alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Kadek Sepi Merintih, Mulutnya Dibekap hingga Lemas lalu Tewas

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Kasus dugaan penganiayaan dalam keluarga yang dialami I Kadek Sepi, anak 13 tahun asal Banjar Babakan, Desa Purwa Kerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, itu menjadi sorotan masyarakat. Bukti-bukti adanya perlakuan kekerasan oleh tersangka I Nengah Kicen, ayah korban, perlahan-lahan terungkap.

BACA JUGA: Tak Dibantu Menyabit, Kicen Aniaya Anaknya sampai Meninggal

Hasil pemeriksaan dan olah TKP, kronologis meninggalnya siswa kelas VI SD itu terungkap tragis. Kepada penyidik, tersangka menjelaskan sempat membekap mulut dan hidung anaknya sendiri memakai kain baju yang sebelumnya dikenakan korban. Kicen melakukan itu lantaran I Kadek Sepi merintih kesakitan sebelum akhirnya meninggal, Selasa (21/9) sekitar pukul 18.00.

Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna kepada awak media menjelaskan, korban merintih kesakitan setelah mendapat tindakan kekerasan di bagian kepala dan leher. Peristiwa itu terjadi siang hari sepulang tersangka mencari rumput. Pria 32 tahun itu diduga memukul bagian kepala, lalu leher anaknya lebih dulu memakai mainan pedang kayu sepanjang 56 cm.

Barulah pada tindakan kedua, tersangka dengan cepat memukul leher korban dengan tongkat bambu. Kadek Sepi ambruk hingga kejang. “Korban saat dipukul teriak keras sekitar 5 menit, lalu tersangka mengambil kain. Mulut dan hidung korban dibekap agar teriakannya tidak terdengar. Suara korban mulai pelan, sampai lemas,” terang kapolres, Rabu (13/10).

Menurut polisi, tindakan tersebut yang menyebabkan korban meninggal meski tidak langsung. Korban selama beberapa jam sekarat, mengalami muntah-muntah di dalam kamar. Polisi sudah mencocokkan beberapa petunjuk, barang bukti, serta keterangan saksi dengan hasil resmi otopsi jenazah oleh tim forensik. Ada indikasi penganiayaan pada leher korban.

Hasil pemeriksaan polisi ini tentu berbanding terbalik dengan pengakuan orang tua korban sebelumnya. Terutama Nengah Kicen sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Pihak keluarga menyebut anaknya meninggal karena sakit saat bermain dengan adiknya. Kemudian jatuh hingga kepala membentur lantai sebabkan kejang dan sesak napas.

Mengenai itu, tim penyidik Satreskrim Polres Karangasem masih melakukan pengembangan. “Kami fokus pada pemeriksaan tersangka. Untuk pemeriksaan istrinya masih dilakukan. Ini masih berkembang dan status istri tersangka juga masih saksi,” tukas Ricko Taruna.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Kasus dugaan penganiayaan dalam keluarga yang dialami I Kadek Sepi, anak 13 tahun asal Banjar Babakan, Desa Purwa Kerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, itu menjadi sorotan masyarakat. Bukti-bukti adanya perlakuan kekerasan oleh tersangka I Nengah Kicen, ayah korban, perlahan-lahan terungkap.

BACA JUGA: Tak Dibantu Menyabit, Kicen Aniaya Anaknya sampai Meninggal

Hasil pemeriksaan dan olah TKP, kronologis meninggalnya siswa kelas VI SD itu terungkap tragis. Kepada penyidik, tersangka menjelaskan sempat membekap mulut dan hidung anaknya sendiri memakai kain baju yang sebelumnya dikenakan korban. Kicen melakukan itu lantaran I Kadek Sepi merintih kesakitan sebelum akhirnya meninggal, Selasa (21/9) sekitar pukul 18.00.

Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna kepada awak media menjelaskan, korban merintih kesakitan setelah mendapat tindakan kekerasan di bagian kepala dan leher. Peristiwa itu terjadi siang hari sepulang tersangka mencari rumput. Pria 32 tahun itu diduga memukul bagian kepala, lalu leher anaknya lebih dulu memakai mainan pedang kayu sepanjang 56 cm.

Barulah pada tindakan kedua, tersangka dengan cepat memukul leher korban dengan tongkat bambu. Kadek Sepi ambruk hingga kejang. “Korban saat dipukul teriak keras sekitar 5 menit, lalu tersangka mengambil kain. Mulut dan hidung korban dibekap agar teriakannya tidak terdengar. Suara korban mulai pelan, sampai lemas,” terang kapolres, Rabu (13/10).

Menurut polisi, tindakan tersebut yang menyebabkan korban meninggal meski tidak langsung. Korban selama beberapa jam sekarat, mengalami muntah-muntah di dalam kamar. Polisi sudah mencocokkan beberapa petunjuk, barang bukti, serta keterangan saksi dengan hasil resmi otopsi jenazah oleh tim forensik. Ada indikasi penganiayaan pada leher korban.

Hasil pemeriksaan polisi ini tentu berbanding terbalik dengan pengakuan orang tua korban sebelumnya. Terutama Nengah Kicen sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Pihak keluarga menyebut anaknya meninggal karena sakit saat bermain dengan adiknya. Kemudian jatuh hingga kepala membentur lantai sebabkan kejang dan sesak napas.

Mengenai itu, tim penyidik Satreskrim Polres Karangasem masih melakukan pengembangan. “Kami fokus pada pemeriksaan tersangka. Untuk pemeriksaan istrinya masih dilakukan. Ini masih berkembang dan status istri tersangka juga masih saksi,” tukas Ricko Taruna.


Most Read

Artikel Terbaru

/