alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Muncul Chat Diduga dari Sulinggih, Panggil Sayang dan Anak Kita

DENPASAR, BALI EXPRESS — Kasus pesan sulinggih mengajak membeli dulang masih belum usai, sudah ada pesan-pesan lain yang bermunculan menyangkut nama yang diduga Shri Bhagawan Ida Mas Dalem Segara. 

Sebelum melebar permasalahannya, pengacara yang ditunjuk sang sulinggih telah menyampaikan tantangan untuk berargumen di Kantor Parisadha Hindu Dharma (PHDI) bagi orang-orang yang dianggap menjelekkan kliennya. 

Seperti pesan percakapan yang tersebar di media sosial dari story akun instagram milik perempuan berinisial DMP, diduga antara Ida Mas Dalem Segara dan seorang wanita. Berlangsung pada (17/11/2019), dalam pesan tersebut tertulis pertanyaan yang diawali dengan pilihan lewat aplikasi mana yang lebih baik digunakan untuk berkomunikasi antara mereka berdua. 

Tak lupa juga si wanita bertanya terkait HP sang sulinggih, apakah sering dibawa oleh sang admin atau tidak. Dijawablah oleh sang sulinggih dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang memegang HP-nya sendiri dibarengi sebutan Sayang. 

“Lewat WA aja yang (sayang), ya libur. Ida yang megang HP-nya,” tandas orang yang dikatakan sebagai sang sulinggih. Jawaban tersebut lalu diiyakan oleh si wanita dan disetujui juga oleh sang sulinggih serta meminta untuk dikabari dengan segera. 

Percakapan pun berlanjut dengan yang diduga Ida Mas Dalem Segara bertanya kepada lawan bicaranya sudah mandi atau belum yang direspon dengan menyebutkan bahwa wanita itu baru saja bangun dari tidurnya. 

Wanita itu pun diminta untuk langsung bangun dan sarapan, dan  si wanita balik bertanya kepada sulinggih. “Ida lagi apa? Sudah sarapan?” tanyanya. Dan pesan itu berlanjut hingga si wanita bertanya begaimana eloknya memanggil sang sulinggih secara akrab dan sopan. “Ida. Masak sayang wkwkwk (tertawa),” canda sang sulinggih.

Adapun tangkapan layar lain yang tak kalah menyedot perhatian diunggah juga oleh DMP yang diduga merupakan cuitan di akun Twitter pada saat Ida Mas Dalem Segara diduga masih menjadi welaka dengan akunnya yang bernama Dika Putra. 

Cuitan itu diunggah pada (17/11/2015), yang pertama terlihat akun tersebut menulis “Km (kamu) sm (sama) keluargamu terlalu jahat nyakitin perasaanku! Terutama kakakmu gak jentel jadi cowok,” tuturnya. 

Ditulis juga olehnya yang mengatakan kangen dengan anak mereka. “Kangen anak kami,” disertai foto Ultrasonografi (USG) memperlihatkan bayi yang tumbuh saat diperiksakan ke dokter pada (19/10/2015). “Makin hari aku makin kangen kebiasaan kita,” imbuhnya. 

Tak lupa DMP menuliskan rasa penasarannya. “Pertinyiinnyi (pertanyaannya, anak yang ditahun 2015 ini kemana? Udah jadi mangku kan? Wah sing beneh ne (gak bener ini),” herannya.

Unggahan-unggahan bermunculan terkait pengakuan sebagai korban dari Ida Mas Dalem Segara berkaitan dengan apa yang sering dibahas oleh salah satu orang yang dilaporkan sang sulinggih ke polisi yaitu Nayaka Pidada. 

Nayaka seempat menyebutkan bahwasanya dirinya sering menerima pengakuan serupa. Hal itu menyiratkan apa yang pernah dikataannya bukanlah omong kosong belaka. Disampaikan oleh Nayaka jikalau ada pengakuan lain yang menyebutkan sebagai korban, dirinya akan terus bersuara menyampaikan keadilan bagi umat terhadap sesuatu yang dianggap keliru dilakukan oleh sulinggih.

“Saya banyak mendapatkan chat pribadi, banyak perempuan-perempuan yang mulai speak up (bicara), atas perlakukan sama dari Ida Mas Dalem. Kenapa mereka ngomong sama saya mungkin karena dianggap berani,” ujar Nayaka Pidada.

Ketika disinggung mengenai tantangan yang diberikan oleh pihak sulinggih kepadanya untuk berargumen di PHDI, Nayaka mengaku tidak akan datang. Hal itu karena apa yang dilaporkan sang sulinggih atas dirinya merupakan masalah yang berbeda dari chat dulang sehingga cukup diselesaikan di Polda Bali, tempat dirinya dilaporkan. 

“Kan sudah laporan ke Polda jadi ngejelasinnya di Polda aja, nyaplir kalau ke PHDI karena masalah yang dilaporkan atas saya itu berbeda,” sebutnya. 

 Ditambahkan olehnya jangan menggunakan agama sebagai kedok untuk menutupi kejahatan “Jangan pakai agama untuk menutupi kebejatan, jangan pakai agama sebagai kedok untuk menjalankan kejahatan,” pungkasnya. 

Sementara itu, musisi top Bali Ray Peni membuat lagu unik yang menyindir fenomena kasus sulingih dulang. Judulnya, Wayan bongol yen sube ‘komplin’ sing dadi baang godoh. Maksudnya bila sudah ngerundel atau komplin tidak akan mau dikasih pisang goreng. Entah siapa yang komplin  dan harus diberikan yang diinginkan, dimaksudkan penyanyi Bali ini. Coba simak saja lirik lagu Wayan Bongol seperti ini :

Telahang malu buduhe. Telahang malu bengale. Telahang malu nakale. Telahang malu playboy ne. Adengin malu ngutik lontar. Pang de care bungsil mekocok sing ade isi. Liwatin brahmacarine. Liwatin grehasta asramane. Adengin nyemak wana prasta. Ape buin ngelarang biksuka. 

Pang de kanti di sube melinggih. Nu demen nyemak gae lebih. Wayan bongol yen sube komplin sing dadi baang godoh. Miriban sampun panumaya. Pemurtian zaman kaliyuga. Gumine ngansan megrudugan. Manusane ngansan bingung. Kije laku nunas tuntunan.

Penuntune mabuk asmara.Sing nyalahang mase bes keto jegeg-jegegne bajang-bajang Bali ne. Ape buin ye misi mepayas adat Bali, Ngelangenin hati. Tiang doen mekite pang cara bebek muani. Luane asatak muanine tiang dogen.

Begitulah lirik lagu Wayan Bongol Yen Sube Komplin Sing Dadi Baang Godoh ciptaan Ray Peni yang seolah mengkritik apa yang sedang viral belakangan ini mengenai adanya oknum yang diduga seorang sulinggih yang terlibat kasus asusila.

Video Ray Peni menyanyikan lagu tersebut diunggah pada akun Facebook Ray Peni, Jumat (12/3) dan langsung mendapatkan 401 komentar, 2.143 like dan 2.223 kali dibagikan oleh netizen.

Di samping itu, lagu tersebut juga sudah diunggah kembali lengkap dengan lirik di youtube, sehingga kini lagu tersebut booming.

Melalui lirik lagu tersebut, tersirat pesan agar melepas segala godaan keduniawian sebelum memutuskan untuk mempelajari agama lebih dalam, apalagi sampai menjadi pemuka agama.

Sayangnya, penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Gianyar, itu enggan berkomentar banyak mengenai lagu tersebut. “Sampunang (diberitakan) nggih, biar tidak tambah ramai,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Senin (15/3). (ges)


DENPASAR, BALI EXPRESS — Kasus pesan sulinggih mengajak membeli dulang masih belum usai, sudah ada pesan-pesan lain yang bermunculan menyangkut nama yang diduga Shri Bhagawan Ida Mas Dalem Segara. 

Sebelum melebar permasalahannya, pengacara yang ditunjuk sang sulinggih telah menyampaikan tantangan untuk berargumen di Kantor Parisadha Hindu Dharma (PHDI) bagi orang-orang yang dianggap menjelekkan kliennya. 

Seperti pesan percakapan yang tersebar di media sosial dari story akun instagram milik perempuan berinisial DMP, diduga antara Ida Mas Dalem Segara dan seorang wanita. Berlangsung pada (17/11/2019), dalam pesan tersebut tertulis pertanyaan yang diawali dengan pilihan lewat aplikasi mana yang lebih baik digunakan untuk berkomunikasi antara mereka berdua. 

Tak lupa juga si wanita bertanya terkait HP sang sulinggih, apakah sering dibawa oleh sang admin atau tidak. Dijawablah oleh sang sulinggih dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang memegang HP-nya sendiri dibarengi sebutan Sayang. 

“Lewat WA aja yang (sayang), ya libur. Ida yang megang HP-nya,” tandas orang yang dikatakan sebagai sang sulinggih. Jawaban tersebut lalu diiyakan oleh si wanita dan disetujui juga oleh sang sulinggih serta meminta untuk dikabari dengan segera. 

Percakapan pun berlanjut dengan yang diduga Ida Mas Dalem Segara bertanya kepada lawan bicaranya sudah mandi atau belum yang direspon dengan menyebutkan bahwa wanita itu baru saja bangun dari tidurnya. 

Wanita itu pun diminta untuk langsung bangun dan sarapan, dan  si wanita balik bertanya kepada sulinggih. “Ida lagi apa? Sudah sarapan?” tanyanya. Dan pesan itu berlanjut hingga si wanita bertanya begaimana eloknya memanggil sang sulinggih secara akrab dan sopan. “Ida. Masak sayang wkwkwk (tertawa),” canda sang sulinggih.

Adapun tangkapan layar lain yang tak kalah menyedot perhatian diunggah juga oleh DMP yang diduga merupakan cuitan di akun Twitter pada saat Ida Mas Dalem Segara diduga masih menjadi welaka dengan akunnya yang bernama Dika Putra. 

Cuitan itu diunggah pada (17/11/2015), yang pertama terlihat akun tersebut menulis “Km (kamu) sm (sama) keluargamu terlalu jahat nyakitin perasaanku! Terutama kakakmu gak jentel jadi cowok,” tuturnya. 

Ditulis juga olehnya yang mengatakan kangen dengan anak mereka. “Kangen anak kami,” disertai foto Ultrasonografi (USG) memperlihatkan bayi yang tumbuh saat diperiksakan ke dokter pada (19/10/2015). “Makin hari aku makin kangen kebiasaan kita,” imbuhnya. 

Tak lupa DMP menuliskan rasa penasarannya. “Pertinyiinnyi (pertanyaannya, anak yang ditahun 2015 ini kemana? Udah jadi mangku kan? Wah sing beneh ne (gak bener ini),” herannya.

Unggahan-unggahan bermunculan terkait pengakuan sebagai korban dari Ida Mas Dalem Segara berkaitan dengan apa yang sering dibahas oleh salah satu orang yang dilaporkan sang sulinggih ke polisi yaitu Nayaka Pidada. 

Nayaka seempat menyebutkan bahwasanya dirinya sering menerima pengakuan serupa. Hal itu menyiratkan apa yang pernah dikataannya bukanlah omong kosong belaka. Disampaikan oleh Nayaka jikalau ada pengakuan lain yang menyebutkan sebagai korban, dirinya akan terus bersuara menyampaikan keadilan bagi umat terhadap sesuatu yang dianggap keliru dilakukan oleh sulinggih.

“Saya banyak mendapatkan chat pribadi, banyak perempuan-perempuan yang mulai speak up (bicara), atas perlakukan sama dari Ida Mas Dalem. Kenapa mereka ngomong sama saya mungkin karena dianggap berani,” ujar Nayaka Pidada.

Ketika disinggung mengenai tantangan yang diberikan oleh pihak sulinggih kepadanya untuk berargumen di PHDI, Nayaka mengaku tidak akan datang. Hal itu karena apa yang dilaporkan sang sulinggih atas dirinya merupakan masalah yang berbeda dari chat dulang sehingga cukup diselesaikan di Polda Bali, tempat dirinya dilaporkan. 

“Kan sudah laporan ke Polda jadi ngejelasinnya di Polda aja, nyaplir kalau ke PHDI karena masalah yang dilaporkan atas saya itu berbeda,” sebutnya. 

 Ditambahkan olehnya jangan menggunakan agama sebagai kedok untuk menutupi kejahatan “Jangan pakai agama untuk menutupi kebejatan, jangan pakai agama sebagai kedok untuk menjalankan kejahatan,” pungkasnya. 

Sementara itu, musisi top Bali Ray Peni membuat lagu unik yang menyindir fenomena kasus sulingih dulang. Judulnya, Wayan bongol yen sube ‘komplin’ sing dadi baang godoh. Maksudnya bila sudah ngerundel atau komplin tidak akan mau dikasih pisang goreng. Entah siapa yang komplin  dan harus diberikan yang diinginkan, dimaksudkan penyanyi Bali ini. Coba simak saja lirik lagu Wayan Bongol seperti ini :

Telahang malu buduhe. Telahang malu bengale. Telahang malu nakale. Telahang malu playboy ne. Adengin malu ngutik lontar. Pang de care bungsil mekocok sing ade isi. Liwatin brahmacarine. Liwatin grehasta asramane. Adengin nyemak wana prasta. Ape buin ngelarang biksuka. 

Pang de kanti di sube melinggih. Nu demen nyemak gae lebih. Wayan bongol yen sube komplin sing dadi baang godoh. Miriban sampun panumaya. Pemurtian zaman kaliyuga. Gumine ngansan megrudugan. Manusane ngansan bingung. Kije laku nunas tuntunan.

Penuntune mabuk asmara.Sing nyalahang mase bes keto jegeg-jegegne bajang-bajang Bali ne. Ape buin ye misi mepayas adat Bali, Ngelangenin hati. Tiang doen mekite pang cara bebek muani. Luane asatak muanine tiang dogen.

Begitulah lirik lagu Wayan Bongol Yen Sube Komplin Sing Dadi Baang Godoh ciptaan Ray Peni yang seolah mengkritik apa yang sedang viral belakangan ini mengenai adanya oknum yang diduga seorang sulinggih yang terlibat kasus asusila.

Video Ray Peni menyanyikan lagu tersebut diunggah pada akun Facebook Ray Peni, Jumat (12/3) dan langsung mendapatkan 401 komentar, 2.143 like dan 2.223 kali dibagikan oleh netizen.

Di samping itu, lagu tersebut juga sudah diunggah kembali lengkap dengan lirik di youtube, sehingga kini lagu tersebut booming.

Melalui lirik lagu tersebut, tersirat pesan agar melepas segala godaan keduniawian sebelum memutuskan untuk mempelajari agama lebih dalam, apalagi sampai menjadi pemuka agama.

Sayangnya, penyanyi asal Kecamatan Sukawati, Gianyar, itu enggan berkomentar banyak mengenai lagu tersebut. “Sampunang (diberitakan) nggih, biar tidak tambah ramai,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Senin (15/3). (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/