alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Perayaan Waisak di Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar Dihadiri Umat

DENPASAR, BALI EXPRESS – Perayaan Hari Trisuci Waisak 2566 di Vihara Buddha Sakyamuni (VBSM) Denpasar dilangsungkan pada Senin (16/5). Untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19, vihara ini bisa dihadiri oleh umat secara langsung namun dengan tetap mengikuti prokes.

 

Ketua Panitia Perayaan Waisak di VBSM Denpasar, Anita Verina menjelaskan, untuk tahun ini umat bisa hadir langsung mengikuti perayaan secara langsung. Namun prosesi sebelum puncak perayaan juga dilangsungkan secara daring.

 

Dijelaskan Anita Verina, rangkaian peringatan Hari Trisuci Waisak telah dimulai dengan mahajata atau peringatan ulang tahun Vihara Buddha Sakyamuni sebulan sebelumnya. “Proses ini dilakukan secara daring,” imbuhnya.

 

Selain itu, dilakukan juga Pendalaman Dhamma (SPD) yang digelar dua kali dalam seminggu yakni pada hari Kamis dan Minggu, serta upacara Pattidana atau pelimpahan jasa serta Visudhi Upasaka-Upasika.

 

“Pada perayaan puncak diawali dengan meditasi bersama menyambut detik-detik Waisak pada pukul 12.13 Wita,” bebernya.

 

Lanjutnya, perataan hari Trisuci Waisak bukan hanya untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha. Namun juga menjadi momentum untuk selalu ingat dan melaksanakan ajaran Buddha.

 

Perayaan Waisak tahun ini mengangkat tema “Moderasi Beragama Membangun Kedamaian” yang mana sejalan dengan kondisi sosial kemasyarakatan saat ini. Sementara itu Sanghanayaka (Ketua Umum) Sangha Theravada Indonesia, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera dalam pesan Trisuci Waisak yang disampaikan kepada seluruh umat menyatakan moderasi beragama sangat tepat ditetapkan di tengah kehidupan dewasa ini.

 

Hal ini memberi kesempatan bagi umat Buddha dan umat beragama lain untuk melaksanakan agama masing-masing dengan sikap saling toleransi. Sehingga terbangun kedamaian hidup antar umat beragama di Indonesia.

 

Moderasi beragama menjadi kebutuhan untuk menemukan persamaan dalam perbedaan. Bukan mempertajam perbedaan dengan sikap eksklusif. Moderasi Beragama menjunjung nilai kemanusiaan dan menghadirkan keseimbangan pemahaman agama di tengah masyarakat.

 

“Moderasi beragama sebagai ‘jalan bijak’ memadukan cinta kasih dan kasih sayang serta pemahaman agama lebih terbuka terhadap perkembangan kehidupan dewasa ini. Sehingga moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan,” tandasnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

DENPASAR, BALI EXPRESS – Perayaan Hari Trisuci Waisak 2566 di Vihara Buddha Sakyamuni (VBSM) Denpasar dilangsungkan pada Senin (16/5). Untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19, vihara ini bisa dihadiri oleh umat secara langsung namun dengan tetap mengikuti prokes.

 

Ketua Panitia Perayaan Waisak di VBSM Denpasar, Anita Verina menjelaskan, untuk tahun ini umat bisa hadir langsung mengikuti perayaan secara langsung. Namun prosesi sebelum puncak perayaan juga dilangsungkan secara daring.

 

Dijelaskan Anita Verina, rangkaian peringatan Hari Trisuci Waisak telah dimulai dengan mahajata atau peringatan ulang tahun Vihara Buddha Sakyamuni sebulan sebelumnya. “Proses ini dilakukan secara daring,” imbuhnya.

 

Selain itu, dilakukan juga Pendalaman Dhamma (SPD) yang digelar dua kali dalam seminggu yakni pada hari Kamis dan Minggu, serta upacara Pattidana atau pelimpahan jasa serta Visudhi Upasaka-Upasika.

 

“Pada perayaan puncak diawali dengan meditasi bersama menyambut detik-detik Waisak pada pukul 12.13 Wita,” bebernya.

 

Lanjutnya, perataan hari Trisuci Waisak bukan hanya untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha. Namun juga menjadi momentum untuk selalu ingat dan melaksanakan ajaran Buddha.

 

Perayaan Waisak tahun ini mengangkat tema “Moderasi Beragama Membangun Kedamaian” yang mana sejalan dengan kondisi sosial kemasyarakatan saat ini. Sementara itu Sanghanayaka (Ketua Umum) Sangha Theravada Indonesia, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera dalam pesan Trisuci Waisak yang disampaikan kepada seluruh umat menyatakan moderasi beragama sangat tepat ditetapkan di tengah kehidupan dewasa ini.

 

Hal ini memberi kesempatan bagi umat Buddha dan umat beragama lain untuk melaksanakan agama masing-masing dengan sikap saling toleransi. Sehingga terbangun kedamaian hidup antar umat beragama di Indonesia.

 

Moderasi beragama menjadi kebutuhan untuk menemukan persamaan dalam perbedaan. Bukan mempertajam perbedaan dengan sikap eksklusif. Moderasi Beragama menjunjung nilai kemanusiaan dan menghadirkan keseimbangan pemahaman agama di tengah masyarakat.

 

“Moderasi beragama sebagai ‘jalan bijak’ memadukan cinta kasih dan kasih sayang serta pemahaman agama lebih terbuka terhadap perkembangan kehidupan dewasa ini. Sehingga moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan,” tandasnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru

/