alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Belasan Pedagang Pasar Abiantimbul Tolak Ikuti Swab Kedua

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar menolak untuk mengikuti swab test untuk yang kedua kalinya. Sebanyak 19 pedagang pasar tersebut protes, lantaran hasil swab pertama yang mereka ikuti negatif dan baru keluar tanggal 10 Juli. Ketika diminta untuk melakukan swab test tahap II, beberapa di antaranya mengeluhkan ketidaknyamanan saat dilakukan swab. Mereka merasa tidak nyaman ketika hidung mereka dimasukkan alat test.

Direktur Umum Perumda Pasar Sewaka Dharma Kota Denpasar, Anak Agung Yuliarta mengatakan, pada tanggal 12 Juli terdapat satu orang pedagang ikan yang tidak berjualan karena sakit demam berdarah (DB). Karena lama tak kunjung sembuh, akhirnya dilakukan swab test dan hasilnya positif. Tidak hanya itu, suaminya juga turut dinyatakan positif. “Karena positif, kami melakukan tracing kepada pedagang di radius 10 meter. Dari hasil tracing tersebut, kami temukan 25 orang pedagang yang kontak erat dengan pedagang tersebut,” katanya.

Pada tanggal 3 Juli, para pedagang yang berjumlah 25 orang tersebut menjalani swab test. Dari hasil swab, ditemukan 6 orang positif. Pihak pasar pun kembali melakukan tracking terhadap pedagang yang berada di radius 10 meter dan ditemukan ada 16 orang pedagang yang harusnya menjalani swab test.

Pihak Puskesmas yang akan melakukan swab meminta agar pedagang yang sudah dinyatakan negatif sebelumnya (sebanyak 19 orang) agar mengikuti swab kembali. Alasannya, karena 19 orang pedagang ini tak melakukan isolasi mandiri dan tetap berjualan selama hasil swab belum keluar. “Dari pihak Puskesmas Denpasar Barat II meminta mereka melakukan swab lagi. Namun pedagang itu menolak. Alasannya karena hidung mereka masih sakit pasca dites pada tanggal 3 Juli,” kata dia.

Di sisi lain Dirut Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, Ida Bagus Kompyang Wiranata merasa janggal dengan peristiwa tersebut. Karena 19 pedagang ini komplain, maka 16 pedagang yang harusnya ikut swab terpengaruh sehingga pelaksanaan swab pun ditunda. Alasan pihak Puskesmas untuk melakukan swab kepada 19 pedagang yang sebelumnya sudah negatif, karena sebelum hasil swab mereka keluar, pedagang ini tetap berjualan.

“Ini kan aneh, padahal SOP kami tidak demikian. Kami tidak memberikan mereka berjualan jika hasil tes swab positif atau rapidnya reaktif. Yang kedua jika mereka melanggar, mereka berada pada radius 10 meter dengan pedagang yang positif dan menolak untuk ikut tes, maka kami minta mereka melakukan isolasi mandiri 14 hari. Ini aneh sekali dan seperti membebankan komplain pedagang kepada Perumda,” kata Kompyang.

Kompyang menambahkan, pihaknya tidak akan memaksa 19 pedagang yang hasil swabnya negatif untuk ikut swab lagi. Untuk pelaksanaan swab kepada 16 orang pedagang ini akan dikoordinasikan lebih lanjut. “Kalau menurut saya, yang sudah diswab tidak usah dipaksakan untuk ikut swab yang kedua lagi. Yang 16 orang dari hasil tracing ini baru wajib untuk ikut tes. Kalau memang harus isolasi mandiri, Gugus Tugas Koordinasi dengan Satgas masing-masing desa. Kan ada nama-nama pedagangnya. Jika misalnya kami tidak izinkan berjualan, di rumahnya mereka kan tetap berkeliaran ke mana-mana, jika tak diawasi Satgas desa atau kelurahannya. Ini kan tidak sinkron jadinya. Harusnya ada koordinasi,” sambungnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar menolak untuk mengikuti swab test untuk yang kedua kalinya. Sebanyak 19 pedagang pasar tersebut protes, lantaran hasil swab pertama yang mereka ikuti negatif dan baru keluar tanggal 10 Juli. Ketika diminta untuk melakukan swab test tahap II, beberapa di antaranya mengeluhkan ketidaknyamanan saat dilakukan swab. Mereka merasa tidak nyaman ketika hidung mereka dimasukkan alat test.

Direktur Umum Perumda Pasar Sewaka Dharma Kota Denpasar, Anak Agung Yuliarta mengatakan, pada tanggal 12 Juli terdapat satu orang pedagang ikan yang tidak berjualan karena sakit demam berdarah (DB). Karena lama tak kunjung sembuh, akhirnya dilakukan swab test dan hasilnya positif. Tidak hanya itu, suaminya juga turut dinyatakan positif. “Karena positif, kami melakukan tracing kepada pedagang di radius 10 meter. Dari hasil tracing tersebut, kami temukan 25 orang pedagang yang kontak erat dengan pedagang tersebut,” katanya.

Pada tanggal 3 Juli, para pedagang yang berjumlah 25 orang tersebut menjalani swab test. Dari hasil swab, ditemukan 6 orang positif. Pihak pasar pun kembali melakukan tracking terhadap pedagang yang berada di radius 10 meter dan ditemukan ada 16 orang pedagang yang harusnya menjalani swab test.

Pihak Puskesmas yang akan melakukan swab meminta agar pedagang yang sudah dinyatakan negatif sebelumnya (sebanyak 19 orang) agar mengikuti swab kembali. Alasannya, karena 19 orang pedagang ini tak melakukan isolasi mandiri dan tetap berjualan selama hasil swab belum keluar. “Dari pihak Puskesmas Denpasar Barat II meminta mereka melakukan swab lagi. Namun pedagang itu menolak. Alasannya karena hidung mereka masih sakit pasca dites pada tanggal 3 Juli,” kata dia.

Di sisi lain Dirut Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, Ida Bagus Kompyang Wiranata merasa janggal dengan peristiwa tersebut. Karena 19 pedagang ini komplain, maka 16 pedagang yang harusnya ikut swab terpengaruh sehingga pelaksanaan swab pun ditunda. Alasan pihak Puskesmas untuk melakukan swab kepada 19 pedagang yang sebelumnya sudah negatif, karena sebelum hasil swab mereka keluar, pedagang ini tetap berjualan.

“Ini kan aneh, padahal SOP kami tidak demikian. Kami tidak memberikan mereka berjualan jika hasil tes swab positif atau rapidnya reaktif. Yang kedua jika mereka melanggar, mereka berada pada radius 10 meter dengan pedagang yang positif dan menolak untuk ikut tes, maka kami minta mereka melakukan isolasi mandiri 14 hari. Ini aneh sekali dan seperti membebankan komplain pedagang kepada Perumda,” kata Kompyang.

Kompyang menambahkan, pihaknya tidak akan memaksa 19 pedagang yang hasil swabnya negatif untuk ikut swab lagi. Untuk pelaksanaan swab kepada 16 orang pedagang ini akan dikoordinasikan lebih lanjut. “Kalau menurut saya, yang sudah diswab tidak usah dipaksakan untuk ikut swab yang kedua lagi. Yang 16 orang dari hasil tracing ini baru wajib untuk ikut tes. Kalau memang harus isolasi mandiri, Gugus Tugas Koordinasi dengan Satgas masing-masing desa. Kan ada nama-nama pedagangnya. Jika misalnya kami tidak izinkan berjualan, di rumahnya mereka kan tetap berkeliaran ke mana-mana, jika tak diawasi Satgas desa atau kelurahannya. Ini kan tidak sinkron jadinya. Harusnya ada koordinasi,” sambungnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/