alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Komisi III DPRD Gianyar Bidik Pengusaha yang Curang Gunakan ABT

GIANYAR, BALI EXPRESS – Komisi III DPRD Gianyar melakukan sidak ke sejumlah perusahaan pembuatan beton yang ada di Bypass Ida Bagus Mantra, Kamis (14/4). Sidak dilakukan untuk menekan penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) lantaran belakangan ini penggunaan ABT massif sehingga dikhawatirkan berdampak pada ekosistem alam.

 

Rombongan DPRD Gianyar yang melakukan sidak bersama Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Gianyar tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Putu Gede Pebriantara. Adapun tiga perusahaan yang didatangi diantaranya PT Redimix Teguh Karyabrahardjo, PT Adutya Sinar Pratama, dan PT Sukses Epamet.

 

“Tujuan kita melakukan kegiatan ini bukan semata-mata untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gianyar, tapi yang utama adalah konservasi alam,” tegas politisi PDIP tersebut.

 

Sebab, pihaknya ingin agar penggunaan ABT dilakukan secara bijak. Karena jika penggunaan ABT tidak dikontrol maka akan berdampak pada berkurangnya volume ABT dan mengancam kelangsungan kehidupan di masa depan. “Sedangkan untuk meningkatkan potensi PAD, penggunaan ABT harus memiliki izin. Sehingga dalam kegiatan ini kita juga cek izin penggunaan ABT, apakah mereka selama ini sudah membayar pajak ABT atau belum,” paparnya.

Dan hasilnya ketiga perusahaan itu sudah memiliki izin. Namun pihaknya tetap memberikan catatan kepada ketiga perusahaan tersebut. Diantaranya adalah saran untuk mengganti watermeter, maupun memasang watermeter bagi yang belum memiliki watermeter. “Tanpa watermeter mereka hanya mengandalkan perkiraan untuk membayar pajaknya. Jadi kita rekomendasikan pakai watermeter,” sebutnya.

 

Sedangkan satu diantara tiga perusahaan itu disarankan untuk beralih menggunakan PDAM lantaran menggunakan ABT hanya untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Kedepannya, pihaknya juga akan melakukan sidak ke lokasi lain diantaranya adalah restoran, villa dan lainnya. Sebab pihaknya tidak ingin ada kecurangan dalam penggunaan ABT. “Kami tidak mau ada perusahaan yang curang banyak yang bodong, misalnya dia menggunakan ABT tapi tidak memiliki izin, jadinya mereka tidak bayar pajak. Selain itu kita takut mereka bayar pajaknya satu tapi ternyata mereka punya 3 unit sumur bor, itu kan merugikan kita,” tegas Pebriantara.

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika target PAD dari ABT memang tidak besar yakni Rp 5 Miliar, namun setiap tahunnya target itu tercapai. Namun disisi lain pihaknya ingin membatasi penggunaan ABT karena dapat membahayakan hingga mengurangi pasokan air kedepannya. “Jadi sarankan kami, gunakan air permukaan, dan penggunaan ABT harus bijak. Dari kami juga selain fokus ke PAD, sumber daya alam juga harus tetap dilestarikan,” pungkasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Komisi III DPRD Gianyar melakukan sidak ke sejumlah perusahaan pembuatan beton yang ada di Bypass Ida Bagus Mantra, Kamis (14/4). Sidak dilakukan untuk menekan penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) lantaran belakangan ini penggunaan ABT massif sehingga dikhawatirkan berdampak pada ekosistem alam.

 

Rombongan DPRD Gianyar yang melakukan sidak bersama Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Gianyar tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Putu Gede Pebriantara. Adapun tiga perusahaan yang didatangi diantaranya PT Redimix Teguh Karyabrahardjo, PT Adutya Sinar Pratama, dan PT Sukses Epamet.

 

“Tujuan kita melakukan kegiatan ini bukan semata-mata untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gianyar, tapi yang utama adalah konservasi alam,” tegas politisi PDIP tersebut.

 

Sebab, pihaknya ingin agar penggunaan ABT dilakukan secara bijak. Karena jika penggunaan ABT tidak dikontrol maka akan berdampak pada berkurangnya volume ABT dan mengancam kelangsungan kehidupan di masa depan. “Sedangkan untuk meningkatkan potensi PAD, penggunaan ABT harus memiliki izin. Sehingga dalam kegiatan ini kita juga cek izin penggunaan ABT, apakah mereka selama ini sudah membayar pajak ABT atau belum,” paparnya.

Dan hasilnya ketiga perusahaan itu sudah memiliki izin. Namun pihaknya tetap memberikan catatan kepada ketiga perusahaan tersebut. Diantaranya adalah saran untuk mengganti watermeter, maupun memasang watermeter bagi yang belum memiliki watermeter. “Tanpa watermeter mereka hanya mengandalkan perkiraan untuk membayar pajaknya. Jadi kita rekomendasikan pakai watermeter,” sebutnya.

 

Sedangkan satu diantara tiga perusahaan itu disarankan untuk beralih menggunakan PDAM lantaran menggunakan ABT hanya untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Kedepannya, pihaknya juga akan melakukan sidak ke lokasi lain diantaranya adalah restoran, villa dan lainnya. Sebab pihaknya tidak ingin ada kecurangan dalam penggunaan ABT. “Kami tidak mau ada perusahaan yang curang banyak yang bodong, misalnya dia menggunakan ABT tapi tidak memiliki izin, jadinya mereka tidak bayar pajak. Selain itu kita takut mereka bayar pajaknya satu tapi ternyata mereka punya 3 unit sumur bor, itu kan merugikan kita,” tegas Pebriantara.

 

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika target PAD dari ABT memang tidak besar yakni Rp 5 Miliar, namun setiap tahunnya target itu tercapai. Namun disisi lain pihaknya ingin membatasi penggunaan ABT karena dapat membahayakan hingga mengurangi pasokan air kedepannya. “Jadi sarankan kami, gunakan air permukaan, dan penggunaan ABT harus bijak. Dari kami juga selain fokus ke PAD, sumber daya alam juga harus tetap dilestarikan,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/