alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Pemakaman Jenazah Probable Wajib Ikuti Prosedur Covid-19

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Aksi penolakan masyarakat terhadap rumah sakit yang akan menangani jenazah kasus probable maupun konfirmasi dengan prosedur penanganan Covid-19 tak bisa didiamkan. Pemerintah Karangasem memandang hal tersebut tidak bisa dibenarkan karena upaya pemerintah mencegah terjadinya transmisi wajib didukung.

Kepala Dinas Kesehatan Karangasem dr. I Gusti Bagus Putra Pertama menyayangkan peristiwa penolakan tersebut. Seperti diketahui, warga yang menolak jenazah keluarganya yang berstatus probable pernah terjadi beberapa kali. Masyarakat menolak penanganan dilakukan dengan prosedur Covid-19 dan meminta jenazah anggota keluarganya dipulangkan untuk dilakukan prosesi upacara sebagaimana mestisnya.

Untuk diketahui, kasus probable adalah kasus suspek dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau yang meninggal dunia dengan diagnosis yang diyakini sebagai Covid-19. Namun belum ada hasil pemeriksaan laboratorium baik rapid test dan swab PCR untuk menyatakan bahwa pasien terkonfirmasi.

Baca Juga :  Bahaya Berita Hoax Covid-19 yang Bisa Menghancurkan Hidupmu

“Setiap kasus kematian probable maupun konfirmasi harus dikelola sesuai protokol Covid-19. Semangatnya untuk mencegah penyebaran,” jelas Bagus Putra Pertama. Menurutnya, dalam masa pandemi, pencegahan penyebaran virus adalah yang paling penting.

Terlebih, setiap kasus kematian yang mengarah indikasi Covid-19, wajib mendapat penanganan khusus. “Misalnya kasus (kematian) probable, jika diturunkan penanganannya ke bawah sesuai normal, risiko penularannya besar,” ucapnya.

Namun sebaliknya, menurut Putra Pertama, jika penanganannya dilakukan dengan prosedur ketat, akan lebih baik karena sebagai upaya pencegahan. “Walaupun misalnya harus menunggu hasil lab (swab PCR), bukan itu masalahnya. Begitu didiagnosa probable, atau konfirmasi, protokol harus diterapkan sesuai amanat,” tegas birokrat asal Kecanatan Sidemen itu.

Karangasem masih mencatatkan kasus kematian probable 20 kasus dan kematian terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak delapan kasus, per Kamis (13/8). Hal ini tentu menjadi atensi pemerintah agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan demi menekan angka kasus. 

Baca Juga :  Tetap Terapkan Prokes, Siswa di Gianyar Sumringah Mulai PTM

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Aksi penolakan masyarakat terhadap rumah sakit yang akan menangani jenazah kasus probable maupun konfirmasi dengan prosedur penanganan Covid-19 tak bisa didiamkan. Pemerintah Karangasem memandang hal tersebut tidak bisa dibenarkan karena upaya pemerintah mencegah terjadinya transmisi wajib didukung.

Kepala Dinas Kesehatan Karangasem dr. I Gusti Bagus Putra Pertama menyayangkan peristiwa penolakan tersebut. Seperti diketahui, warga yang menolak jenazah keluarganya yang berstatus probable pernah terjadi beberapa kali. Masyarakat menolak penanganan dilakukan dengan prosedur Covid-19 dan meminta jenazah anggota keluarganya dipulangkan untuk dilakukan prosesi upacara sebagaimana mestisnya.

Untuk diketahui, kasus probable adalah kasus suspek dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau yang meninggal dunia dengan diagnosis yang diyakini sebagai Covid-19. Namun belum ada hasil pemeriksaan laboratorium baik rapid test dan swab PCR untuk menyatakan bahwa pasien terkonfirmasi.

Baca Juga :  Waspada Cacar Monyet, Begini Cara Penularan dan Pencegahannya!

“Setiap kasus kematian probable maupun konfirmasi harus dikelola sesuai protokol Covid-19. Semangatnya untuk mencegah penyebaran,” jelas Bagus Putra Pertama. Menurutnya, dalam masa pandemi, pencegahan penyebaran virus adalah yang paling penting.

Terlebih, setiap kasus kematian yang mengarah indikasi Covid-19, wajib mendapat penanganan khusus. “Misalnya kasus (kematian) probable, jika diturunkan penanganannya ke bawah sesuai normal, risiko penularannya besar,” ucapnya.

Namun sebaliknya, menurut Putra Pertama, jika penanganannya dilakukan dengan prosedur ketat, akan lebih baik karena sebagai upaya pencegahan. “Walaupun misalnya harus menunggu hasil lab (swab PCR), bukan itu masalahnya. Begitu didiagnosa probable, atau konfirmasi, protokol harus diterapkan sesuai amanat,” tegas birokrat asal Kecanatan Sidemen itu.

Karangasem masih mencatatkan kasus kematian probable 20 kasus dan kematian terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak delapan kasus, per Kamis (13/8). Hal ini tentu menjadi atensi pemerintah agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan demi menekan angka kasus. 

Baca Juga :  Kariyasa Adnyana Serahkan APD untuk RS Pratama Giri Emas

Most Read

Artikel Terbaru

/