alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Sampah Medis Bocor Ditangani PT Pria, Polda Bali Masih Lidik

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kasus rekanan pihak RS Sanglah, PT Pria, yang mengangkut limbah medis ke Jawa Timur limbahnya merembes di jalanan, kini masih lidik di Polda Bali. 

Masalah rembesan limbah medis ini terungkap sebulan lalu. Mobil transporter yang digunakan PT Pria untuk mengangkut limbah medis, ditahan oleh Polda Bali karena kecerobohan dalam bekerja. Aparat memergoki adanya ceceran limbah medis dari limbah berbahaya atau beracun (B3) saat proses pengiriman limbah ke Jawa Timur. 

Ketika masalah ini dikonfirmasi, Dirreskrimsus Polda Bali untuk meminta  ke Subdit. Itupun hanya mendapat jawaban singkat. “Kasusnya kini sudah dalam proses penyelidikan (lidik),” terang Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Bali, AKBP Umar, Senin (15/3).

Masalah yang dilakukan PT Pria bukan hanya terjadi di Bali. Empat tahun silam, tepatnya 2017,  PT Pria pernah melakukan hal yang sama.

Dikutip dari halaman VOA Indonesia, saat itu PT  Pria yang terdapat di Desa Lakardowo, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan satu-satunya perusahaan pengolahan limbah resmi di Jawa Timur, yang melayani pengolahan limbah B3 dari daerah di Jawa Timur, serta luar Provinsi, seperti Bali dan Nusa Tenggara. 

Namun, dalam proses pengiriman limbah medis tersebut menggunakan mobil transporter yang bocor sehingga limbahnya merembes dan berceceran.

Tentu saja warga Lakardowo melaporkan kejadian itu ke kantor Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, di Sidoarjo, karena hal itu membahayakan kesehatan warga. 

Pasalnya, tak hanya rembesan yang berceceran. “Isinya selang infus, ada kantong kencing, ada bekas alat suntik dan banyak itu, ya jatuh dari kendaraan, berarti kan menunjukkan bahwa dia sembrono, ini kan barang berbahaya, tapi kok sampai bisa jatuh tercecer di jalan,” kata Nurasim, Ketua Perkumpulan Pendowo Bangkit (Penduduk Lakardowo Bangkit) dikutip dari dari VOA Indonesia.

Dengan treck record seperti itu, PT Pria lagi dipercaya oleh RSUP Sanglah untuk mengelola limbah medisnya. 

Dikonfirmasikan ke pihak RS Sanglah, terkait pihak ketiga bermasalah yang saat ini menjadi rekanan RSUP Sanglah dalam pengolahan dan pengangkutan limbah medis padat ini, Kasubbag Humas RSUP Sanglah Denpasar, I Dewa Ketut Kresna menjelaskan, akhir pekan kemarin, untuk saat ini RSUP Sanglah masih menggunakan PT Pria yang berlokasi di Jawa Timur sebagai rekanan dalam pengangkutan dan pengolahan limbah medis di RSUP Sanglah. 

Diakuinya kerjasama dengan PT Pria sebenarnya sudah berakhir per tanggal 1 Maret 2021. Namun, PT Pria ini, lanjut Kresna, masih digunakan hingga tiga bulan mendatang, yakni Maret, April dan Mei, sebagai rekanan karena proses perencanaan tender yang dilakukan masih tersendat masalah teknis.

Diakuinya memang ada masalah kacaunya proses tender di RS Sanglah, sehingga belum ada pihak ketiga yang ditunjuk sebagai pemenang tender untuk pengantaran dan pengolahan limbah medis padat ini. 

“Karena belum ada pemenang tendernya, maka sampai tiga bulan kedepan kami masih menggunakan jasa PT Pria, sambil menunggu proses tender dilakukan,” tambahnya.

Dijelaskannya, lama kontrak dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pengolahan limbah medis ke Jawa Timur  berlangsung selama satu tahun. 

“Setiap tahun kami menerima pengajuan dari perusahaan pengolahan limbah medis untuk mengikuti mekanisme tender yang kami tetapkan. Untuk tahun ini prosesnya masih tertunda karena masalah teknis, sehingga untuk sementara kami masih memakai perusahaan yang sebelumnya, yakni PT Pria supaya sampah medis tidak menumpuk dalam waktu yang lama,” urainya.

Sementara itu, terkait pengolahan sampah medis padat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah yang hingga saat ini masih dikirim ke Jawa Timur dengan menggunakan jasa pihak ketiga,  Direktur Perencanaan, Organisasi dan Umum RSUP Sanglah, dr. Ni Luh Dharma Kerti Natih, MHSM,

mengakui RSUP Sanglah hingga saat ini belum mampu mengolah sendiri sampah medis padat yang dihasilkan.

Hal ini dikatakannya karena incinerator milik RSUP Sanglah tidak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. “Ini karena incinerator RSUP Sanglah tidak memenuhi dari sisi uji fungsi dan keamanannya. Sehingga tidak memiliki syarat operasional dan sampai saat ini incinerator tidak berfungsi,” urainya.

Sedangkan alat lainnya, dr.Natih mengakui RSUP Sanglah memang belum memilikinya. Namun demikian, untuk tahun 2021, RSUP Sanglah mendapatkan hibah alat pengolahan sampah plastik dari Kementerian Kesehatan. 

Dengan adanya hibah ini, dr.Natih mengatakan di tahun 2021, RSUP Sanglah bisa melakukan pengolahan sampah sendiri. Sehingga volume sampah yang akan di kirim ke luar Bali bisa dikurangi. 

“Jika alat ini dioperasikan, maka akan mampu mengurangi sekitar 30 persen dari sampah padat yang dihasilkan oleh Rumah Sakit Sanglah, sehingga akan bisa menghemat biaya pengiriman sampah,” ungkapnya.

Selain itu, dengan adanya alat pengolahan sampah plastik ini, lanjutnya, RSUP Sanglah bisa melakukan pengolahan sampah sendiri. Khususnya untuk sampah medis yang terbuat dari bahan plastik yang sifatnya steril. Sehingga sampah tersebut bisa dijual dan bisa di daur ulang kembali. (ges)

 


DENPASAR, BALI EXPRESS-Kasus rekanan pihak RS Sanglah, PT Pria, yang mengangkut limbah medis ke Jawa Timur limbahnya merembes di jalanan, kini masih lidik di Polda Bali. 

Masalah rembesan limbah medis ini terungkap sebulan lalu. Mobil transporter yang digunakan PT Pria untuk mengangkut limbah medis, ditahan oleh Polda Bali karena kecerobohan dalam bekerja. Aparat memergoki adanya ceceran limbah medis dari limbah berbahaya atau beracun (B3) saat proses pengiriman limbah ke Jawa Timur. 

Ketika masalah ini dikonfirmasi, Dirreskrimsus Polda Bali untuk meminta  ke Subdit. Itupun hanya mendapat jawaban singkat. “Kasusnya kini sudah dalam proses penyelidikan (lidik),” terang Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Bali, AKBP Umar, Senin (15/3).

Masalah yang dilakukan PT Pria bukan hanya terjadi di Bali. Empat tahun silam, tepatnya 2017,  PT Pria pernah melakukan hal yang sama.

Dikutip dari halaman VOA Indonesia, saat itu PT  Pria yang terdapat di Desa Lakardowo, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan satu-satunya perusahaan pengolahan limbah resmi di Jawa Timur, yang melayani pengolahan limbah B3 dari daerah di Jawa Timur, serta luar Provinsi, seperti Bali dan Nusa Tenggara. 

Namun, dalam proses pengiriman limbah medis tersebut menggunakan mobil transporter yang bocor sehingga limbahnya merembes dan berceceran.

Tentu saja warga Lakardowo melaporkan kejadian itu ke kantor Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, di Sidoarjo, karena hal itu membahayakan kesehatan warga. 

Pasalnya, tak hanya rembesan yang berceceran. “Isinya selang infus, ada kantong kencing, ada bekas alat suntik dan banyak itu, ya jatuh dari kendaraan, berarti kan menunjukkan bahwa dia sembrono, ini kan barang berbahaya, tapi kok sampai bisa jatuh tercecer di jalan,” kata Nurasim, Ketua Perkumpulan Pendowo Bangkit (Penduduk Lakardowo Bangkit) dikutip dari dari VOA Indonesia.

Dengan treck record seperti itu, PT Pria lagi dipercaya oleh RSUP Sanglah untuk mengelola limbah medisnya. 

Dikonfirmasikan ke pihak RS Sanglah, terkait pihak ketiga bermasalah yang saat ini menjadi rekanan RSUP Sanglah dalam pengolahan dan pengangkutan limbah medis padat ini, Kasubbag Humas RSUP Sanglah Denpasar, I Dewa Ketut Kresna menjelaskan, akhir pekan kemarin, untuk saat ini RSUP Sanglah masih menggunakan PT Pria yang berlokasi di Jawa Timur sebagai rekanan dalam pengangkutan dan pengolahan limbah medis di RSUP Sanglah. 

Diakuinya kerjasama dengan PT Pria sebenarnya sudah berakhir per tanggal 1 Maret 2021. Namun, PT Pria ini, lanjut Kresna, masih digunakan hingga tiga bulan mendatang, yakni Maret, April dan Mei, sebagai rekanan karena proses perencanaan tender yang dilakukan masih tersendat masalah teknis.

Diakuinya memang ada masalah kacaunya proses tender di RS Sanglah, sehingga belum ada pihak ketiga yang ditunjuk sebagai pemenang tender untuk pengantaran dan pengolahan limbah medis padat ini. 

“Karena belum ada pemenang tendernya, maka sampai tiga bulan kedepan kami masih menggunakan jasa PT Pria, sambil menunggu proses tender dilakukan,” tambahnya.

Dijelaskannya, lama kontrak dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pengolahan limbah medis ke Jawa Timur  berlangsung selama satu tahun. 

“Setiap tahun kami menerima pengajuan dari perusahaan pengolahan limbah medis untuk mengikuti mekanisme tender yang kami tetapkan. Untuk tahun ini prosesnya masih tertunda karena masalah teknis, sehingga untuk sementara kami masih memakai perusahaan yang sebelumnya, yakni PT Pria supaya sampah medis tidak menumpuk dalam waktu yang lama,” urainya.

Sementara itu, terkait pengolahan sampah medis padat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah yang hingga saat ini masih dikirim ke Jawa Timur dengan menggunakan jasa pihak ketiga,  Direktur Perencanaan, Organisasi dan Umum RSUP Sanglah, dr. Ni Luh Dharma Kerti Natih, MHSM,

mengakui RSUP Sanglah hingga saat ini belum mampu mengolah sendiri sampah medis padat yang dihasilkan.

Hal ini dikatakannya karena incinerator milik RSUP Sanglah tidak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. “Ini karena incinerator RSUP Sanglah tidak memenuhi dari sisi uji fungsi dan keamanannya. Sehingga tidak memiliki syarat operasional dan sampai saat ini incinerator tidak berfungsi,” urainya.

Sedangkan alat lainnya, dr.Natih mengakui RSUP Sanglah memang belum memilikinya. Namun demikian, untuk tahun 2021, RSUP Sanglah mendapatkan hibah alat pengolahan sampah plastik dari Kementerian Kesehatan. 

Dengan adanya hibah ini, dr.Natih mengatakan di tahun 2021, RSUP Sanglah bisa melakukan pengolahan sampah sendiri. Sehingga volume sampah yang akan di kirim ke luar Bali bisa dikurangi. 

“Jika alat ini dioperasikan, maka akan mampu mengurangi sekitar 30 persen dari sampah padat yang dihasilkan oleh Rumah Sakit Sanglah, sehingga akan bisa menghemat biaya pengiriman sampah,” ungkapnya.

Selain itu, dengan adanya alat pengolahan sampah plastik ini, lanjutnya, RSUP Sanglah bisa melakukan pengolahan sampah sendiri. Khususnya untuk sampah medis yang terbuat dari bahan plastik yang sifatnya steril. Sehingga sampah tersebut bisa dijual dan bisa di daur ulang kembali. (ges)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/