alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Ada yang Ngaku Rugi, Koster: Mereka Mikir Dirinya Sendiri

BALI EXPRESS, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster tetap berkomitmen untuk menutup semua jaringan toko mafia Tiongkok. Walaupun ada yang mengaku dirugikan, atas langkah pemerintah ini. Bahkan Koster menuding mereka hanya memikirkan diri sendiri.

“Kalau ada yang merasa dirugikan atas kebijakan ini, itu hanya mikir dirinya sendiri. Namun keputusan ini untuk kepentingan secara umum,” kata Koster kemarin (14/11) saat acara di Dekranasda.

Koster mengatakan langkah untuk menutup semua toko jaringan Tiongkok, untuk menyelamatkan hal yang lebih besar. Apalagi sudah ada citra bahwa, dianggap sebagai negara penipu. ini sudah merusak citra Bali, padahal mereka tertipu dari usaha – usaha milik orang Tiongkok ini. “Boleh mengeluh, tapi harus berpikir jangan sampai kepentingan besar dikorbankan. Citra pariwisata Bali, Indonesia sudah rusak. Bahkan tidak hanya pariwisata bahkan nama negara disebut bahwa kita dibilang negara penipu, segala macam,” tegas Koster. “Aktivitas ini sudah merusak semua,” sambungnya.

Bagi Koster, semua pihak yang kena imbas dalam penertiban ini agar beralih ke usaha yang benar. “Tolong jika memang penutupan ini menimbulkan imbas, beralihlah ke usaha yang segar,” pungkasnya.

Baca Juga :  Enam DTW Sumbang 4 sampai 5 Juta ke Daerah Saat Weekend

Seperti halnya berita sebelumnya, ada kelompok yang demo ke DPRD Bali beberapa komponen itu adalah pemilik travel agent OKB Kris alias Rusli Wisanto, pengusaha yang bergerak di Nusa Penida Putu Darmaya, pemilik Desa Rafting Made Setiawan, tokoh pramuwisata Tiokong Handi, termasuk pegawai – pegawai rumah makan, yang pemiliknya orang Tiongkok seperti Great Hot Shark Hot Pot dan lainnya. Diterima oleh Ketua Komisi IV DPRD Bali Nyoman Parta, Anggota Komisi Setiawan dan Wayan Sutena.

Ungkapan menarik dan mengakui bahwa aktivitas mereka disubsidi oleh jaringan toko – toko milik orang Tiongkok itu datang dari Kris. Toko – toko jaringan Mafia Tiongkok itu memang mensubsidi bisa sampai Rp 2,5 juta per kepala. Dengan catatan mereka wajib masuk toko dan berbelanja.

Kemudian yang menarik, lagi adalah penjelasan Handi. Dia mengulas bahwa usaha – usaha yang berkembang di Bali memang milik jaringan mafia Tiongkok dan Mafia Hongkong. Dia mengatakan, walaupun mafia (pemain) tetap bisa memberikan dampak ekonomi bagi Bali. “Mafia itu bangun toko, bangun jaringan, kemudian subsidi ke wisatawan ke Bali. Kemudian banyak wisatawan Tiongkok datang, ini yang membuat pariwisata Bali hidup,” urainya. “Jadi Bali perlu mafia ini, uangnya mereka triliun dan bisnisnya mereka membangun jaringan toko model di Bali, di seluruh dunia,” kata dia.

Baca Juga :  Tim Yustisi Sidak Bandara Ngurah Rai, Nihil Pelanggaran

Atas kondisi ini Parta mengatakan, Bali tidak perlu pemain, pebisnis nakal namun perlu yang bagus. “Kalau jenis mafia, dia untung kemudian setelah banyak untung pergi. Kami perlu yang mau menjaga Bali, menjaga dan merawat budaya Bali,” kata Parta menanggapi.

Seperti halnya berita sebelumnya, kasus ini mencuat yang menyatakan bahwa jaringan toko – toko Tiongkok merusak citra pariwisata Bali. Atas masalah ini, langkah tegas sudah diputuskan DPRD Bali. DPRD Bali mengeluarkan rekomendasi. Isinya sangat tegas dan sangat berani. Rekomendasi yang ditandatangani oleh Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama itu memasang empat point sikap.


BALI EXPRESS, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster tetap berkomitmen untuk menutup semua jaringan toko mafia Tiongkok. Walaupun ada yang mengaku dirugikan, atas langkah pemerintah ini. Bahkan Koster menuding mereka hanya memikirkan diri sendiri.

“Kalau ada yang merasa dirugikan atas kebijakan ini, itu hanya mikir dirinya sendiri. Namun keputusan ini untuk kepentingan secara umum,” kata Koster kemarin (14/11) saat acara di Dekranasda.

Koster mengatakan langkah untuk menutup semua toko jaringan Tiongkok, untuk menyelamatkan hal yang lebih besar. Apalagi sudah ada citra bahwa, dianggap sebagai negara penipu. ini sudah merusak citra Bali, padahal mereka tertipu dari usaha – usaha milik orang Tiongkok ini. “Boleh mengeluh, tapi harus berpikir jangan sampai kepentingan besar dikorbankan. Citra pariwisata Bali, Indonesia sudah rusak. Bahkan tidak hanya pariwisata bahkan nama negara disebut bahwa kita dibilang negara penipu, segala macam,” tegas Koster. “Aktivitas ini sudah merusak semua,” sambungnya.

Bagi Koster, semua pihak yang kena imbas dalam penertiban ini agar beralih ke usaha yang benar. “Tolong jika memang penutupan ini menimbulkan imbas, beralihlah ke usaha yang segar,” pungkasnya.

Baca Juga :  Enam DTW Sumbang 4 sampai 5 Juta ke Daerah Saat Weekend

Seperti halnya berita sebelumnya, ada kelompok yang demo ke DPRD Bali beberapa komponen itu adalah pemilik travel agent OKB Kris alias Rusli Wisanto, pengusaha yang bergerak di Nusa Penida Putu Darmaya, pemilik Desa Rafting Made Setiawan, tokoh pramuwisata Tiokong Handi, termasuk pegawai – pegawai rumah makan, yang pemiliknya orang Tiongkok seperti Great Hot Shark Hot Pot dan lainnya. Diterima oleh Ketua Komisi IV DPRD Bali Nyoman Parta, Anggota Komisi Setiawan dan Wayan Sutena.

Ungkapan menarik dan mengakui bahwa aktivitas mereka disubsidi oleh jaringan toko – toko milik orang Tiongkok itu datang dari Kris. Toko – toko jaringan Mafia Tiongkok itu memang mensubsidi bisa sampai Rp 2,5 juta per kepala. Dengan catatan mereka wajib masuk toko dan berbelanja.

Kemudian yang menarik, lagi adalah penjelasan Handi. Dia mengulas bahwa usaha – usaha yang berkembang di Bali memang milik jaringan mafia Tiongkok dan Mafia Hongkong. Dia mengatakan, walaupun mafia (pemain) tetap bisa memberikan dampak ekonomi bagi Bali. “Mafia itu bangun toko, bangun jaringan, kemudian subsidi ke wisatawan ke Bali. Kemudian banyak wisatawan Tiongkok datang, ini yang membuat pariwisata Bali hidup,” urainya. “Jadi Bali perlu mafia ini, uangnya mereka triliun dan bisnisnya mereka membangun jaringan toko model di Bali, di seluruh dunia,” kata dia.

Baca Juga :  Bertemu Dubes Swiss, Koster Tertarik Kembangkan Industri Arloji

Atas kondisi ini Parta mengatakan, Bali tidak perlu pemain, pebisnis nakal namun perlu yang bagus. “Kalau jenis mafia, dia untung kemudian setelah banyak untung pergi. Kami perlu yang mau menjaga Bali, menjaga dan merawat budaya Bali,” kata Parta menanggapi.

Seperti halnya berita sebelumnya, kasus ini mencuat yang menyatakan bahwa jaringan toko – toko Tiongkok merusak citra pariwisata Bali. Atas masalah ini, langkah tegas sudah diputuskan DPRD Bali. DPRD Bali mengeluarkan rekomendasi. Isinya sangat tegas dan sangat berani. Rekomendasi yang ditandatangani oleh Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama itu memasang empat point sikap.


Most Read

Artikel Terbaru

/