alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Polisi Temukan Titik Terang Terduga Pelaku Pencabulan Gadis Difabel di Buleleng

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pengaduan Pencabulan terhadap gadis disabilities di Buleleng mulai menemukan titik terang. Teradu yang sebelumnya dikatakan pemangku, sejatinga adalah seorang sarati atau tukang banten. Diketahui pula jro sarati ini tinggal di lingkungan rumah gadis tersbut.

“Terkait teradu berdasarkan pengakuan korban adalah laki-laki yang tinggal di lingkungan rumahnya. Profesinya sebagai tukang banten. Korban dan teradu saling tau. Tidak kenal dekat,” ungkap Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya, Minggu (16/1) siang.

Sumarjaya mengatakan, kasus ini Masih berupa pengaduan masyarakat dan perlu dikambangkan lagi. Pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan untuk menyikapi aduan yang disampaikan oleh orangtua gadis disabilitas tersebut. “Ini masih tahap proses penyelidikan. Korban didampingi orangtua, TP2P2A, Peksos mengantarkan anak ini ke psikolog untuk pemeriksaan kejiwaan,” terangnya.

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap gadis yang diketahui berusia 21 tahun ini guna memastikan kondisi kejiwaannya, apakah benar-bemar mengalami keterbelakangan mental. “Polisi perlu memastikan itu, kalau dia benar-bemar keterbelakangan mental. Karena ini usianya sama-sama dewasa. Kalau dilakukan suka sama suka ya silahkan. Tapi kalau benar disabilitas, maka bisa dilanjutkan ke proses hukum,” ungkapnya.

Terkait aduan ini, polisi baru memeriksa orangtua serta korban sebagai saksi. Saat dilakukan pemeriksaan kasus serta interogasi, menurut Sumarjaya korban nampak mengingat-mengingat kejadian yang dialami. Karena kondisi korban yang tidak normal, komunikasi penyidik pun sedikit terkendala.

Sebelumnya, dugaan persetubuhan terhadap penyandang disabilitas terjadi di Kecamatan Sawan. Dugaan itu mencuat saat orangtua korban membuat pengaduan masyarakat (Dumas) bersama korban ke Polres Buleleng pada Jumat (71) lalu. Orangtua korban tidak terima dengan perlakuan itu. Selain mendatangi Polres Buleleng, orangtua korban juga mendatangi Kantor Pengendalian Pendudul Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Buleleng. Dihadapan psikolog gadis tersebut bercerita secara vulgar, menuturkan apa yang dialami dirinya itu.

 






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pengaduan Pencabulan terhadap gadis disabilities di Buleleng mulai menemukan titik terang. Teradu yang sebelumnya dikatakan pemangku, sejatinga adalah seorang sarati atau tukang banten. Diketahui pula jro sarati ini tinggal di lingkungan rumah gadis tersbut.

“Terkait teradu berdasarkan pengakuan korban adalah laki-laki yang tinggal di lingkungan rumahnya. Profesinya sebagai tukang banten. Korban dan teradu saling tau. Tidak kenal dekat,” ungkap Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya, Minggu (16/1) siang.

Sumarjaya mengatakan, kasus ini Masih berupa pengaduan masyarakat dan perlu dikambangkan lagi. Pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan untuk menyikapi aduan yang disampaikan oleh orangtua gadis disabilitas tersebut. “Ini masih tahap proses penyelidikan. Korban didampingi orangtua, TP2P2A, Peksos mengantarkan anak ini ke psikolog untuk pemeriksaan kejiwaan,” terangnya.

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap gadis yang diketahui berusia 21 tahun ini guna memastikan kondisi kejiwaannya, apakah benar-bemar mengalami keterbelakangan mental. “Polisi perlu memastikan itu, kalau dia benar-bemar keterbelakangan mental. Karena ini usianya sama-sama dewasa. Kalau dilakukan suka sama suka ya silahkan. Tapi kalau benar disabilitas, maka bisa dilanjutkan ke proses hukum,” ungkapnya.

Terkait aduan ini, polisi baru memeriksa orangtua serta korban sebagai saksi. Saat dilakukan pemeriksaan kasus serta interogasi, menurut Sumarjaya korban nampak mengingat-mengingat kejadian yang dialami. Karena kondisi korban yang tidak normal, komunikasi penyidik pun sedikit terkendala.

Sebelumnya, dugaan persetubuhan terhadap penyandang disabilitas terjadi di Kecamatan Sawan. Dugaan itu mencuat saat orangtua korban membuat pengaduan masyarakat (Dumas) bersama korban ke Polres Buleleng pada Jumat (71) lalu. Orangtua korban tidak terima dengan perlakuan itu. Selain mendatangi Polres Buleleng, orangtua korban juga mendatangi Kantor Pengendalian Pendudul Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Buleleng. Dihadapan psikolog gadis tersebut bercerita secara vulgar, menuturkan apa yang dialami dirinya itu.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/