alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

KMP Penimbangan Lestari Lepasliarkan 500 Tukik

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tukik-tukik yang baru berusia sekitar 6 bulan itu diambil dari rumah penangkaran. Kemudian tukik yang berjumlah 500 ekor tersebut dilepaskan ke laut bebas. Ratusan ekor tukik itu berlarian menuju pantai saat dilepaskan oleh Kelompok Masyarakat (KMP) Penimbangan Lestari bersama BKSDA Bali, akhir pekan lalu.

 

Ketua KMP Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana menyampaikan hingga tahun ini sebanyak 3.621 telur yang ditemukan dari hasil perkembangbiakan penyu di pesisir pantai Penimbangan. “Telur-telur ini dibawa dari pantai Banjar, Pantai Kalianget, Pantai Banyuasri dan sisanya di Pantai Penimbangan,” kata dia.

 

Dari ribuan telur-telur yang ditemukan dan dipindahkan ke rumah penangkaran di kawasan Penimbangan, baru 1.500 lebih telur yang menetas. “Total tahun ini baru 1.200 yang dirilis atau yang dilepas dari 1.500 yang menetas itu,” terangnya.

 

Gede pun menyebut penyu-penyu yang mampir di Pantai Penimbangan itu biasanya terjadi pada bulan Juni-Juli. Mereka akan menepi untuk bertelur. Tak peduli situasi di Pantai Penimbangan itu ramai atau sepi. Penyu-penyu dengan ukuran besar tetap tak terusik untuk bertelur. “Puncak bertelurnya di musim Juni-Juli. Dengan kondisi yang ramai angkanya gak berubah. Penyu tetap datang. Walau ramai tidak mempengaruhi. Malah di kondisi ramai mereka datang. Kalau orang bilang penyu akan mencari tempat sepi untuk bertelur, maka di Penimbangan tidak demikian,” ungkapnya.

 

Sebagai salah satu tempat penangkaran dan penyelamatan penyu di Buleleng, KMP Penimbangan Lestari kerap menerima permintaan dari luar daerah untuk menitipkan telur-telur yang ditemukan. Akan tetapi KMP Penimbangan Lestari terpaksa harus menolak permintaan tatkala jumlahnya banyak. Sebab, tempat penangkaran yang ada di kawasan Penimbangan cukup kecil dan kapasitasnya pun terbatas. “Kendala penyelamatan penyu itu terkadang tempatnya overload. Kemarin dikasi telur dari provinsi, di Gianyar itu, terpaksa kami tolak. Karena tempat kami penuh. Dan sekarang di tempat penangkaran masih ada 13 sarang yang belum menetas,” ujarnya.

 

Menurut Gede Wiadnyana, penyu-penyu yang bertelur di kawasan Penimbangan itu adalah penyu jenis Lekang. Terkadang penyu langka seperti penyu Hijau dan penyu Sisik. “Terkadang mereka muncul sesekali. Tapi pada musim bertelur malah Lekang yang banyak muncul. Kalau dua jenis itu agak sensitif dia,” tamahnya.

 

Disisi lain, pihak desa selalu mendukung upaya penyelamatan yang dilakukan KMP Penimbangan Lestari itu. Kepala Desa Baktiseraga, Gusti Made Armada berharap desa lain yang kerap disinggahi oleh penyu dapat membuat penangkaran semacan ini. Sehingga, KMP Penimbangan Lestari terbantu apabila mengalami overload seperti saat ini. “ Kami selalu support. Terkait tempat juga susah yang seperti ini yang penyu selalu datang. Dari desa nanti akan menyesuaikan dengan kapasitas yang kami miliki. Seandainya langkah kami diikuti oleh yang lain maka teratasi. Kalau kami sendiri tentu tidak akan bisa. Tidak bisa menampung semua. Inisiasinya tidak bisa di desa sendiri. Tapi komunitas harus ada. Untuk penangannya. Pemelihraannya juga. Tidak mungkin pemda sendirian,” jelasnya.

Sejak dibentuk pada tahun 2016 silam, hingga kini terdapat 15 ribu telur yang dirilis oleh KMP Penimbangan Lestari ini. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tukik-tukik yang baru berusia sekitar 6 bulan itu diambil dari rumah penangkaran. Kemudian tukik yang berjumlah 500 ekor tersebut dilepaskan ke laut bebas. Ratusan ekor tukik itu berlarian menuju pantai saat dilepaskan oleh Kelompok Masyarakat (KMP) Penimbangan Lestari bersama BKSDA Bali, akhir pekan lalu.

 

Ketua KMP Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana menyampaikan hingga tahun ini sebanyak 3.621 telur yang ditemukan dari hasil perkembangbiakan penyu di pesisir pantai Penimbangan. “Telur-telur ini dibawa dari pantai Banjar, Pantai Kalianget, Pantai Banyuasri dan sisanya di Pantai Penimbangan,” kata dia.

 

Dari ribuan telur-telur yang ditemukan dan dipindahkan ke rumah penangkaran di kawasan Penimbangan, baru 1.500 lebih telur yang menetas. “Total tahun ini baru 1.200 yang dirilis atau yang dilepas dari 1.500 yang menetas itu,” terangnya.

 

Gede pun menyebut penyu-penyu yang mampir di Pantai Penimbangan itu biasanya terjadi pada bulan Juni-Juli. Mereka akan menepi untuk bertelur. Tak peduli situasi di Pantai Penimbangan itu ramai atau sepi. Penyu-penyu dengan ukuran besar tetap tak terusik untuk bertelur. “Puncak bertelurnya di musim Juni-Juli. Dengan kondisi yang ramai angkanya gak berubah. Penyu tetap datang. Walau ramai tidak mempengaruhi. Malah di kondisi ramai mereka datang. Kalau orang bilang penyu akan mencari tempat sepi untuk bertelur, maka di Penimbangan tidak demikian,” ungkapnya.

 

Sebagai salah satu tempat penangkaran dan penyelamatan penyu di Buleleng, KMP Penimbangan Lestari kerap menerima permintaan dari luar daerah untuk menitipkan telur-telur yang ditemukan. Akan tetapi KMP Penimbangan Lestari terpaksa harus menolak permintaan tatkala jumlahnya banyak. Sebab, tempat penangkaran yang ada di kawasan Penimbangan cukup kecil dan kapasitasnya pun terbatas. “Kendala penyelamatan penyu itu terkadang tempatnya overload. Kemarin dikasi telur dari provinsi, di Gianyar itu, terpaksa kami tolak. Karena tempat kami penuh. Dan sekarang di tempat penangkaran masih ada 13 sarang yang belum menetas,” ujarnya.

 

Menurut Gede Wiadnyana, penyu-penyu yang bertelur di kawasan Penimbangan itu adalah penyu jenis Lekang. Terkadang penyu langka seperti penyu Hijau dan penyu Sisik. “Terkadang mereka muncul sesekali. Tapi pada musim bertelur malah Lekang yang banyak muncul. Kalau dua jenis itu agak sensitif dia,” tamahnya.

 

Disisi lain, pihak desa selalu mendukung upaya penyelamatan yang dilakukan KMP Penimbangan Lestari itu. Kepala Desa Baktiseraga, Gusti Made Armada berharap desa lain yang kerap disinggahi oleh penyu dapat membuat penangkaran semacan ini. Sehingga, KMP Penimbangan Lestari terbantu apabila mengalami overload seperti saat ini. “ Kami selalu support. Terkait tempat juga susah yang seperti ini yang penyu selalu datang. Dari desa nanti akan menyesuaikan dengan kapasitas yang kami miliki. Seandainya langkah kami diikuti oleh yang lain maka teratasi. Kalau kami sendiri tentu tidak akan bisa. Tidak bisa menampung semua. Inisiasinya tidak bisa di desa sendiri. Tapi komunitas harus ada. Untuk penangannya. Pemelihraannya juga. Tidak mungkin pemda sendirian,” jelasnya.

Sejak dibentuk pada tahun 2016 silam, hingga kini terdapat 15 ribu telur yang dirilis oleh KMP Penimbangan Lestari ini. 


Most Read

Artikel Terbaru

/