alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Kasus Tanah Pujiama Masih Bergulir, Ada Indikasi Permainan Mafia

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus tanah Ketut Gede Pujiama yang diklaim secara sepihak oleh Wayan Padma masih bergulir di Polda Bali. Pada Senin (13/7), Ditreskrimum Polda Bali memeriksa Ketut Pujiama dalam laporan pemalsuan kuitansi yang diduga dilakukan oleh pihak Wayan Padma.

Seusai pemeriksaan yang berlangsung selama dua jam, kuasa hukum Pujiama, Wihartono menerangkan, ada 22 pertanyaan yang ditanyakan penyidik kepada Pujiama. “Ada 22 pertanyaan seputar lahan tersebut, termasuk tentang tanda tangan Kadus Banjar Sari dan Lurah Sesetan atas penguasaan tanah secara sporadik juga diperdalam,” beber Wihartono.

Setelah dilakukan pendalaman oleh penyidik, ternyata terungkap fakta bahwa tanah yang diklaim secara sepihak oleh Padma lebih banyak dari yang diduga sebelumnya. “Ada 670 M2 yang diklaim secara sepihak, itu hampir 7 are. Dia mengklaim berdasarkan kuitansi palsu tahun 1990, di kuitansi itu tertanggal 1 Januari 1990 dengan luas tanah 600 M2 yang katanya dia beli seharga Rp 60 juta. Dari sana saja tidak sesuai padahal tanah tersebut luasnya 670 M2,” beber Wihartono.

Dalam kasus pengklaiman yang dilakukan Padma, diduga ada permainan mafia tanah sehingga sertifikat dari pihak Padma bisa terbit. “Nanti pasti terbongkar siapa yang bermain,” tandasnya.

Selain melakukan pengklaiman, Padma juga memaksa warga yang menempati lahan tersebut untuk pergi dengan cara paksa. “Salah satu warga bernama Hadi yang mengontrak lahan Pujiama hingga tahun 2047 disuruh pergi,” ungkap Wihartono. Pihaknya berharap Polda Bali segera membongkar kasus ini agar para korban tidak semakin banyak.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus tanah Ketut Gede Pujiama yang diklaim secara sepihak oleh Wayan Padma masih bergulir di Polda Bali. Pada Senin (13/7), Ditreskrimum Polda Bali memeriksa Ketut Pujiama dalam laporan pemalsuan kuitansi yang diduga dilakukan oleh pihak Wayan Padma.

Seusai pemeriksaan yang berlangsung selama dua jam, kuasa hukum Pujiama, Wihartono menerangkan, ada 22 pertanyaan yang ditanyakan penyidik kepada Pujiama. “Ada 22 pertanyaan seputar lahan tersebut, termasuk tentang tanda tangan Kadus Banjar Sari dan Lurah Sesetan atas penguasaan tanah secara sporadik juga diperdalam,” beber Wihartono.

Setelah dilakukan pendalaman oleh penyidik, ternyata terungkap fakta bahwa tanah yang diklaim secara sepihak oleh Padma lebih banyak dari yang diduga sebelumnya. “Ada 670 M2 yang diklaim secara sepihak, itu hampir 7 are. Dia mengklaim berdasarkan kuitansi palsu tahun 1990, di kuitansi itu tertanggal 1 Januari 1990 dengan luas tanah 600 M2 yang katanya dia beli seharga Rp 60 juta. Dari sana saja tidak sesuai padahal tanah tersebut luasnya 670 M2,” beber Wihartono.

Dalam kasus pengklaiman yang dilakukan Padma, diduga ada permainan mafia tanah sehingga sertifikat dari pihak Padma bisa terbit. “Nanti pasti terbongkar siapa yang bermain,” tandasnya.

Selain melakukan pengklaiman, Padma juga memaksa warga yang menempati lahan tersebut untuk pergi dengan cara paksa. “Salah satu warga bernama Hadi yang mengontrak lahan Pujiama hingga tahun 2047 disuruh pergi,” ungkap Wihartono. Pihaknya berharap Polda Bali segera membongkar kasus ini agar para korban tidak semakin banyak.


Most Read

Artikel Terbaru

/