alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Ngunying Barong Swari Desa Abuan Bangli Menegangkan

DENPASAR, BALI EXPRESS- Meski disajikan bukan yang aslinya, karena untuk hiburan, pagelaran Seni Tradisi Ngunying Barong Swari dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44, tampil menegangkan, Selasa (14/6).

Gerak tari barong dengan gaya Desa Abuan yang beraksi di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Art Center Denpasar, mendapat sanbutan meriah penonton.

Biasanya, ‘Ngunying’ dilaksanakan saat upacara besar setahun sekali menggunakan dupa dan ayam mentah. Namun dalam pementasan kali ini diganti dengan keris dengan bahan yang lunak, tetap menarik, bahkan menegangkan. Barong yang asli masih tersimpan di pura setempat, sedangkan yang ditampilkan di PKB hanya duplikat.

Ngunying ‘Barong Swari’ yang dipentaskan Sanggar Seni Kunti Sraya Banjar Abuan, Desa Abuan, Kecamatan Susut Kabupaten Bangli ini, mengangkat tentang pangruwatan. Pementasannya diawali dengan Tabuh Bebarongan Bayu Tirta, sebuah garapan karawitan yang mengangkat kekuatan Tirta. Bayu itu berarti kekuatan dan tirta adalah air yang telah disucikan.

Karya tabuh petegak bebarongan yang ditata Jro Ngurah Wiratama Putra, S.Sn ini mengimplementasikan karakteristik air yang terkadang tenang, terkadang deras dan menghanyutkan.

Walau tergolong baru, tetapi garapan seni yang didukung sekitar 45 seniman ini, tetap memaksimalkan patet-patet barungan Semara Pegulingan, sesuai karakteristik air yang dapat berubah ubah sesuai tempat air itu berada.

“Garapan ini menjadi lebih indah karena diramu dengan metimbangan. Konsep estetis karya seni karawitan secara proposional dalam keutuhan melodi, tempo, dan dinamika serta tetap mengacu pada aturan,” kata Jro Ngurah Wiratama Putra.

Setelah menyajikan Tari Barong dengan gaya khas Desa Abuang, sanggar yang didukung puluhan seniman remaja dan dewasa ini kemudian menyajikan Ngunying Barong Swari yang berdurasi sekitar 1 jam.

Ngunying Barong Swari mengisahkan pertemuan antara Dewa Siwa dengan Dewi Uma, sehingga melahirkan seorang putra bernama Sang Rare Kumara. Saat Rare Kumara besar, ia lebih dekat dengan ayah Dewa Siwa. Sementara bercengkerama bersama ibunya Dewi Uma sangat jarang dilakukan.

Di saat Dewi Uma menyusui putra Sang Rare Kumara, kelakuan Sang Rare Kumara sering membuat ibunya jengkel. Kelakuannya itu membuat Dewi Uma menjadi marah sampai memukul-mukul anaknya. Akibat marah itu terlalu besar sampai membuat Dewi Uma berubah menjadi sosok yang menyeramkan.

Kajadian itu dilihat Dewa Siwa, membuatnya marah. Dewi Uma lalu dihukum dan dikutuk menjadi Dewi Durga turun ke dunia mendiami setra agung. Tak sampai disitu, terjadilah wabah yang diciptakan Dewi Durga bersama makhluk pengiringnya.

Manusia sebagai penghuni dunia merasa sedih bercampur ketakutan. Setiap hari, ada saja manusia yang meninggal dunia. Pagi hari terkena penyakit, sore harinya meninggal, sorenya sakit keesokan harinya meninggal, demikian seterusnya.

Karena musibah di dunia itu, tiga dewa, yakni Dewa Brahma, Wisnu dan Dewa Iswara kemudian menyelamatkan dunia dari kegeringan (wabah) itu. Ketiga Dewa itu secara bersama-sama menyelamatkan manusia di dunia dengan menciptakan Barong Swari.

Dewa Brahma menjadi Topeng Bang (merah), Dewa Wisnu menjadi Telek, dan Dewa Iswara menjadi Barong. Dari sinilah asal mula Barong Swari yang kemudian menari di perempatan desa dan pertigaan untuk menyelamatkan dunia dari wabah. Ketiga Dewa itu menari untuk menciptakan kesejahteraan di dunia serta bisa mengembalikan Dewi Durga menjadi Dewi Uma lalu ke Kahyangan.

Jro Ngurah Wiratama Putra mengaku senang dan bangga sanggar yang dikelolanya bisa tampil di PKB. Setelah 2 tahun lebih vakum karena pandemi Covid-19, ajang seni yang digelar Pemerintah Provinsi Bali ini memberikan ruang untuk menyalurkan ekspresi yang terpendam selam hampir 2 tahun lamanya.

“Kami berharap pemerintah bisa memanfaatkan sanggar lokal untuk memberikan kesempatan pentas dalam even-even milik pemerintah dan lainnya,” harapnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS- Meski disajikan bukan yang aslinya, karena untuk hiburan, pagelaran Seni Tradisi Ngunying Barong Swari dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44, tampil menegangkan, Selasa (14/6).

Gerak tari barong dengan gaya Desa Abuan yang beraksi di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Art Center Denpasar, mendapat sanbutan meriah penonton.

Biasanya, ‘Ngunying’ dilaksanakan saat upacara besar setahun sekali menggunakan dupa dan ayam mentah. Namun dalam pementasan kali ini diganti dengan keris dengan bahan yang lunak, tetap menarik, bahkan menegangkan. Barong yang asli masih tersimpan di pura setempat, sedangkan yang ditampilkan di PKB hanya duplikat.

Ngunying ‘Barong Swari’ yang dipentaskan Sanggar Seni Kunti Sraya Banjar Abuan, Desa Abuan, Kecamatan Susut Kabupaten Bangli ini, mengangkat tentang pangruwatan. Pementasannya diawali dengan Tabuh Bebarongan Bayu Tirta, sebuah garapan karawitan yang mengangkat kekuatan Tirta. Bayu itu berarti kekuatan dan tirta adalah air yang telah disucikan.

Karya tabuh petegak bebarongan yang ditata Jro Ngurah Wiratama Putra, S.Sn ini mengimplementasikan karakteristik air yang terkadang tenang, terkadang deras dan menghanyutkan.

Walau tergolong baru, tetapi garapan seni yang didukung sekitar 45 seniman ini, tetap memaksimalkan patet-patet barungan Semara Pegulingan, sesuai karakteristik air yang dapat berubah ubah sesuai tempat air itu berada.

“Garapan ini menjadi lebih indah karena diramu dengan metimbangan. Konsep estetis karya seni karawitan secara proposional dalam keutuhan melodi, tempo, dan dinamika serta tetap mengacu pada aturan,” kata Jro Ngurah Wiratama Putra.

Setelah menyajikan Tari Barong dengan gaya khas Desa Abuang, sanggar yang didukung puluhan seniman remaja dan dewasa ini kemudian menyajikan Ngunying Barong Swari yang berdurasi sekitar 1 jam.

Ngunying Barong Swari mengisahkan pertemuan antara Dewa Siwa dengan Dewi Uma, sehingga melahirkan seorang putra bernama Sang Rare Kumara. Saat Rare Kumara besar, ia lebih dekat dengan ayah Dewa Siwa. Sementara bercengkerama bersama ibunya Dewi Uma sangat jarang dilakukan.

Di saat Dewi Uma menyusui putra Sang Rare Kumara, kelakuan Sang Rare Kumara sering membuat ibunya jengkel. Kelakuannya itu membuat Dewi Uma menjadi marah sampai memukul-mukul anaknya. Akibat marah itu terlalu besar sampai membuat Dewi Uma berubah menjadi sosok yang menyeramkan.

Kajadian itu dilihat Dewa Siwa, membuatnya marah. Dewi Uma lalu dihukum dan dikutuk menjadi Dewi Durga turun ke dunia mendiami setra agung. Tak sampai disitu, terjadilah wabah yang diciptakan Dewi Durga bersama makhluk pengiringnya.

Manusia sebagai penghuni dunia merasa sedih bercampur ketakutan. Setiap hari, ada saja manusia yang meninggal dunia. Pagi hari terkena penyakit, sore harinya meninggal, sorenya sakit keesokan harinya meninggal, demikian seterusnya.

Karena musibah di dunia itu, tiga dewa, yakni Dewa Brahma, Wisnu dan Dewa Iswara kemudian menyelamatkan dunia dari kegeringan (wabah) itu. Ketiga Dewa itu secara bersama-sama menyelamatkan manusia di dunia dengan menciptakan Barong Swari.

Dewa Brahma menjadi Topeng Bang (merah), Dewa Wisnu menjadi Telek, dan Dewa Iswara menjadi Barong. Dari sinilah asal mula Barong Swari yang kemudian menari di perempatan desa dan pertigaan untuk menyelamatkan dunia dari wabah. Ketiga Dewa itu menari untuk menciptakan kesejahteraan di dunia serta bisa mengembalikan Dewi Durga menjadi Dewi Uma lalu ke Kahyangan.

Jro Ngurah Wiratama Putra mengaku senang dan bangga sanggar yang dikelolanya bisa tampil di PKB. Setelah 2 tahun lebih vakum karena pandemi Covid-19, ajang seni yang digelar Pemerintah Provinsi Bali ini memberikan ruang untuk menyalurkan ekspresi yang terpendam selam hampir 2 tahun lamanya.

“Kami berharap pemerintah bisa memanfaatkan sanggar lokal untuk memberikan kesempatan pentas dalam even-even milik pemerintah dan lainnya,” harapnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/