alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tak Mau Diswab, 16 Pedagang Pasar Abiantimbul tak Diizinkan Berjualan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebanyak 16 pedagang di Pasar Abiantimbul tetap kekeh tak mau mengikuti swab test tahap II meski telah dilakukan pendekatan secara persuasif. Akibatnya, Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar tak mengizinkan para pedagang untuk berjualan.

Setelah mendapat protes dari sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, Selasa (14/7) bersama tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Kota Denpasar, pihak kepolisian serta Dinas Perhubungan mencoba melakukan pendekatan kepada para pedagang. Namun upaya persuasif yang dilakukan gagal. Para pedagang tersebut tetap bersikukuh tidak mau mengkiuti swab test tahap II.

Selama kurang lebih 30 menit lebih dilakukan pendekatan, pihak Perumda Pasar Sewakadharma tidak berhasil. Petuas medis dari Puskesmas Denpasar Barat II yang telah standby akan melakukan swab akhirnya balik arah.

Dikonfirmasi via telepon, Direktur Umum Perumda Pasar Sewakadharma AA Yuliarta, Selasa (14/7) pagi menjelaskan, penolakan tersebut tidak saja karena terprovokasi atau terpengaruh oleh pedagang lainnya. Namun karena mereka merasa trauma dan masih merasakan sakit di hidung pasca dilakukan swab 3 Juli lalu. Di samping itu, ia juga mendengar alasan bahwa para pedagang yang menjalani swab pada tahap pertama itu dikucilkan oleh masyarakat tempat mereka tinggal. “Saya katakan kepada mereka, kami hanya memfasilitasi mereka untuk melakukan swab sesuai dengan peraturan. Tes swab sebanyak dua kali dengan hasil negatif. Bahkan kami datang bersama petugas dari puskesmas, berharap mereka mau mengikuti arahan untuk diswab. Tapi satu pun tidak ada yang mau. Petugas medis sudah 30 menit lebih menunggu dengan persiapan mereka,” kata dia.

Melihat pedagang bersikukuh tidak mau melakukan swab tes, akhirnya pihak perumda memutuskan untuk melarang 16 pedagang tersebut untuk berjualan sebelum melakukan swab tes tahap II dan dapat menunjukkan surat keterangan hasil swab negatif.

 “Nah dari sana kami putuskan mulai besok (Rabu, Red), 15 Juli mereka kami tidak izinkan berjualan. Mereka baru boleh berjualan, setelah menunjukkan surat keterangan swab negatif. Entah bagaimana caranya mereka melakukan swab, saya tidak mau tahu. Entah tes mandiri atau bagaimana, silahkan. Syaratnya, jika mau berjualan, tunjukkan dulu surat keterangannya, baru kami izinkan. Ini juga demi kebaikan pedagang yang lain yang ada di kawasan tersebut,” kata Yuliarta.

Keputusan untuk tidak mengizinkan para pedagang tersebut berjualan sementara waktu, tidak serta merta berjalan mulus. Yuliarta mendapat protes lagi dari pedagang untuk menutup Pasar Abiantimbul. Namun pihak perumda menolak. Pihaknya hanya menempatkan petugas jaga di pasar tersebut untuk mengawasi pedagang yang tidak diizinkan untuk berjualan. Jika ditemukan ada pedagang yang membandel, akan diminta untuk menutup kembali lapaknya.

“Saat kami beritahu mereka untuk tidak berjualan sebelum mengantongi surat keterangan, ada lagi yang protes. Kalau mereka tidak boleh berjualan, pasar harus ditutup. Kami tidak mau seperti itu. Pedagang di sini jumlahnya 201 dan yang tidak diizinkan hanya 16 orang. Kalau pasar ditutup, bagaimana perekonomian di desa tetap berjalan. Mereka mau makan apa, cari kerja dimana, berjualan dimana? Kalau berjualan di tempat lain, apakah diizinkan oleh orang yang punya tempat. Itu yang kami pikirkan, maka pasar tidak kami tutup,” tuturnya.

Pihak perumda pun tidak memasang segel di lapak-lapak tersebut. Hal itu, dilakukan untuk mengurangi pandangan negatif di masyarakat. “Kami tidak mau demonstratif sekali. Karena akan berpengaruh juga pada psikologi pedagang, image pedagang, juga kehebohan di masyarakat. Kami jaga seperti biasa saja. Tidak yang ekstrim-ekstrim,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai mengatakan, perihal penolakan para pedagang untuk melakukan swab tes tersebut, tim GTPP Kota Denpasar menyarankan untuk melakukan isolasi mandiri. Apabila mereka ingin melakukan swab tes, agar melapor ke pihak perumda. “Jika mereka mau dites dan melapor ke perumda, ya kami fasilitasi. Tapi kalau tidak mau, ya silahkan tes secara mandiri,” ungkap Rai.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar menolak mengikuti swab test untuk yang kedua kalinya. Sebanyak 16 pedagang pasar tersebut protes lantaran swab pertama yang mereka ikuti hasilnya negatif dan baru keluar tanggal 10 Juli. Namun mereka diminta untuk kembali melakukan swab test tahap II. Beberapa di antara mereka juga mengeluhkan ketidaknyamanan saat dilakukan swab. Mereka merasa tidak nyaman ketika hidung mereka dimasukkan alat test. Pada tanggal 3 Juli, para pedagang yang berjumlah 25 orang tersebut menjalani swab test. Dari hasil swab, ditemukan 6 orang positif. Pihak pasar pun kembali melakukan tracking pedagang di radius 10 meter dan ditemukan ada 16 orang pedagang yang harusnya menjalani swab test. Akan tetapi, pihak Puskesmas yang akan melakukan swab, meminta pedagang yang sudah dinyatakan negatif sebelumnya sebanyak 19 orang, untuk ikut swab kembali. Alasannya karena 19 orang pedagang ini tak melakukan isolasi mandiri dan tetap berjualan selama hasil swab belum keluar.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebanyak 16 pedagang di Pasar Abiantimbul tetap kekeh tak mau mengikuti swab test tahap II meski telah dilakukan pendekatan secara persuasif. Akibatnya, Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar tak mengizinkan para pedagang untuk berjualan.

Setelah mendapat protes dari sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, Selasa (14/7) bersama tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Kota Denpasar, pihak kepolisian serta Dinas Perhubungan mencoba melakukan pendekatan kepada para pedagang. Namun upaya persuasif yang dilakukan gagal. Para pedagang tersebut tetap bersikukuh tidak mau mengkiuti swab test tahap II.

Selama kurang lebih 30 menit lebih dilakukan pendekatan, pihak Perumda Pasar Sewakadharma tidak berhasil. Petuas medis dari Puskesmas Denpasar Barat II yang telah standby akan melakukan swab akhirnya balik arah.

Dikonfirmasi via telepon, Direktur Umum Perumda Pasar Sewakadharma AA Yuliarta, Selasa (14/7) pagi menjelaskan, penolakan tersebut tidak saja karena terprovokasi atau terpengaruh oleh pedagang lainnya. Namun karena mereka merasa trauma dan masih merasakan sakit di hidung pasca dilakukan swab 3 Juli lalu. Di samping itu, ia juga mendengar alasan bahwa para pedagang yang menjalani swab pada tahap pertama itu dikucilkan oleh masyarakat tempat mereka tinggal. “Saya katakan kepada mereka, kami hanya memfasilitasi mereka untuk melakukan swab sesuai dengan peraturan. Tes swab sebanyak dua kali dengan hasil negatif. Bahkan kami datang bersama petugas dari puskesmas, berharap mereka mau mengikuti arahan untuk diswab. Tapi satu pun tidak ada yang mau. Petugas medis sudah 30 menit lebih menunggu dengan persiapan mereka,” kata dia.

Melihat pedagang bersikukuh tidak mau melakukan swab tes, akhirnya pihak perumda memutuskan untuk melarang 16 pedagang tersebut untuk berjualan sebelum melakukan swab tes tahap II dan dapat menunjukkan surat keterangan hasil swab negatif.

 “Nah dari sana kami putuskan mulai besok (Rabu, Red), 15 Juli mereka kami tidak izinkan berjualan. Mereka baru boleh berjualan, setelah menunjukkan surat keterangan swab negatif. Entah bagaimana caranya mereka melakukan swab, saya tidak mau tahu. Entah tes mandiri atau bagaimana, silahkan. Syaratnya, jika mau berjualan, tunjukkan dulu surat keterangannya, baru kami izinkan. Ini juga demi kebaikan pedagang yang lain yang ada di kawasan tersebut,” kata Yuliarta.

Keputusan untuk tidak mengizinkan para pedagang tersebut berjualan sementara waktu, tidak serta merta berjalan mulus. Yuliarta mendapat protes lagi dari pedagang untuk menutup Pasar Abiantimbul. Namun pihak perumda menolak. Pihaknya hanya menempatkan petugas jaga di pasar tersebut untuk mengawasi pedagang yang tidak diizinkan untuk berjualan. Jika ditemukan ada pedagang yang membandel, akan diminta untuk menutup kembali lapaknya.

“Saat kami beritahu mereka untuk tidak berjualan sebelum mengantongi surat keterangan, ada lagi yang protes. Kalau mereka tidak boleh berjualan, pasar harus ditutup. Kami tidak mau seperti itu. Pedagang di sini jumlahnya 201 dan yang tidak diizinkan hanya 16 orang. Kalau pasar ditutup, bagaimana perekonomian di desa tetap berjalan. Mereka mau makan apa, cari kerja dimana, berjualan dimana? Kalau berjualan di tempat lain, apakah diizinkan oleh orang yang punya tempat. Itu yang kami pikirkan, maka pasar tidak kami tutup,” tuturnya.

Pihak perumda pun tidak memasang segel di lapak-lapak tersebut. Hal itu, dilakukan untuk mengurangi pandangan negatif di masyarakat. “Kami tidak mau demonstratif sekali. Karena akan berpengaruh juga pada psikologi pedagang, image pedagang, juga kehebohan di masyarakat. Kami jaga seperti biasa saja. Tidak yang ekstrim-ekstrim,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai mengatakan, perihal penolakan para pedagang untuk melakukan swab tes tersebut, tim GTPP Kota Denpasar menyarankan untuk melakukan isolasi mandiri. Apabila mereka ingin melakukan swab tes, agar melapor ke pihak perumda. “Jika mereka mau dites dan melapor ke perumda, ya kami fasilitasi. Tapi kalau tidak mau, ya silahkan tes secara mandiri,” ungkap Rai.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar menolak mengikuti swab test untuk yang kedua kalinya. Sebanyak 16 pedagang pasar tersebut protes lantaran swab pertama yang mereka ikuti hasilnya negatif dan baru keluar tanggal 10 Juli. Namun mereka diminta untuk kembali melakukan swab test tahap II. Beberapa di antara mereka juga mengeluhkan ketidaknyamanan saat dilakukan swab. Mereka merasa tidak nyaman ketika hidung mereka dimasukkan alat test. Pada tanggal 3 Juli, para pedagang yang berjumlah 25 orang tersebut menjalani swab test. Dari hasil swab, ditemukan 6 orang positif. Pihak pasar pun kembali melakukan tracking pedagang di radius 10 meter dan ditemukan ada 16 orang pedagang yang harusnya menjalani swab test. Akan tetapi, pihak Puskesmas yang akan melakukan swab, meminta pedagang yang sudah dinyatakan negatif sebelumnya sebanyak 19 orang, untuk ikut swab kembali. Alasannya karena 19 orang pedagang ini tak melakukan isolasi mandiri dan tetap berjualan selama hasil swab belum keluar.


Most Read

Artikel Terbaru

/