alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

PVMBG Evaluasi Kemungkinan Gunung Agung Turun Status

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Status Gunung Agung, Karangasem, saat ini masih berada di level III (siaga) dengan dampak radius sekitar 4 kilometer. Meski demikian, aktivitas vulkanik melandai sejak beberapa bulan terakhir.

Beberapa waktu lalu, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama BPBD Bali dan Karangasem mengadakan rapat daring, evaluasi kondisi Gunung Agung, terkait rencana penurunan status dari level III (siaga) ke level II (waspada).

Memang, berdasarkan data pemantauan dan analisis, aktivitas gunung menurun. Potensi erupsi masih ada, namun dalam skala rendah. Untuk penurunan status ini, masih menunggu rekomendasi PVMBG karena masih dievaluasi.

Kepala Subbidang Mitigasi dan Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, aktivitas Gunung Agung beberapa bulan terakhir landai. Jumlah kegempaan, seperti hembusan, tektonik lokal, tektonik jauh, vulkanik, dan tremor  sudah menurun dibanding tahun 2018 hingga 2019.

Bahkan berdasarkan pemantauan, kerap kali tak terdeteksi adanya kegempaan di dalam. Meski begitu, evaluasi terus dilakukan, termasuk memetakan kemungkinan ancaman bahayanya. PVMBG juga belum pastikan akan ada penurunan atau tidak. “Potensi ancaman erupsi masih ada, tapi jarak dampaknya lebih dekat,” ungkapnya, baru-baru ini.

Ditambahkan, magma di dalam Gunung Agung relatif kecil, yakni di bawah 500 ribu meter kubik atau sekitar 100-200 ribu meter kubik bersifat fluktuaktif atau bisa berubah-ubah. Sedangkan untuk lava sekitar kawah gunung masih tetap, sekitar 26 juta meter kubik. “Kalau September 2017, saat masa kritis, magma bisa capai 40 juta meter kubik,” jelas Devy.

Ahli asal Bandung, Jawa Barat itu mengaku masih mengevaluasi, dan berkoordinasi dengan steakholder terkait untuk membahas penurunan aktivitas kegempaan gunung. Di sisi lain, rekomendasi masih tetap. Petugas mengimbau warga, wisatawan, serta pengunjung tetap mengikuti rekomendasi PVMBG.

Devy mengimbau masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai agar waspada ancaman bahaya sekunder. Di antaranya berupa aliran lahar hujan. “Ini terjadi saat diguyur hujan. Itu pun jika ada meterial erupsi terpapar di lereng gunung,” sebutnya.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Status Gunung Agung, Karangasem, saat ini masih berada di level III (siaga) dengan dampak radius sekitar 4 kilometer. Meski demikian, aktivitas vulkanik melandai sejak beberapa bulan terakhir.

Beberapa waktu lalu, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama BPBD Bali dan Karangasem mengadakan rapat daring, evaluasi kondisi Gunung Agung, terkait rencana penurunan status dari level III (siaga) ke level II (waspada).

Memang, berdasarkan data pemantauan dan analisis, aktivitas gunung menurun. Potensi erupsi masih ada, namun dalam skala rendah. Untuk penurunan status ini, masih menunggu rekomendasi PVMBG karena masih dievaluasi.

Kepala Subbidang Mitigasi dan Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, aktivitas Gunung Agung beberapa bulan terakhir landai. Jumlah kegempaan, seperti hembusan, tektonik lokal, tektonik jauh, vulkanik, dan tremor  sudah menurun dibanding tahun 2018 hingga 2019.

Bahkan berdasarkan pemantauan, kerap kali tak terdeteksi adanya kegempaan di dalam. Meski begitu, evaluasi terus dilakukan, termasuk memetakan kemungkinan ancaman bahayanya. PVMBG juga belum pastikan akan ada penurunan atau tidak. “Potensi ancaman erupsi masih ada, tapi jarak dampaknya lebih dekat,” ungkapnya, baru-baru ini.

Ditambahkan, magma di dalam Gunung Agung relatif kecil, yakni di bawah 500 ribu meter kubik atau sekitar 100-200 ribu meter kubik bersifat fluktuaktif atau bisa berubah-ubah. Sedangkan untuk lava sekitar kawah gunung masih tetap, sekitar 26 juta meter kubik. “Kalau September 2017, saat masa kritis, magma bisa capai 40 juta meter kubik,” jelas Devy.

Ahli asal Bandung, Jawa Barat itu mengaku masih mengevaluasi, dan berkoordinasi dengan steakholder terkait untuk membahas penurunan aktivitas kegempaan gunung. Di sisi lain, rekomendasi masih tetap. Petugas mengimbau warga, wisatawan, serta pengunjung tetap mengikuti rekomendasi PVMBG.

Devy mengimbau masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai agar waspada ancaman bahaya sekunder. Di antaranya berupa aliran lahar hujan. “Ini terjadi saat diguyur hujan. Itu pun jika ada meterial erupsi terpapar di lereng gunung,” sebutnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/