alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Atasi Masalah Sampah, Padangtegal Maksimalkan Rumah Kompos

GIANYAR, BALI EXPRESS- Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar sejak tahun 2012 mulai membuat pengolahan kompos. Tujuannya untuk membiasakan diri setiap warga memilah sampah rumah tangga, sekaligus meminimalisasi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Bendesa Adat Padangtegal I Made Gandra menjelaskan, sebagai masyarakat Bali tentunya sudah menyatu dengan alam sejak dahulu. Sehingga, adanya keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. 

Khusus untuk lingkungan sendiri, lanjutbya, di Desa Padangtegal memiliki Hutan Kota dan sebuah beji atau sumber mata air. Pihaknya memiliki komitmen menyelamatkan lingkungan bersama warga. 

“Desa adat harus memiliki komitmen menyelamatkan lingkungan dengan cara pengelolaan limbah sampah atau daur ulang secara berkesinambungan. Cuma tidak sedikit orang ingin bersih di tempatnya, tapi bahan daur ulang dibawa ke tempat lain. Maka kami sejak 2012 sudah mulai membangun rumah kompos ini,” jelasnya, Selasa (15/12).

Selain itu, pihaknya juga menyadari bahwa penanganan sampah bukan saja tangung jawab pemerintah. Jika masing-masing desa adat dapat mengelola sendiri sampah di desanya sebelum dibuang ke TPA, lanjutnya, permasalahan sampah akan ringan. Apalag bisa didaur ulang dijadikan kompos yang sangat bermanfaat untuk tanah. 

Dikatakan Made Gandra, menggarap sampah harus dilakukan secara bersama sama, ada tempat edukasinya. Tanpa edukasi yang benar atau pengolahan yang benar, akan sulit untuk melangkah. 

“Mulanya sangat sulit sekali mengedukasi masyarakat agar bersama-sama memilah sampah dari rumah. Namun kini warga sudah sadar,” tandas Gandra.

Ditambahkan Manager Rumah Kompos Padangtegal, I Dewa Gede Satya Deva,  di Rumah Kompos bukan saja ada tempat pengolahan sampah, juga ada  tempat edukasi sebagai penyelamat lingkungan. 

“Sampai saat ini di Rumah Kompos Padangtegal hanya mendatangkan sampah hasil pilahan dari masyarakat Padangtegal saja. Jika tidak dipilah petugas juga tidak akan mau angkut,” sambungnya.

Sejak 2012 didirikan, terdapat 57 bak pengolahan kompos untuk mengolah sampah organik. Sedangkan sampah yang non organik juga dilakukan pemilahan, mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak. 

Sementara yang tidak bisa didaur ulang, akan dibawa ke TPA. Sehingga dengan demikian volume sampah yang dibawa ke TPA akan menjadi lebih sedikit jumlahnya.

“Total ada 40 orang pekerja. Ada yang bertugas mengangkut sampah non organik mulai pukul 20.00 hingga pukul 00.00 Wita dengan pakaian biru. Sementara yang mengambil sampah organik pukul 03.00 hingga pukul 07.00 Wita dengan pakaian hijau. Sampai di Rumah Kompos kembali dilakukan pencacahan untuk mempercepat proses pembuatan kompos,” tandas Deva.

Untuk menghilangkan bau, pihaknya menyemprotkan bahan yang berfungsi mepercepat pemkomposan dan pengurangan bau. Setelah jadi kompos akan dikemas dan ditimbang terlebih dulu sebelum dijual. 

Edukasi yang lain, lanjutnya, pihak desa juga membuat pararem yang mewajibkan warga, penduduk pendatang wajib ikut serta dalam pengolahan sampah yang ada di desa setempat.

 


GIANYAR, BALI EXPRESS- Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar sejak tahun 2012 mulai membuat pengolahan kompos. Tujuannya untuk membiasakan diri setiap warga memilah sampah rumah tangga, sekaligus meminimalisasi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Bendesa Adat Padangtegal I Made Gandra menjelaskan, sebagai masyarakat Bali tentunya sudah menyatu dengan alam sejak dahulu. Sehingga, adanya keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. 

Khusus untuk lingkungan sendiri, lanjutbya, di Desa Padangtegal memiliki Hutan Kota dan sebuah beji atau sumber mata air. Pihaknya memiliki komitmen menyelamatkan lingkungan bersama warga. 

“Desa adat harus memiliki komitmen menyelamatkan lingkungan dengan cara pengelolaan limbah sampah atau daur ulang secara berkesinambungan. Cuma tidak sedikit orang ingin bersih di tempatnya, tapi bahan daur ulang dibawa ke tempat lain. Maka kami sejak 2012 sudah mulai membangun rumah kompos ini,” jelasnya, Selasa (15/12).

Selain itu, pihaknya juga menyadari bahwa penanganan sampah bukan saja tangung jawab pemerintah. Jika masing-masing desa adat dapat mengelola sendiri sampah di desanya sebelum dibuang ke TPA, lanjutnya, permasalahan sampah akan ringan. Apalag bisa didaur ulang dijadikan kompos yang sangat bermanfaat untuk tanah. 

Dikatakan Made Gandra, menggarap sampah harus dilakukan secara bersama sama, ada tempat edukasinya. Tanpa edukasi yang benar atau pengolahan yang benar, akan sulit untuk melangkah. 

“Mulanya sangat sulit sekali mengedukasi masyarakat agar bersama-sama memilah sampah dari rumah. Namun kini warga sudah sadar,” tandas Gandra.

Ditambahkan Manager Rumah Kompos Padangtegal, I Dewa Gede Satya Deva,  di Rumah Kompos bukan saja ada tempat pengolahan sampah, juga ada  tempat edukasi sebagai penyelamat lingkungan. 

“Sampai saat ini di Rumah Kompos Padangtegal hanya mendatangkan sampah hasil pilahan dari masyarakat Padangtegal saja. Jika tidak dipilah petugas juga tidak akan mau angkut,” sambungnya.

Sejak 2012 didirikan, terdapat 57 bak pengolahan kompos untuk mengolah sampah organik. Sedangkan sampah yang non organik juga dilakukan pemilahan, mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak. 

Sementara yang tidak bisa didaur ulang, akan dibawa ke TPA. Sehingga dengan demikian volume sampah yang dibawa ke TPA akan menjadi lebih sedikit jumlahnya.

“Total ada 40 orang pekerja. Ada yang bertugas mengangkut sampah non organik mulai pukul 20.00 hingga pukul 00.00 Wita dengan pakaian biru. Sementara yang mengambil sampah organik pukul 03.00 hingga pukul 07.00 Wita dengan pakaian hijau. Sampai di Rumah Kompos kembali dilakukan pencacahan untuk mempercepat proses pembuatan kompos,” tandas Deva.

Untuk menghilangkan bau, pihaknya menyemprotkan bahan yang berfungsi mepercepat pemkomposan dan pengurangan bau. Setelah jadi kompos akan dikemas dan ditimbang terlebih dulu sebelum dijual. 

Edukasi yang lain, lanjutnya, pihak desa juga membuat pararem yang mewajibkan warga, penduduk pendatang wajib ikut serta dalam pengolahan sampah yang ada di desa setempat.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/