alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Seni Rupa Pertunjukan Antarkan Suklu Raih Doktor

DENPASAR, BALI EXPRESS – Fenomena seni rupa pertunjukan yang tidak mudah dipahami masyarakat, serta kurangnya literasi kesenirupaan yang memberi pengetahuan seni, menggerakkan minat I Wayan Sujana ‘Suklu’ melakukan kajian dan penelitian penciptaan seni, yakni karya seni yang dapat mendekatkan seni rupa pertunjukan kontemporer antara seniman dan masyarakat.

Jalan keluar yang ditemukan adalah karya seni mendekati masyarakat, menciptakan peristiwa seni, serta masyarakat dan seniman berbaur menciptakan artefak seni.  Karyanya itu diberi judul “Mobile Art Laboratory Ruang Alternatif Olah Seni Rupa Pertunjukan Berbasis Masyarakat” (MAL). Karyanya itu mengantarkan Suklu, dosen Seni Rupa ISI Denpasar ini meraih gelar doktor  pada Program Pascasarjana ISI Denpasar, dalam prosesi ujian hasil penelitian disertasi atau ujian terbuka di Gedung Studio Rekam Prodi TV dan Film ISI Denpasar, Selasa (16/11).

Selaku promotornya Prof I Wayan Adnyana, Co-promotor 1 Prof I Wayan Dibia, dan Co-promotor 2 Dr I Wayan Suardana.  Teori, konsep, pendekatan dan beberapa pustaka dibaca Suklu dalam rangka menemukan originalitas hasil penelitian. Teori-teori yang relevan sebagai kaji banding dalam penelitian, yakni  teori seni dalam masyarakat satu dimensi-Herbert Marcuse (aspek relasional estetik), teori seni J.J Hogman (aspek ide, aktivity, dan artefak), teori ANT (Actor Network Theory) – Bruno Latour  (aspek translasi dan intermediari proses), dan teori pendidikan non-formal conscientizacao-Paulo Freire (aspek dialog bersama sebagai proses memecahkan masalah). “Topik empat teori tersebut sangat relevan dengan pendekatan intermingle at project (IAP) yang saya gunakan pada proses seni MAL,” ujar Suklu, peraih The Best 10 Indonesian Competition of Philip Morris Asian Art Award 2003, CP Open Biennale 2003, The Winner of Indofood Art Awards Competition 2003 on abstract, dan The Winner of LIBAF Senggigi Lombok 2013 ini.

Selain itu, penelusuran penelitian disertasi yang sudah dilakukan peneliti lain melalui kajian pustaka, juga dilakukan olehnya. Hal tersebut untuk mendapatkan penelitian yang original, menghindari plagiat. Setelah melakukan serangkaian penyusunan, Suklu menyusun metode tahapan penciptaan (pemikiran) yang disusun menjadi huruf MAL, yakni; M-Making art blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat), A-Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam), L-Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horizontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).

Melalui penyusunan metode tahapan penciptaan MAL dan penciptaan MAL, kurun waktu dua tahun (2019-2021) MAL (mobile art laboratory) telah melakukan penjelajahan ke masyarakat di antaranya; Sawe Jembrana, Balai Kebudayaan Buleleng, Lapangan Umum Klungkung, ISI Denpasar, ARMA Ubud, Art Bali Nusa Dua, Titik Dua Ubud, Santrian Sanur, JKP Denpasar, dan Komaneka Ubud. Sebagian menghasilkan desain pertunjukan, sebagian lagi desain pertunjukan dan implementasi.

Komaneka Ubud sebagai tempat implementasi ujian Tugas Akhir berlangsung dari 30 Juli – 6 September 2021. “Monument of Trajectory” menjadi judul seni rupa pertunjukan, schedule kegiatan berupa; sharing, workshop, performance.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Fenomena seni rupa pertunjukan yang tidak mudah dipahami masyarakat, serta kurangnya literasi kesenirupaan yang memberi pengetahuan seni, menggerakkan minat I Wayan Sujana ‘Suklu’ melakukan kajian dan penelitian penciptaan seni, yakni karya seni yang dapat mendekatkan seni rupa pertunjukan kontemporer antara seniman dan masyarakat.

Jalan keluar yang ditemukan adalah karya seni mendekati masyarakat, menciptakan peristiwa seni, serta masyarakat dan seniman berbaur menciptakan artefak seni.  Karyanya itu diberi judul “Mobile Art Laboratory Ruang Alternatif Olah Seni Rupa Pertunjukan Berbasis Masyarakat” (MAL). Karyanya itu mengantarkan Suklu, dosen Seni Rupa ISI Denpasar ini meraih gelar doktor  pada Program Pascasarjana ISI Denpasar, dalam prosesi ujian hasil penelitian disertasi atau ujian terbuka di Gedung Studio Rekam Prodi TV dan Film ISI Denpasar, Selasa (16/11).

Selaku promotornya Prof I Wayan Adnyana, Co-promotor 1 Prof I Wayan Dibia, dan Co-promotor 2 Dr I Wayan Suardana.  Teori, konsep, pendekatan dan beberapa pustaka dibaca Suklu dalam rangka menemukan originalitas hasil penelitian. Teori-teori yang relevan sebagai kaji banding dalam penelitian, yakni  teori seni dalam masyarakat satu dimensi-Herbert Marcuse (aspek relasional estetik), teori seni J.J Hogman (aspek ide, aktivity, dan artefak), teori ANT (Actor Network Theory) – Bruno Latour  (aspek translasi dan intermediari proses), dan teori pendidikan non-formal conscientizacao-Paulo Freire (aspek dialog bersama sebagai proses memecahkan masalah). “Topik empat teori tersebut sangat relevan dengan pendekatan intermingle at project (IAP) yang saya gunakan pada proses seni MAL,” ujar Suklu, peraih The Best 10 Indonesian Competition of Philip Morris Asian Art Award 2003, CP Open Biennale 2003, The Winner of Indofood Art Awards Competition 2003 on abstract, dan The Winner of LIBAF Senggigi Lombok 2013 ini.

Selain itu, penelusuran penelitian disertasi yang sudah dilakukan peneliti lain melalui kajian pustaka, juga dilakukan olehnya. Hal tersebut untuk mendapatkan penelitian yang original, menghindari plagiat. Setelah melakukan serangkaian penyusunan, Suklu menyusun metode tahapan penciptaan (pemikiran) yang disusun menjadi huruf MAL, yakni; M-Making art blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat), A-Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam), L-Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horizontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).

Melalui penyusunan metode tahapan penciptaan MAL dan penciptaan MAL, kurun waktu dua tahun (2019-2021) MAL (mobile art laboratory) telah melakukan penjelajahan ke masyarakat di antaranya; Sawe Jembrana, Balai Kebudayaan Buleleng, Lapangan Umum Klungkung, ISI Denpasar, ARMA Ubud, Art Bali Nusa Dua, Titik Dua Ubud, Santrian Sanur, JKP Denpasar, dan Komaneka Ubud. Sebagian menghasilkan desain pertunjukan, sebagian lagi desain pertunjukan dan implementasi.

Komaneka Ubud sebagai tempat implementasi ujian Tugas Akhir berlangsung dari 30 Juli – 6 September 2021. “Monument of Trajectory” menjadi judul seni rupa pertunjukan, schedule kegiatan berupa; sharing, workshop, performance.


Most Read

Artikel Terbaru

/