alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Laporan Korban Robot Trading Fahrenheit di Bali Ditangani Mabes Polri

DENPASAR, BALI EXPRESS – Heboh sejumlah nasabah melaporkan dugaan penipuan Robot Trading Fahrenheit ke Ditreskrimsus Polda Bali pada Senin (14/3) lalu. Terbaru, laporan tersebut kini ditangani oleh Mabes Polri. Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Syamsi yang dikonfirmasi pada Kamis (17/3).

 

Sebagaimana diketahui, tujuh orang nasabah diantaranya bernama Murni Wiati dan Beni Kurniawan, mengaku mewakili ratusan nasabah lainnya karena merasa tertipu dan dirugikan oleh robot trading dari PT Fahrenheit System Pro (FSP) Akademi Pro yang dimiliki terlapor Hendry Susanto. Kasus ini disebutkan terjadi pada nasabah di seluruh Indonesia.

 

Senada dengan pengakuan pelapor, Sayamsi menyebut kasus yang menjerat PT FSP ini dilaporkan oleh nasabah dari berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya Bali saja. Maka dari itu, Mabes Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim mengambil alih kasus tersebut. “Iya karena ada di berbagai daerah di Indonesia, untuk itu proses laporan atau pengaduan dilimpahkan ke Mabes,” tandasnya.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Murni Wiati dan Beny bersama lima orang lainnya melaporkan penipuan investasi Robot Trading Fahrenheit dari PT FSP ke Polda Bali, pada Senin (14/3). Mereka disebut mewakili 100 nasabah lainnya dengan total kerugian yang ditafsir mencapai ratusan miliar rupiah. Karena investasi menggunakan robot trading (otomatis) yang diikuti olehnya diduga hasilnya sudah diatur agar tiba-tiba mengalami kerugian hingga modal habis.

 

Awalnya nasabah mendaftar dengan syarat investasi minimal USD 500 atau sekitar Rp 7 juta. Semula trading itu berjalan baik-baik saja dengan beberapa kali profit. Tetapi pada 18 Januari 2022, trading dihentikan tanpa bisa withdraw (menarik equity) dengan alasan mengurus perizinan yang tidak lengkap. Saat itu, terlapor melalui rekaman video berkomunikasi di grup para nasabah wilayah Bali dengan menjanjikan trading bisa dimulai dan bisa withdraw lagi pada 25 Februari 2022. Akan tetapi hal itu tak terwujud.

 

Kemudian terlapor kembali mengatakan semua akan baik-baik saja dan dapat dimulai pada 7 Maret 2022. Memang trading tersebut kembali berjalan dan sempat profit pada sore hari. Namun di malam hari secara tiba-tiba diduga terjadi scam. Trading otomatisnya minus luar biasa secara terus-menerus tanpa henti, sampai modal pun terkuras, tanpa bisa melakukan withdraw.

 

“Ini terjadi pada ratusan nasabah, ada sudah inves USD 5000 atau USD 1 juta, total kerugian ini belum bisa dipastikan ya, karena data terus masuk, perkiraan saja yang di Bali mencapai ratusan miliar rupiah,” kata Murni saat itu. Menurut pelapor, kasus ini serupa dengan permasalahan korban dari sosok crazy rich Indra Kesuma. Apalagi belakangan ini FSP disebut sebagai trading tak berizin alias ilegal.

 

Ternyata detail izin ini belum terlalu diketahui oleh pihaknya. Dia percaya karena FSP memiliki SIUP dan NPWP ditambah keanggotaan APLI di awal perkenalan dan tak menyangka harus ada izin dari Bappebti. Sampai akhirnya terjadi pembekuan, tanpa bisa withdraw alias dana yang diinvestasikan hilang. Sehingga tujuannya melapor adalah agar dana yang telah dia investasikan bisa kembali. Selain itu, agar tidak terjadi hal serupa kepada tempat trader lainnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Heboh sejumlah nasabah melaporkan dugaan penipuan Robot Trading Fahrenheit ke Ditreskrimsus Polda Bali pada Senin (14/3) lalu. Terbaru, laporan tersebut kini ditangani oleh Mabes Polri. Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Syamsi yang dikonfirmasi pada Kamis (17/3).

 

Sebagaimana diketahui, tujuh orang nasabah diantaranya bernama Murni Wiati dan Beni Kurniawan, mengaku mewakili ratusan nasabah lainnya karena merasa tertipu dan dirugikan oleh robot trading dari PT Fahrenheit System Pro (FSP) Akademi Pro yang dimiliki terlapor Hendry Susanto. Kasus ini disebutkan terjadi pada nasabah di seluruh Indonesia.

 

Senada dengan pengakuan pelapor, Sayamsi menyebut kasus yang menjerat PT FSP ini dilaporkan oleh nasabah dari berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya Bali saja. Maka dari itu, Mabes Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim mengambil alih kasus tersebut. “Iya karena ada di berbagai daerah di Indonesia, untuk itu proses laporan atau pengaduan dilimpahkan ke Mabes,” tandasnya.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Murni Wiati dan Beny bersama lima orang lainnya melaporkan penipuan investasi Robot Trading Fahrenheit dari PT FSP ke Polda Bali, pada Senin (14/3). Mereka disebut mewakili 100 nasabah lainnya dengan total kerugian yang ditafsir mencapai ratusan miliar rupiah. Karena investasi menggunakan robot trading (otomatis) yang diikuti olehnya diduga hasilnya sudah diatur agar tiba-tiba mengalami kerugian hingga modal habis.

 

Awalnya nasabah mendaftar dengan syarat investasi minimal USD 500 atau sekitar Rp 7 juta. Semula trading itu berjalan baik-baik saja dengan beberapa kali profit. Tetapi pada 18 Januari 2022, trading dihentikan tanpa bisa withdraw (menarik equity) dengan alasan mengurus perizinan yang tidak lengkap. Saat itu, terlapor melalui rekaman video berkomunikasi di grup para nasabah wilayah Bali dengan menjanjikan trading bisa dimulai dan bisa withdraw lagi pada 25 Februari 2022. Akan tetapi hal itu tak terwujud.

 

Kemudian terlapor kembali mengatakan semua akan baik-baik saja dan dapat dimulai pada 7 Maret 2022. Memang trading tersebut kembali berjalan dan sempat profit pada sore hari. Namun di malam hari secara tiba-tiba diduga terjadi scam. Trading otomatisnya minus luar biasa secara terus-menerus tanpa henti, sampai modal pun terkuras, tanpa bisa melakukan withdraw.

 

“Ini terjadi pada ratusan nasabah, ada sudah inves USD 5000 atau USD 1 juta, total kerugian ini belum bisa dipastikan ya, karena data terus masuk, perkiraan saja yang di Bali mencapai ratusan miliar rupiah,” kata Murni saat itu. Menurut pelapor, kasus ini serupa dengan permasalahan korban dari sosok crazy rich Indra Kesuma. Apalagi belakangan ini FSP disebut sebagai trading tak berizin alias ilegal.

 

Ternyata detail izin ini belum terlalu diketahui oleh pihaknya. Dia percaya karena FSP memiliki SIUP dan NPWP ditambah keanggotaan APLI di awal perkenalan dan tak menyangka harus ada izin dari Bappebti. Sampai akhirnya terjadi pembekuan, tanpa bisa withdraw alias dana yang diinvestasikan hilang. Sehingga tujuannya melapor adalah agar dana yang telah dia investasikan bisa kembali. Selain itu, agar tidak terjadi hal serupa kepada tempat trader lainnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/