alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Ngerebong Diprediksi Dibanjiri Pemedek, Ada Rekayasa Lalulintas

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pelaksanaan tradisi Ngerebong di Desa Adat Kesiman yang jatuh pada tanggal 26 Juni 2022 mendatang bisa dibilang berbeda dari sebelumnya. Melihat kondisi saat ini yang mana Covid-19 sudah melandai, diprediksi akan dibanjiri oleh umat, termasuk dari luar Desa Adat Kesiman.

 

Untuk mengantisipasi hal itu, pihak desa adat sudah merancang sistem, terutama untuk persembahyangan para pemedek baik dari Desa Adat Kesiman sendiri maupun di luar desa yang tangkil.

 

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna, Kamis (16/6) menjelaskan krama atau pemedek nantinya di atur atau di-pah agar tidak terjadi penumpukan yang membuat krodit. Termasuk alur masuk atau keluar pemedek juga sudah diatur sedemikian rupa.

 

“Jalannya yakni krama dari Desa Adat Kesiman yang terdiri dari 32 banjar adat bisa melakukan persembahyangan mulai sejak pagi hingga siang. Setelah itu, dari siang sampai sore untuk pemedek dari luar Desa Adat Kesiman,” terang Jero Wisna.

 

Hal ini berdasarkan evaluasi tradisi Ngerebong sebelumnya karena sempat terjadi penumpukan krama atau pemedek sehingga membuat krodit.

 

Selain alur pesembahyangan, juga dilakukan rekayasa lalu lintas. Hal ini juga menjadi fokus karena Jalan W.R. Supratman nantinya akan ditutup karena pelaksanaan tradisi Ngerebong ini. Belum lagi jembatan di Jalan Gatot Subroto yang kini sedang dalam perbaikan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat, sehingga selama ini kebanyakan pengendara memilih jalur alternatif, salah satunya melewati Jalan W.R. Supratman.

 

“Terkait rekayasa lalu lintas, kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti kepolisian dan dinas perhubungan,” tegas pria yang mencalonkan diri menjadi DPD RI ini.

 

Untuk rangkaian prosesi Ngerebong dari mulai sampai puncak dilakukan sebagaimana mestinya dan tidak ada Ngubeng. Pihak Desa Adat Kesiman juga sudah berkoordinasi dengan Pemkot Denpasar bahwasannya tradisi Ngerebong dijadikan salah satu daya tarik wisata di Kota Denpasar dalam hal seni budaya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pelaksanaan tradisi Ngerebong di Desa Adat Kesiman yang jatuh pada tanggal 26 Juni 2022 mendatang bisa dibilang berbeda dari sebelumnya. Melihat kondisi saat ini yang mana Covid-19 sudah melandai, diprediksi akan dibanjiri oleh umat, termasuk dari luar Desa Adat Kesiman.

 

Untuk mengantisipasi hal itu, pihak desa adat sudah merancang sistem, terutama untuk persembahyangan para pemedek baik dari Desa Adat Kesiman sendiri maupun di luar desa yang tangkil.

 

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna, Kamis (16/6) menjelaskan krama atau pemedek nantinya di atur atau di-pah agar tidak terjadi penumpukan yang membuat krodit. Termasuk alur masuk atau keluar pemedek juga sudah diatur sedemikian rupa.

 

“Jalannya yakni krama dari Desa Adat Kesiman yang terdiri dari 32 banjar adat bisa melakukan persembahyangan mulai sejak pagi hingga siang. Setelah itu, dari siang sampai sore untuk pemedek dari luar Desa Adat Kesiman,” terang Jero Wisna.

 

Hal ini berdasarkan evaluasi tradisi Ngerebong sebelumnya karena sempat terjadi penumpukan krama atau pemedek sehingga membuat krodit.

 

Selain alur pesembahyangan, juga dilakukan rekayasa lalu lintas. Hal ini juga menjadi fokus karena Jalan W.R. Supratman nantinya akan ditutup karena pelaksanaan tradisi Ngerebong ini. Belum lagi jembatan di Jalan Gatot Subroto yang kini sedang dalam perbaikan membuat arus lalu lintas sedikit tersendat, sehingga selama ini kebanyakan pengendara memilih jalur alternatif, salah satunya melewati Jalan W.R. Supratman.

 

“Terkait rekayasa lalu lintas, kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti kepolisian dan dinas perhubungan,” tegas pria yang mencalonkan diri menjadi DPD RI ini.

 

Untuk rangkaian prosesi Ngerebong dari mulai sampai puncak dilakukan sebagaimana mestinya dan tidak ada Ngubeng. Pihak Desa Adat Kesiman juga sudah berkoordinasi dengan Pemkot Denpasar bahwasannya tradisi Ngerebong dijadikan salah satu daya tarik wisata di Kota Denpasar dalam hal seni budaya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru

/