alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Mahasiswa dan Camaba Gerudug Rektorat Unud, Tuntut Hapus Kewajiban Asrama

BADUNG, BALI EXPRESS – Ratusan kelompok gabungan mahasiswa Universitas Udayana mendampingi Calon Mahasiswa Baru (Camaba) dan orang tua untuk melakukan audiensi dengan Rektor I Nyoman Gede Antara. Kedatangan sejumlah mahasiswa pada Rabu (13/4) ini untuk meminta Rektor untuk menghapus wajib asrama bagi Camaba.

 

 

 

Sebelum berhasil bertemu dengan Rektor Antara, rencana gabungan mahasiswa ini akan menggelar aksi demo di depan Rektorat Unud. Namun saat perwakilan mahasiswa dan orang tua Camaba mengajukan ingin mengadakan pertemuan dengan Rektor bersama seluruh massa aksi, permintaan tersebut pun disanggupi oleh Nyoman Gede Antara. Sehingga audiensi pun berlangsung di Gedung Auditorium Widya Sabha.

 

 

 

Meski Rektor Unud telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 6/UN14/SE/2022 yang telah menghapus kewajiban Maba untuk tinggal di asrama, audiensi akan tetap dilakukan. Pasalnya menurut Koordinator Aksi Surya Timur, SE tersebut tidak kuat sebelum adanya surat keterangan yang langsung dipastikan kebenarannya oleh pihak Rektorat.

 

 

“Hari ini kami bersama dengan perwakilan dari beberapa mahasiwsa, lembaga mahasiswa, Camaba dan orang tuanya, yang memang cukup resah dengan isu (wajib asrama bagi Maba) saat ini,” ujar Timur.

 

 

Menurutnya, SE yang dikeluarkan oleh Rektor Unud adalah sebuah bentuk peredaman aksi damai. Namun ia tidak bersedia menerima hal tersebut. Pasalnya selain kewajiban asrama ini sudah dihapuskan, masih ada beberapa tututan yang akan disampaikan.

“Melalui aksi ini kami mempertanyakan bagaimana mekanisme mereka (Maba) yang sudah terlanjur membayar Udayana Integrated Student Dormitory (asrama). Sehingga kami memutuskan tetap melakukan aksi,” ungkapnya didampingi Agrepa.

 

 

Kedua mahasiswa Fakultas Hukum ini pun membeberkan, beberapa tuntutan yang akan disampaikan. Pertama menghapus kewajiban asrama bagi Camaba untuk melalukan registrasi ulang, kedua tinjau kembali tarif asrama yang dikotak-kotakan sesuai tingkatan Uang Kuliah Tunggal (UKT), kemudian pengembalian uang bagi yang sudah terlanjur membayar, dan terakhir registrasi ulang Camaba agar dilakukan secara hybrid.

 

 

Setelah melakukan audiensi dengan sejumlah tututan tersebut, akhirnya seluruhnya diterima oleh Rektor Antara. Hal tersebut dibuktikan dengan penanda tanganan berita acara dari perwakilan mahasiswa dan Rektor Antara.

 

 

Sementara Rektor Unud I Nyoman Gede Antara mengaku menyadari adanya ketidak cocokan dari kebijakan yang telah dibuat. Sehingga pihaknya bersedia akan memperbaiki kebijakan tersebut. Namun ia menekankan keberadaan asrama ini ditujukan untuk mengakomodir mahasiswa yang memerlukan.

“Ia kami akui dan akan perbaiki sesuai dengan keadaan. Tetapi sebenarnya ada tidaknya asrama itu tidak terlalu masalah bagi kami. Saya akan tetap mengawal bagi mereka yang memang memerlukan asrama, tetapi bagi yang tidak membutuhkan silahkan saja,” jelasnya.

 

 

Terkait dengan permintaan pendaftaran ulang secara hybrid, Antara menerangkan, akan disanggupi. Terpenting dalam proses pendaftaran ulang ini dapat dilakukan dengan baik sampai akhirnya sah mendapatkan Nomor Induk Mahasiswa. “Kami mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa yang telah memberikan masukan. Kami pun sangat berempati kepada masyarakat yang memang mendapatkan kesulitan,” terangnya. Seraya mengatakan pendaftaran ulang Camaba dapat dilakukan secara hybrid, dapat datang langsung atau mengirimkan berkasnya kepada Rektorat Unud.

 

 

Lebih lanjut Ia menambahkan, sejatinya untuk harga sewa asrama tersebut ditentukan oleh pihak ketiga. Bahkan uang hasil sewa tersebut tidak ada sepeser pun masuk ke Universitas. “Kami sudah melakukan negosiasi dengan mitra, tetapi sudah mentok disitu. Karena sudah ada hitungannya berapa tahun harus sudah balik modal. Tapi kalau terus kami paksa untuk turun lagi maka pupuslah harapan kami. Tidak ada sama sekali uang yang kami terima,” imbuhnya.

 

 

Seperti diketahui, Rektorat Unud sebelumnya sempat mewajibkan asrama bagi Camaba dengan kapasitas 6.000 tempat tidur. Besaran tarif sewa per bulannya pun dibedakan sesuai kelas. mulai dari executive sebesar Rp 3,5 juta, Private Rp 2,5 juta, Previlege (disabilitas) Rp 2,5 juta, deluxe Rp 1,3, dan superior yang diprioritaskan untuk mahasiswa dengan UKT I,II dan pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebesar Rp 700 ribu.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Ratusan kelompok gabungan mahasiswa Universitas Udayana mendampingi Calon Mahasiswa Baru (Camaba) dan orang tua untuk melakukan audiensi dengan Rektor I Nyoman Gede Antara. Kedatangan sejumlah mahasiswa pada Rabu (13/4) ini untuk meminta Rektor untuk menghapus wajib asrama bagi Camaba.

 

 

 

Sebelum berhasil bertemu dengan Rektor Antara, rencana gabungan mahasiswa ini akan menggelar aksi demo di depan Rektorat Unud. Namun saat perwakilan mahasiswa dan orang tua Camaba mengajukan ingin mengadakan pertemuan dengan Rektor bersama seluruh massa aksi, permintaan tersebut pun disanggupi oleh Nyoman Gede Antara. Sehingga audiensi pun berlangsung di Gedung Auditorium Widya Sabha.

 

 

 

Meski Rektor Unud telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 6/UN14/SE/2022 yang telah menghapus kewajiban Maba untuk tinggal di asrama, audiensi akan tetap dilakukan. Pasalnya menurut Koordinator Aksi Surya Timur, SE tersebut tidak kuat sebelum adanya surat keterangan yang langsung dipastikan kebenarannya oleh pihak Rektorat.

 

 

“Hari ini kami bersama dengan perwakilan dari beberapa mahasiwsa, lembaga mahasiswa, Camaba dan orang tuanya, yang memang cukup resah dengan isu (wajib asrama bagi Maba) saat ini,” ujar Timur.

 

 

Menurutnya, SE yang dikeluarkan oleh Rektor Unud adalah sebuah bentuk peredaman aksi damai. Namun ia tidak bersedia menerima hal tersebut. Pasalnya selain kewajiban asrama ini sudah dihapuskan, masih ada beberapa tututan yang akan disampaikan.

“Melalui aksi ini kami mempertanyakan bagaimana mekanisme mereka (Maba) yang sudah terlanjur membayar Udayana Integrated Student Dormitory (asrama). Sehingga kami memutuskan tetap melakukan aksi,” ungkapnya didampingi Agrepa.

 

 

Kedua mahasiswa Fakultas Hukum ini pun membeberkan, beberapa tuntutan yang akan disampaikan. Pertama menghapus kewajiban asrama bagi Camaba untuk melalukan registrasi ulang, kedua tinjau kembali tarif asrama yang dikotak-kotakan sesuai tingkatan Uang Kuliah Tunggal (UKT), kemudian pengembalian uang bagi yang sudah terlanjur membayar, dan terakhir registrasi ulang Camaba agar dilakukan secara hybrid.

 

 

Setelah melakukan audiensi dengan sejumlah tututan tersebut, akhirnya seluruhnya diterima oleh Rektor Antara. Hal tersebut dibuktikan dengan penanda tanganan berita acara dari perwakilan mahasiswa dan Rektor Antara.

 

 

Sementara Rektor Unud I Nyoman Gede Antara mengaku menyadari adanya ketidak cocokan dari kebijakan yang telah dibuat. Sehingga pihaknya bersedia akan memperbaiki kebijakan tersebut. Namun ia menekankan keberadaan asrama ini ditujukan untuk mengakomodir mahasiswa yang memerlukan.

“Ia kami akui dan akan perbaiki sesuai dengan keadaan. Tetapi sebenarnya ada tidaknya asrama itu tidak terlalu masalah bagi kami. Saya akan tetap mengawal bagi mereka yang memang memerlukan asrama, tetapi bagi yang tidak membutuhkan silahkan saja,” jelasnya.

 

 

Terkait dengan permintaan pendaftaran ulang secara hybrid, Antara menerangkan, akan disanggupi. Terpenting dalam proses pendaftaran ulang ini dapat dilakukan dengan baik sampai akhirnya sah mendapatkan Nomor Induk Mahasiswa. “Kami mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa yang telah memberikan masukan. Kami pun sangat berempati kepada masyarakat yang memang mendapatkan kesulitan,” terangnya. Seraya mengatakan pendaftaran ulang Camaba dapat dilakukan secara hybrid, dapat datang langsung atau mengirimkan berkasnya kepada Rektorat Unud.

 

 

Lebih lanjut Ia menambahkan, sejatinya untuk harga sewa asrama tersebut ditentukan oleh pihak ketiga. Bahkan uang hasil sewa tersebut tidak ada sepeser pun masuk ke Universitas. “Kami sudah melakukan negosiasi dengan mitra, tetapi sudah mentok disitu. Karena sudah ada hitungannya berapa tahun harus sudah balik modal. Tapi kalau terus kami paksa untuk turun lagi maka pupuslah harapan kami. Tidak ada sama sekali uang yang kami terima,” imbuhnya.

 

 

Seperti diketahui, Rektorat Unud sebelumnya sempat mewajibkan asrama bagi Camaba dengan kapasitas 6.000 tempat tidur. Besaran tarif sewa per bulannya pun dibedakan sesuai kelas. mulai dari executive sebesar Rp 3,5 juta, Private Rp 2,5 juta, Previlege (disabilitas) Rp 2,5 juta, deluxe Rp 1,3, dan superior yang diprioritaskan untuk mahasiswa dengan UKT I,II dan pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebesar Rp 700 ribu.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/