alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Bosan Hidup Normal, Nusa Wibawa Sekeluarga Hidup Nomaden di Campervan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ada-ada saja kisah unik pada zaman modern ini. Seperti halnya Made Nusa Wibawa. Pria kelahiran Nusa Lembongan ini sejak dua tahun terakhir hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Sebelumnya ia tinggal di kawasan Batubulan serta kantor di kawasan Sanur. Pria yang bekerja di bidang teknologi informasi ini lebih nyaman berkeliling, tinggal dari stu kota ke kota lainnya dengan mobil campervan atau mobil yang dimodifikasi menyerupai tempat berkemah.

Ditemui di kawasan Renon, Denpasar, Made Nusa Wibawa menceritakan alasan dia hidup secara nomaden. Ia mengaku bosan hidup seperti orang kebanyakan. Ia ingin menikmati hidup, jalan-jalan serta menghabiskan waktu bersama keluarga. “Ini sudah memasuki tahun ketiga tinggal dalam campervan. Kami bosan hidup normal. Lebih nyaman hidup seperti ini. Saya tidak sanggup lagi bangun pagi, antar anak sekolah, jemput anak sekolah. Rasanya ya kok begitu-begitu aja. Jadi ya kami putuskan untuk menjalani hidup seperti ini,” kata Nusa dengan cerianya.

Nusa pun tidak menyekolahkan anaknya secara formal seperti anak-anak lainnya. Ia bersama istri Binti Wibawa, mengajari anaknya secara mandiri sembari melakukan perjalanan. Kelima anaknya pun tak pernah mengeluh diajak hidup nomaden. “Mereka tidak sekolah formal. Sekolahnya ya di sini ini. Saya ajari sendiri dengan istri. Sama saja. Mereka juga gak pernah ngeluh, kenapa kami hidup seperti ini. Kalau mobilnya lama gak jalan baru mereka ngeluh. Itu artinya mereka bosan di tempat ini. Kami selalu ajak mereka keliling. Jadi sambil keliling sambil belajar. Mereka jadi tahu situasi di luar sana seperti apa,” tuturnya saat diwawancarai, Kamis (16/7).

Disinggung masalah biaya hidup, Nusa masih memiliki tabungan serta dana dari kantor perusahaan tempatnya bekerja. “Untuk biaya, ya ada teman yang kasih. Dari kantor juga masih ada. Saya masih terima gajih walau tak seberapa. Kami hidup dari sana,” ujarnya.

Nusa pun menuturkan idenya untuk memilih tinggal dalam campervan. Dengan misi menikmati hidup, Nusa membulatkan tekadnya mengajak keluarga tercinta untuk hidup berkelana mengelilingi Indonesia. “Misinya ya menikmati hidup. Apalagi kalau bukan itu. Idenya untuk tinggal seperti ini, ya dari permasalahan hidup ini. Kami baik-baik saja. Jadi dari sana kami putuskan untuk keliling. Kami sudah pernah keliling di Jawa dan daerah-daerah lain. Rencana mau ke Sumatra, tapi belum bisa karena lockdown,” kata dia.

Persinggahannya dari satu kota ke kota lain maupun dari satu tempat ke tempat lain tidak menentu. Terkadang ia berada di satu tempat di suatu kota selama hampir seminggu tak berpindah. Kadangkala baru sehari menepi, keesokan harinya kembali melanjutkan perjalanan. “Kami gak tentu berapa hari tinggal di suatu tempat. Suka-suka hati saja, mau kemana dan mau berapa lama tinggal di tempat itu. Kami tidak punya jadwal. Pokoknya suka-suka aja,” jelasnya.

Dengan ramaha Nusa juga menceritakan perjalanannya tak semulus yang orang lain lihat. Memarkirkan campervannya di suatu tempat, kadang ia harus berurusan dengan Satpol PP. Ia pun menceritakan pengalamannya diusir Satpol PP saat berada di Pantai Padanggalak. “Kalau berurusan sama Satpol PP mah sering. Sudah kebal. Pernah diusir-usir karena kondisinya begini, berantakan. Terakhir diusir dengan agak kasar juga sampai ditendang gitu. Tapi ya gak masalah. Itulah hidup,” tuturnya sembari tertawa.

Saat melakukan perjalanan, Made Nusa dan keluarga juga kerap ngayah di pura-pura yang ia jumpai sepanjang jalan. Kegiatan ini pun ia lakukan dengan ikhlas tanpa imbalan apapun. “Kalau lagi lewat, kami sengaja mampir di pura itu. Kami ngayah, ya sekedar bersih-bersih, nyapu. Kami cari pura yang memang agak sepi. Kalau odalan itu kan ramai, kami susah bersih-bersih. Kami hindari saat odalan,” sambungnya.

Pria 39 tahun ini pun sangat menikmati hidupnya yang berpindah-pindah bersama keluarga tercinta. Menurutnya, memiliki halaman rumah yang luas merupakan suatu kebahagiaan dan belajar untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan. “Saat hidup dengan campervan saya berpikir, ternyata memiliki halaman rumah yang luas itu sangat menyenangkan. Dimana saya menepi, di sanalah rumah saya dan keluarga. Dan ruang di sekitar ya halaman kami. Tak terhitung luasnya,” ungkapnya riang.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ada-ada saja kisah unik pada zaman modern ini. Seperti halnya Made Nusa Wibawa. Pria kelahiran Nusa Lembongan ini sejak dua tahun terakhir hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Sebelumnya ia tinggal di kawasan Batubulan serta kantor di kawasan Sanur. Pria yang bekerja di bidang teknologi informasi ini lebih nyaman berkeliling, tinggal dari stu kota ke kota lainnya dengan mobil campervan atau mobil yang dimodifikasi menyerupai tempat berkemah.

Ditemui di kawasan Renon, Denpasar, Made Nusa Wibawa menceritakan alasan dia hidup secara nomaden. Ia mengaku bosan hidup seperti orang kebanyakan. Ia ingin menikmati hidup, jalan-jalan serta menghabiskan waktu bersama keluarga. “Ini sudah memasuki tahun ketiga tinggal dalam campervan. Kami bosan hidup normal. Lebih nyaman hidup seperti ini. Saya tidak sanggup lagi bangun pagi, antar anak sekolah, jemput anak sekolah. Rasanya ya kok begitu-begitu aja. Jadi ya kami putuskan untuk menjalani hidup seperti ini,” kata Nusa dengan cerianya.

Nusa pun tidak menyekolahkan anaknya secara formal seperti anak-anak lainnya. Ia bersama istri Binti Wibawa, mengajari anaknya secara mandiri sembari melakukan perjalanan. Kelima anaknya pun tak pernah mengeluh diajak hidup nomaden. “Mereka tidak sekolah formal. Sekolahnya ya di sini ini. Saya ajari sendiri dengan istri. Sama saja. Mereka juga gak pernah ngeluh, kenapa kami hidup seperti ini. Kalau mobilnya lama gak jalan baru mereka ngeluh. Itu artinya mereka bosan di tempat ini. Kami selalu ajak mereka keliling. Jadi sambil keliling sambil belajar. Mereka jadi tahu situasi di luar sana seperti apa,” tuturnya saat diwawancarai, Kamis (16/7).

Disinggung masalah biaya hidup, Nusa masih memiliki tabungan serta dana dari kantor perusahaan tempatnya bekerja. “Untuk biaya, ya ada teman yang kasih. Dari kantor juga masih ada. Saya masih terima gajih walau tak seberapa. Kami hidup dari sana,” ujarnya.

Nusa pun menuturkan idenya untuk memilih tinggal dalam campervan. Dengan misi menikmati hidup, Nusa membulatkan tekadnya mengajak keluarga tercinta untuk hidup berkelana mengelilingi Indonesia. “Misinya ya menikmati hidup. Apalagi kalau bukan itu. Idenya untuk tinggal seperti ini, ya dari permasalahan hidup ini. Kami baik-baik saja. Jadi dari sana kami putuskan untuk keliling. Kami sudah pernah keliling di Jawa dan daerah-daerah lain. Rencana mau ke Sumatra, tapi belum bisa karena lockdown,” kata dia.

Persinggahannya dari satu kota ke kota lain maupun dari satu tempat ke tempat lain tidak menentu. Terkadang ia berada di satu tempat di suatu kota selama hampir seminggu tak berpindah. Kadangkala baru sehari menepi, keesokan harinya kembali melanjutkan perjalanan. “Kami gak tentu berapa hari tinggal di suatu tempat. Suka-suka hati saja, mau kemana dan mau berapa lama tinggal di tempat itu. Kami tidak punya jadwal. Pokoknya suka-suka aja,” jelasnya.

Dengan ramaha Nusa juga menceritakan perjalanannya tak semulus yang orang lain lihat. Memarkirkan campervannya di suatu tempat, kadang ia harus berurusan dengan Satpol PP. Ia pun menceritakan pengalamannya diusir Satpol PP saat berada di Pantai Padanggalak. “Kalau berurusan sama Satpol PP mah sering. Sudah kebal. Pernah diusir-usir karena kondisinya begini, berantakan. Terakhir diusir dengan agak kasar juga sampai ditendang gitu. Tapi ya gak masalah. Itulah hidup,” tuturnya sembari tertawa.

Saat melakukan perjalanan, Made Nusa dan keluarga juga kerap ngayah di pura-pura yang ia jumpai sepanjang jalan. Kegiatan ini pun ia lakukan dengan ikhlas tanpa imbalan apapun. “Kalau lagi lewat, kami sengaja mampir di pura itu. Kami ngayah, ya sekedar bersih-bersih, nyapu. Kami cari pura yang memang agak sepi. Kalau odalan itu kan ramai, kami susah bersih-bersih. Kami hindari saat odalan,” sambungnya.

Pria 39 tahun ini pun sangat menikmati hidupnya yang berpindah-pindah bersama keluarga tercinta. Menurutnya, memiliki halaman rumah yang luas merupakan suatu kebahagiaan dan belajar untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan. “Saat hidup dengan campervan saya berpikir, ternyata memiliki halaman rumah yang luas itu sangat menyenangkan. Dimana saya menepi, di sanalah rumah saya dan keluarga. Dan ruang di sekitar ya halaman kami. Tak terhitung luasnya,” ungkapnya riang.


Most Read

Artikel Terbaru

/