidang Tindak Pidana Umum Kejati Bali kemudian membawa terpidana I Wayan Sujena ke Lapas Kerobokan.

 

Hanya saja, pemberitaan yang ia baca setelah itu justru menyebutkan jika ayahnya disergap di tengah jalan dalam perjalanan dari Payangan menuju Ubud. Padahal menurutnya saat sampai di Polsek Payangan, sang ayah diterima dengan baik oleh polisi yang bertugas. “Tapi berita yang muncul berbeda, ayah saya dikatakan dicegat di jalan,” sambungnya.

Disamping itu, Widiarta juga melihat ada yang ‘aneh’ dalam perkara tersebut. Diantaranya surat pemanggilan terhadap ayahnya justru dibawa oleh pelapor atau korban, I Putu Gde Aspartha Putra. Ada dua surat pemanggilan yakni tanggal 20 Januari 2022 dan 22 Januari 2022. “Surat pemanggilan yang semestinya dibawa oleh pihak dari Kejati Denpasar justru dibawa oleh pelapor yang notabene merupakan lawan dalam perkara ini,” lanjutnya lagi.

Tak hanya itu saja, tanggal 13 Februari 2022 sekitar pukul 23.30 WITA, pelapor datang ke rumah sang ayah di Banjar Singeperang, Desa Buahan Kaja, Payangan, bersama petugas, namun anehnya ketika itu pelapor justru mengatakan kepada keluarganya agar meminta sang ayah untuk bersembunyi. Bahkan istri terpidana diminta mengatakan kepada petugas bahwa terpidana sedang ke Jakarta dan tidak ada di rumah. “Ini yang saya tidak mengerti, ayah saya justru disuruh bersembunyi, aneh sekali,” imbuh anak kedua terpidana tersebut.

Padahal dibalik kesalahan yang telah diperbuat, sang ayah memiliki itikad baik untuk mengembalikan uang korban, sekalipun telah divonis 1 tahun penjara. “Ayah saya sudah dua kali menyerahkan uang ke pelapor setelah divonis, Rp 36 Juta dan Rp 65 Juta, dan itu ada bukti penyerahan uangnya. Dan sebenarnya utang ayah saya Rp. 675 Juta bukan Rp 1,5 Miliar seperti yang ramai diberita,” sebutnya.

Kendatipun menilai ada keanehan, pihaknya mengaku masih akan mempertimbangkan untuk melaporkan balik pelapor.

Ditambahkan oleh penasehat Hukum terpidana, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, dibawanya surat pemanggilan kepada terpidana oleh pelapor atau korban, merupakan suatu keanehan dalam perkara tersebut. “Kenapa bisa pihak lawan yang bawa surat panggilan untuk klien kami. Jadi wajar saja kalau terpidana kurang menanggapi surat pemanggilan itu, dan ini aneh,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa I Wayan Sujena dilaporkan oleh korban I Ptu Gede Asprtha Putra setelah sempat meminjam uang kepada dirinya. Saat korban hendak menagih hutang tersebut, Sujena memberikan tiga lembar cek BRI sebesar masing-masing Rp 300 Juta, Rp 175 Juta, dan Rp 200 Juta. Namun ternyata rekening cek tersebut telah kosong dan tidak ada uang dalam rekening tersebut. Terpidana pun terbukti melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan dan dijatuhi vonis 1 tahun penjara.

Dikonfirmasi terpisah, Kasipenkum Kejati Bali, A. Luga Harlianto menegaskan jika yang bersangkutan memang diamankan di jalan atau luar rumah, dan bukan di Mapolsek Payangan. “Sesuai data lapangan, yang bersangkutan diamankan di luar rumah oleh Polsek Payangan, lalu dibawa ke Polsek Payangan, kemudian diserahkan ke kita, dan dibawa ke Lapas Kerobokan. Tidak ada tuh yang bersangkutan menyerahkan diri. Malahan saat di Polsek Payangan, yang bersangkutan mau cepat-cepat dibawa ke Lapas. Jadi kami harap Sujena berbicara jujur kepada keluarganya,” ungkapnya.

Sedangkan mengenai surat panggilan yang dibawa oleh pelapor untuk disampaikan kepada Sujena, menurutnya hal tersebut tidak masalah. Karena hal tersebut sebagai bentuk bahwa pelapor tidak memiliki dendam pada yang bersangkutan. Bahkan, hal itu akan mempercepat proses yang bersangkutan mau memenuhi panggilan. Terlebih pelapor mengetahui dimana yang bersangkutan tinggal. “Mungkin keluarga tidak tahu bagaimana sulitnya kita memanggil Sujena ini. Sehingga kami harapkan sekali lagi, agar Sujena berkata jujur supaya tidak terjadi miskomunikasi dan tidak menjadi gaduh,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/