alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Bule Bikin Konten Panjat Beringin Minta Maaf kepada Banjar Dakdakan

TABANAN, BALI EXPRESS- Samuel Lockton, warga Negara Asal Australia yang memanjat Pohon Beringin di Areal Setra (kuburan) Banjar Dakdakan, Desa Adat Kelaci Klod, Abian Tuwung, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Senin (13/6) datang ke lokasibpohon beringin untuk meminta maaf.

 

Tiba di lokasi kejadian pukul 10.00 wita dengan diantar pihak Imigrasi Denpasar, Samuel tampak mengenakan pakain adat madia, dengan kain dan kemeja katun. Upacara Prayacita Durmanggala pun langsung digelar dan dipimpin oleh pemangku Pura Dalem Banjar Dakdakan.

 

Samuel Lockton mengaku, bahwa dirinya meminta maaf atas kejadian tersebut dan membuat heboh warga Bali, khususnya Tabanan. Dan atas hal ini dalam waktu dekat dirinya juga akan pulang kembali ke negara asalnya. “I’m Sorry. I Will Be home soon (saya meminta maaf. Dan dalam waktu dekat saya akan pulang),” ucapnya.

 

Sementara itu, Bendesa Adat Klaci Kelod, Gusti Made Astawa menyebutkan saat upacara Samuel memang tidak melakukan persembahyangan di Pura karena keyakinan Samuel yang berbeda. “Iya kami memang tidak memaksakannya untuk sembahyang, karena keyakinannya berbeda, maka dia (Samuel) hanya diperciki tirta saja,” jelasnya.

 

Dilannutkn Astawa, pihaknya tidak akan menggelar upacara Guru Piduka lagi, karena menurut petunjuk pemangku, upacara mereresik dengan sarana Prayascita dan sesayut Durmanggala ini saja sudah cukup.

 

Astawa menyebutkan dari pengakuan Samuel, Samuel memang sengaja memanjat pohon beringin tersebut untuk membuat konten Tiktok dan tidak ada unsur penodaan agama. “Kami sudah memaafkannya, dan dia datang ke prosesi mereresik ini, memang atas keinginannya sendiri, dia datang untuk minta maaf,” ungkapnya.

 

Atas kejadian tersebut, Astawa menyebutkan untuk kedepannya pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap kawasan suci disekitar Desa Adat Kelaci Klod. Salah satunya adalah dengan memasang papan tang bertuliskan larangan untuk memasuki pura jika tidak melakukan persembahyangan.

 

“Dulu papan bertulisan larangan dan pagar sudah tersedia, namun karena akar beringun yang semakin lebat, maka pagarnya ambruk dan papan bertulisan larangannya juga lapuk di makan usia, untuk kedepannya kami akan memasang kembali dan akan melakukan paruman desa terlebih dahulu,” tutupnya.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

TABANAN, BALI EXPRESS- Samuel Lockton, warga Negara Asal Australia yang memanjat Pohon Beringin di Areal Setra (kuburan) Banjar Dakdakan, Desa Adat Kelaci Klod, Abian Tuwung, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Senin (13/6) datang ke lokasibpohon beringin untuk meminta maaf.

 

Tiba di lokasi kejadian pukul 10.00 wita dengan diantar pihak Imigrasi Denpasar, Samuel tampak mengenakan pakain adat madia, dengan kain dan kemeja katun. Upacara Prayacita Durmanggala pun langsung digelar dan dipimpin oleh pemangku Pura Dalem Banjar Dakdakan.

 

Samuel Lockton mengaku, bahwa dirinya meminta maaf atas kejadian tersebut dan membuat heboh warga Bali, khususnya Tabanan. Dan atas hal ini dalam waktu dekat dirinya juga akan pulang kembali ke negara asalnya. “I’m Sorry. I Will Be home soon (saya meminta maaf. Dan dalam waktu dekat saya akan pulang),” ucapnya.

 

Sementara itu, Bendesa Adat Klaci Kelod, Gusti Made Astawa menyebutkan saat upacara Samuel memang tidak melakukan persembahyangan di Pura karena keyakinan Samuel yang berbeda. “Iya kami memang tidak memaksakannya untuk sembahyang, karena keyakinannya berbeda, maka dia (Samuel) hanya diperciki tirta saja,” jelasnya.

 

Dilannutkn Astawa, pihaknya tidak akan menggelar upacara Guru Piduka lagi, karena menurut petunjuk pemangku, upacara mereresik dengan sarana Prayascita dan sesayut Durmanggala ini saja sudah cukup.

 

Astawa menyebutkan dari pengakuan Samuel, Samuel memang sengaja memanjat pohon beringin tersebut untuk membuat konten Tiktok dan tidak ada unsur penodaan agama. “Kami sudah memaafkannya, dan dia datang ke prosesi mereresik ini, memang atas keinginannya sendiri, dia datang untuk minta maaf,” ungkapnya.

 

Atas kejadian tersebut, Astawa menyebutkan untuk kedepannya pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap kawasan suci disekitar Desa Adat Kelaci Klod. Salah satunya adalah dengan memasang papan tang bertuliskan larangan untuk memasuki pura jika tidak melakukan persembahyangan.

 

“Dulu papan bertulisan larangan dan pagar sudah tersedia, namun karena akar beringun yang semakin lebat, maka pagarnya ambruk dan papan bertulisan larangannya juga lapuk di makan usia, untuk kedepannya kami akan memasang kembali dan akan melakukan paruman desa terlebih dahulu,” tutupnya.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/