alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Taman Ujung Keteteran Biaya Operasional

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Objek Wisata Taman Soekasada Ujung, Karangasem sebagai cagar budaya, memang wajib mendapat perawatan. Pihak pengelola taman sudah melakukan itu meski pendapatan tengah menurun akibat sepinya pengunjung. Mau tidak mau, taman harus terjaga, gaji karyawan harus tetap jalan.

Badan pengelola kesulitan mencari dana untuk operasional bulanan. Maklum, pendapatan per bulannya kini hanya berkisar Rp 50-60 juta. Sedangkan biaya operasional taman meliputi gaji karyawan hingga tagihan listrik dan sebagainya mencapai Rp 150 juta per bulan. Artinya pihak pengelola kekurangan dana sampai Rp 100 juta lebih untuk menutupi kekurangannya.

Ketua Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung Ida Made Alit mengungkapkan, Taman Ujung mengalami kesulitan biaya operasional sejak pertengahan 2020. Saat itu situs sejarah Kerajaan Karangasem ditutup hingga Juni 2020 akibat pandemi Covid-19. Tidak ada kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Karena pendapatan minus saat itu, pengelola sampai berlakukan pemangkasan gaji karyawan 50 persen. “Kami ingin cagar budaya ini bisa dipelihara dengan baik. Soal kebersihan ini harus dipertahankan. Makanya kami belum mau merumahkan karyawan sampai sekarang. Ini kan tanggung jawab kami memperhatikan taman tetap dipelihara,” terang Ida Made Alit, Rabu (17/3).

Pun saat kunjungan mulai dibuka dalam rangka new normal, hanya ada beberapa wisatawan masuk. Jumlahnya beda jauh dibanding saat situasi normal. Sebelum pandemi Covid-19, pendapatan badan pengelola bisa mencapai minimal Rp 300 juta, dan maksimal terjadi fluktuatif antara Rp 500-600 juta tiap bulan.

Diakui, dari jumlah pendapatan saat ini, pengelola terpaksa memakai kas untuk talangi kekurangan. Hingga biaya operasional Rp 150 jutaan tiap bulan terpenuhi. “Saat ini untuk 2021 ini kami sulit sekali. Kami minus demi memenuhi biaya operasional,” keluhnya.

Pendapatan dari kunjungan tamu domestik rupanya tak cukup untuk menutupi biaya yang harus dipenuhi saat ini. Kekurangannya sekitar 50 persen lebih. Maklum, wisatawan mancanegara adalah segmen pengunjung yang dominan.  Pihaknya berharap ada perhatian pemerintah terkait kondisi ini. Minimal memberi bantuan untuk perawatan serta biaya operasional. “Kami andalkan pendapatan dari tamu domestik saja kurang. Kalau ini terus berlanjut, apakah kami bisa lanjut? Pegawai kami katakan siap berapa saja dapat (dibayar), tapi kami tidak enak,” pungkas mantan anggota DPRD Bali itu.

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS- Objek Wisata Taman Soekasada Ujung, Karangasem sebagai cagar budaya, memang wajib mendapat perawatan. Pihak pengelola taman sudah melakukan itu meski pendapatan tengah menurun akibat sepinya pengunjung. Mau tidak mau, taman harus terjaga, gaji karyawan harus tetap jalan.

Badan pengelola kesulitan mencari dana untuk operasional bulanan. Maklum, pendapatan per bulannya kini hanya berkisar Rp 50-60 juta. Sedangkan biaya operasional taman meliputi gaji karyawan hingga tagihan listrik dan sebagainya mencapai Rp 150 juta per bulan. Artinya pihak pengelola kekurangan dana sampai Rp 100 juta lebih untuk menutupi kekurangannya.

Ketua Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung Ida Made Alit mengungkapkan, Taman Ujung mengalami kesulitan biaya operasional sejak pertengahan 2020. Saat itu situs sejarah Kerajaan Karangasem ditutup hingga Juni 2020 akibat pandemi Covid-19. Tidak ada kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Karena pendapatan minus saat itu, pengelola sampai berlakukan pemangkasan gaji karyawan 50 persen. “Kami ingin cagar budaya ini bisa dipelihara dengan baik. Soal kebersihan ini harus dipertahankan. Makanya kami belum mau merumahkan karyawan sampai sekarang. Ini kan tanggung jawab kami memperhatikan taman tetap dipelihara,” terang Ida Made Alit, Rabu (17/3).

Pun saat kunjungan mulai dibuka dalam rangka new normal, hanya ada beberapa wisatawan masuk. Jumlahnya beda jauh dibanding saat situasi normal. Sebelum pandemi Covid-19, pendapatan badan pengelola bisa mencapai minimal Rp 300 juta, dan maksimal terjadi fluktuatif antara Rp 500-600 juta tiap bulan.

Diakui, dari jumlah pendapatan saat ini, pengelola terpaksa memakai kas untuk talangi kekurangan. Hingga biaya operasional Rp 150 jutaan tiap bulan terpenuhi. “Saat ini untuk 2021 ini kami sulit sekali. Kami minus demi memenuhi biaya operasional,” keluhnya.

Pendapatan dari kunjungan tamu domestik rupanya tak cukup untuk menutupi biaya yang harus dipenuhi saat ini. Kekurangannya sekitar 50 persen lebih. Maklum, wisatawan mancanegara adalah segmen pengunjung yang dominan.  Pihaknya berharap ada perhatian pemerintah terkait kondisi ini. Minimal memberi bantuan untuk perawatan serta biaya operasional. “Kami andalkan pendapatan dari tamu domestik saja kurang. Kalau ini terus berlanjut, apakah kami bisa lanjut? Pegawai kami katakan siap berapa saja dapat (dibayar), tapi kami tidak enak,” pungkas mantan anggota DPRD Bali itu.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/