alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Saksi Anak Bunuh Ayah Beri Kesaksian, Tuntutan Terdakwa Jadi Ringan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus pembunuhan terhadap ayah kandung di desa Sanggalangit, Buleleng, Bali, memasuki sidang tuntutan. Di atas kursi pesakitan, terdakwa Gede Darmika duduk termenung. Ia nampak menyesali perbuatannya.

Pada persidangan Jaksa Penuntut Umun (JPU), I Nyoman Tri Suryabuana membacakan tuntutannya. Gede Darkmika dituntut 5 tahun penjara. Tuntutan itu tergolong ringan dibandingakan dengan kasus serupa yang mengharuskan terdakwa mendekam selama puluhan tahun di balik jeruji besi.

Pada pembacaan JPU, Gede Darmika dinyatakan bersalah, tapi kesaksian yang dihadirkan dalam persidangan meringankan tuntutan terdakwa.

Terkait tuntutan yang dijatuhkan kepada terdakwa Gede Darmika, Kasi Intel Kejari Buleleng Anak Agung Ngurah Jayalantara mengatakan, terdapat pertimbangan-pertimbangan yang meringankan.

Disebutkan Gede Darmika adalah keluarga dekat korban serta kesaksian dari para saksi yang dihadirkan pada persidangan Senin (29/11) siang. “Bahwa yang bersangkutan adalah masih keluarga. Dan dalam persidangan beretikad baik, mengakui perbuatannya. Dari saksi yang didatangkan juga menunjukkan fakta bahwa permasalahan adu mulut itu sering terjadi. Karena awal mulanya memang dari korban. Itu yang kami dapat dari info persidangan sehingga itu yang menjadi salah satu pertimbangannya. Penyebab tragedi itu juga disebabkan oleh korban,” kata dia.

Selain itu, pernyataan saksi-saksi yang juga menyalahkan korban menjadi faktor pertimbangan keringanan hukuman bagi Gede Darmika. “Belum tentu semuanya ringan. Kami memperhatikan juga sebab akibat. Serta pernyataan dari saksi di persidangan. Dan saat itu kesaksian saksi justru juga menyalahkan korban. Pelaku tetap bersalah namun dari pihak keluarga juga turut menyalahkan korban. Dan tidak sepenuhnya menyalahkan tersangka. Pelaku juga menjadi tulang punggung keluarga. Harus menafkai keluarga dan ibunya,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa penganiayaan hingga menyebabkan orang meninggal dunia terjadi di Banjar Dinas Kayuputih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak. Penganiayaan sadis itu menewaskan Wayan Purna, 72 di rumahnya. Pelaku penganiayaan tak lain adalah anak kandung korban yakni Gede Darmika, 50. Kejadian yang menggegerkan warga itu terjadi sekitar pukul 15.00 wita, Senin (17/5).

 

Menurut keterangan dari Kepala Desa Sanggalangit, Nyoman Sudika, pelaku Gede Darmika menghabisi nyawa ayahnya dengan menggunakan besi semacam linggis. Dari keterangan warganya, pelaku dan dan korban sebelumnya menghadiri hajatan di rumah tetangga. Di tempat tersebut diketahui korban dan pelaku sama-sama menikmati minuman beralkohol. Kemudian ketika pulang, keduanya bersitegang.

“Kalau kronologi jelasnya kami masih belum mengetahui. Yang jelas dari penuturan warga, keduanya sempat minum bareng di rumah orang meninggal. Di tetangga. Tapi kemudian tiba-tiba sudah begini,” ujarnya saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Grup) via telepon. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus pembunuhan terhadap ayah kandung di desa Sanggalangit, Buleleng, Bali, memasuki sidang tuntutan. Di atas kursi pesakitan, terdakwa Gede Darmika duduk termenung. Ia nampak menyesali perbuatannya.

Pada persidangan Jaksa Penuntut Umun (JPU), I Nyoman Tri Suryabuana membacakan tuntutannya. Gede Darkmika dituntut 5 tahun penjara. Tuntutan itu tergolong ringan dibandingakan dengan kasus serupa yang mengharuskan terdakwa mendekam selama puluhan tahun di balik jeruji besi.

Pada pembacaan JPU, Gede Darmika dinyatakan bersalah, tapi kesaksian yang dihadirkan dalam persidangan meringankan tuntutan terdakwa.

Terkait tuntutan yang dijatuhkan kepada terdakwa Gede Darmika, Kasi Intel Kejari Buleleng Anak Agung Ngurah Jayalantara mengatakan, terdapat pertimbangan-pertimbangan yang meringankan.

Disebutkan Gede Darmika adalah keluarga dekat korban serta kesaksian dari para saksi yang dihadirkan pada persidangan Senin (29/11) siang. “Bahwa yang bersangkutan adalah masih keluarga. Dan dalam persidangan beretikad baik, mengakui perbuatannya. Dari saksi yang didatangkan juga menunjukkan fakta bahwa permasalahan adu mulut itu sering terjadi. Karena awal mulanya memang dari korban. Itu yang kami dapat dari info persidangan sehingga itu yang menjadi salah satu pertimbangannya. Penyebab tragedi itu juga disebabkan oleh korban,” kata dia.

Selain itu, pernyataan saksi-saksi yang juga menyalahkan korban menjadi faktor pertimbangan keringanan hukuman bagi Gede Darmika. “Belum tentu semuanya ringan. Kami memperhatikan juga sebab akibat. Serta pernyataan dari saksi di persidangan. Dan saat itu kesaksian saksi justru juga menyalahkan korban. Pelaku tetap bersalah namun dari pihak keluarga juga turut menyalahkan korban. Dan tidak sepenuhnya menyalahkan tersangka. Pelaku juga menjadi tulang punggung keluarga. Harus menafkai keluarga dan ibunya,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa penganiayaan hingga menyebabkan orang meninggal dunia terjadi di Banjar Dinas Kayuputih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak. Penganiayaan sadis itu menewaskan Wayan Purna, 72 di rumahnya. Pelaku penganiayaan tak lain adalah anak kandung korban yakni Gede Darmika, 50. Kejadian yang menggegerkan warga itu terjadi sekitar pukul 15.00 wita, Senin (17/5).

 

Menurut keterangan dari Kepala Desa Sanggalangit, Nyoman Sudika, pelaku Gede Darmika menghabisi nyawa ayahnya dengan menggunakan besi semacam linggis. Dari keterangan warganya, pelaku dan dan korban sebelumnya menghadiri hajatan di rumah tetangga. Di tempat tersebut diketahui korban dan pelaku sama-sama menikmati minuman beralkohol. Kemudian ketika pulang, keduanya bersitegang.

“Kalau kronologi jelasnya kami masih belum mengetahui. Yang jelas dari penuturan warga, keduanya sempat minum bareng di rumah orang meninggal. Di tetangga. Tapi kemudian tiba-tiba sudah begini,” ujarnya saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Grup) via telepon. 


Most Read

Artikel Terbaru

/