alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Meski Pandemi, Tradisi Nyakan Diwang Tetap Lestari

BANJAR, BALI EXPRESS-Tradisi nyakan diwang kembali dilaksanakan warga Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar bertepatan pada Ngembak Geni, atau sehari setelah perayaan Nyepi Saka 1943, Senin (15/3) pagi. Momentum inipun menjadi istimewa, mengingat Tradisi Nyakan Diwang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nusantara oleh Kemendikbud sejak Oktober 2020 lalu.

 

Seperti terlihat di Dusun Bolangan, desa Kayu Putih. Sejumlah warga sudah terlihat sibuk sejak pukul 03.00 Wita pagi. Satu persatu dari mereka mengeluarkan peralatan memasak di depan pintu gerbang rumahnya. seperti wajan, piring.

 

Menariknya, saat nyakan diwang warga tidak perlu harus mengeluarkan kompor gas yang selama ini digunakan. Mereka justru memasak menggunakan jalikan sebagai tungku untuk memasak dengan kayu bakar.

 

Suasana pun kian semarak saat api jalikan menyala di sepanjang jalan. Kepulan asap seolah menjadi penanda perayaan tahun baru saka. Ada yang menanak nasi, ada pula menggoreng hingga membuat sayur. Tak sedikit pula, kaum laki-laki yang mengobrol sembari menikmati kopi di depan tungku jalikan.

 

Salah seorang warga, Putu Dedi Lastika menyebut, jika perayaan Nyakan Diwang memang tak seramai tahun sebelumnya. Hal itu tak lepas dari adanya pandemi Covid-19 yang masih mewabah di Buleleng.

 

“Sekarang yang nyakan diwang lebih banyak yang muda-muda saja. Yang tua memilih untuk diam di rumah. Tetapi protokol kesehatan tetap dijaga. Tidak berkerumun, sehingga tetap aman” ungkapnya.

 

Namun demikian, pria 36 tahun ini menyatakan hal tersebut tidak mengurasi kesan. “Kesan tetap senang bisa melaksanakan tradisi ini meski dalam situasi pandemi. Kami hanya bisa berharap agar pandemic segera berakhir,” ucapnya.

 

Warga lain, Putu Sosiawan mengatakan tradisi ini juga sekaligus dijadikan momen untuk silaturahmi dan menjaga kebersamaan, baik dengan keluarga maupun antarwarga. “Tentu ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahun,” katanya.

 

Ia mengharapkan pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga pelaksanaan tradisi ini dapat semakin semarak dan semakin berkesan. “Semoga Hari Raya Nyepi tahun depan sudah bebas dari pandemi,” pungkasnya.

 

Seperti diketahui, Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan warga Kecamatan Banjar, Selain di Kayu Putih, nyakan diwang juga dilaksanakan di Desa Banjar, Dencarik, Banyuatis, Banyuseri, Muduk, Umajero, Gobleg dan Gesing. Tradisi ini juga bertujuan untuk menyucikan lingkungan rumah dan dapur setelah Melaksanakan catur brata penyepian.


BANJAR, BALI EXPRESS-Tradisi nyakan diwang kembali dilaksanakan warga Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar bertepatan pada Ngembak Geni, atau sehari setelah perayaan Nyepi Saka 1943, Senin (15/3) pagi. Momentum inipun menjadi istimewa, mengingat Tradisi Nyakan Diwang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nusantara oleh Kemendikbud sejak Oktober 2020 lalu.

 

Seperti terlihat di Dusun Bolangan, desa Kayu Putih. Sejumlah warga sudah terlihat sibuk sejak pukul 03.00 Wita pagi. Satu persatu dari mereka mengeluarkan peralatan memasak di depan pintu gerbang rumahnya. seperti wajan, piring.

 

Menariknya, saat nyakan diwang warga tidak perlu harus mengeluarkan kompor gas yang selama ini digunakan. Mereka justru memasak menggunakan jalikan sebagai tungku untuk memasak dengan kayu bakar.

 

Suasana pun kian semarak saat api jalikan menyala di sepanjang jalan. Kepulan asap seolah menjadi penanda perayaan tahun baru saka. Ada yang menanak nasi, ada pula menggoreng hingga membuat sayur. Tak sedikit pula, kaum laki-laki yang mengobrol sembari menikmati kopi di depan tungku jalikan.

 

Salah seorang warga, Putu Dedi Lastika menyebut, jika perayaan Nyakan Diwang memang tak seramai tahun sebelumnya. Hal itu tak lepas dari adanya pandemi Covid-19 yang masih mewabah di Buleleng.

 

“Sekarang yang nyakan diwang lebih banyak yang muda-muda saja. Yang tua memilih untuk diam di rumah. Tetapi protokol kesehatan tetap dijaga. Tidak berkerumun, sehingga tetap aman” ungkapnya.

 

Namun demikian, pria 36 tahun ini menyatakan hal tersebut tidak mengurasi kesan. “Kesan tetap senang bisa melaksanakan tradisi ini meski dalam situasi pandemi. Kami hanya bisa berharap agar pandemic segera berakhir,” ucapnya.

 

Warga lain, Putu Sosiawan mengatakan tradisi ini juga sekaligus dijadikan momen untuk silaturahmi dan menjaga kebersamaan, baik dengan keluarga maupun antarwarga. “Tentu ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahun,” katanya.

 

Ia mengharapkan pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga pelaksanaan tradisi ini dapat semakin semarak dan semakin berkesan. “Semoga Hari Raya Nyepi tahun depan sudah bebas dari pandemi,” pungkasnya.

 

Seperti diketahui, Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan warga Kecamatan Banjar, Selain di Kayu Putih, nyakan diwang juga dilaksanakan di Desa Banjar, Dencarik, Banyuatis, Banyuseri, Muduk, Umajero, Gobleg dan Gesing. Tradisi ini juga bertujuan untuk menyucikan lingkungan rumah dan dapur setelah Melaksanakan catur brata penyepian.


Most Read

Artikel Terbaru

/