alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Tersangkut Dugaan Keterangan Palsu, ZT Nyatakan Tidak Pernah Menipu 

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pengusaha ZT, terlapor kasus dugaan memberikan keterangan palsu sebagaimana dilaporkan Hedar Giacomo Boy Syam, Jumat (16/4) menyampaikan tanggapannya.  

Pada wartawan di rumahnya, kawasan Kuta, pengusaha asal Sulawesi Selatan tersebut enggan berpolemik terkait pasal yang disangkakan padanya. “Saya di Bali sudah 51 tahun, tidak pernah menipu orang,”ungkap ZT. 

Mantan promoter petinju Chris John itu mengaku justru adanya laporan itu membuatnya bingung. Terlebih dari perkembangan hasil penyelidikan polisi, Zaenal Thayeb (ZT) sudah menyandang status tersangka. 

Kalau dirunut ke belakang, sambung pengusaha perhotelan ini, pelapor merupakan keponakannya sendiri. Kala itu, terlapor meminta bantuan pekerjaan pada ZT. Setelah mempertimbangkan akhirnya terlapor diajak bekerjasama di bidang property. 

Pekerjaan pertama di kawasan  Mumbul, Nusa Dua hingga akhirnya berkembang ke Cemagi, Badung yang sekarang menjadi obyek persoalan. Di bawah bendera PT MBK, terlapor memangku jabatan sebagai direktur. Tugasnya, menjual tanah, membangun rumah dan menjualnya ke konsumen. Adapun tanah yang dijual awalnya milik pribadi ZT. 

“Dia minta kerjaan, saya kasih modal awal Rp 20 Miliar pinjaman bank, kok tiba-tiba melaporkan saya,” sesal ZT. Ditambahkan ZT, seharusnya dia yang menuntut ke terlapor baik secara pidana maupun perdata. Pasalnya, ada beberapa perjanjian yang diduga diingkari. 

Baca Juga :  Sasar Kutsel, Pemkab Badung Edukasi Prokes dan Semprot Disinfektan  

Terlapor tidak menyerahkan uang hasil penjualan tanah sekitar Rp 9 Miliar. Terus, tidak dibayarkan pinjaman uang ke bank serta menunggak pajak. “Saya harus bayar cicilan bank  Rp 300 juta per bulan, ditambah pajak Rp 200 juta, mestinya dia yang bayar bukan saya, karena menjaga nama baik saya di bank, saya yang bayar,” katanya. 

Disinggung soal perkaranya lagi, ZT menghormati aparat penyidik kepolisian. Pihak kepolisian memiliki wewenang melakukan penyelidikan serta penyidikan. “Saya serahkan pada Tuhan saja, kebenaran pasti terungkap,”imbuh mantan pengusaha perak ini.

ZT ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Badung atas tuduhan menyuruh memberikan keterangan palsu ke dalam akta autentik. Penetapan dirinya sebagai tersangka berdasarkan laporan dari Hedar Giacomo Boy Syam dengan LP-43/11/2020/BALI/Res Badung, tertanggal 05 Februari 2020. 

Pasal yang disangkakan Satreskrim Polres Badung, pasal 266 ayat (1) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1e KHUP. Dari laporan Hedar itu, disebutkan permasalahan bermula saat ZT mengajak Hedar untuk menjalin kerjasama dalam pembangunan dan penjualan obyek tanah milik ZT yang terletak di  Cemagi, Mengwi, Badung pada awal tahun 2012. 

Baca Juga :  Sebanyak 566 Warga Karangasem Mengungsi ke Denpasar

Kemudian ZT mendirikan perusahaan bernama PT MBK sebagai badan hukum kerjasama. Kerjasama berlanjut ditandai dengan pemecahan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang  disertai pembuatan blok plan, juga pembangunan beberapa unit rumah untuk dijual kepada konsumen.

Pada 2017 disepakati perjanjian notariil dan saat itu anak buah ZT berinisial YP membuatkan draft perjanjian untuk diserahkan kepada Notaris BF Harry Prastawa. Dengan draft tersebut sebagai acuan, membuatkan akta perjanjian kerjasama pembangunan dan Penjualan Nomor 33 tanggal 27 September 2017. 

Disebutkan dalam akta itu bahwa ZT selaku pihak pertama memiliki obyek tanah dengan 8 SHM luas total 13.700 m2, sedangkan Hedar selaku pihak kedua. Selanjutnya pembagunan juga penjualan di atas tanah tersebut dilakukan oleh Hedar dengan nama OLR yang wajib membayar nilai atas seluruh obyek tanah sebesar Rp 45 juta per m2, total sebesar Rp 61,65 Niliar dengan termin pembayaran 11 kali. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pengusaha ZT, terlapor kasus dugaan memberikan keterangan palsu sebagaimana dilaporkan Hedar Giacomo Boy Syam, Jumat (16/4) menyampaikan tanggapannya.  

Pada wartawan di rumahnya, kawasan Kuta, pengusaha asal Sulawesi Selatan tersebut enggan berpolemik terkait pasal yang disangkakan padanya. “Saya di Bali sudah 51 tahun, tidak pernah menipu orang,”ungkap ZT. 

Mantan promoter petinju Chris John itu mengaku justru adanya laporan itu membuatnya bingung. Terlebih dari perkembangan hasil penyelidikan polisi, Zaenal Thayeb (ZT) sudah menyandang status tersangka. 

Kalau dirunut ke belakang, sambung pengusaha perhotelan ini, pelapor merupakan keponakannya sendiri. Kala itu, terlapor meminta bantuan pekerjaan pada ZT. Setelah mempertimbangkan akhirnya terlapor diajak bekerjasama di bidang property. 

Pekerjaan pertama di kawasan  Mumbul, Nusa Dua hingga akhirnya berkembang ke Cemagi, Badung yang sekarang menjadi obyek persoalan. Di bawah bendera PT MBK, terlapor memangku jabatan sebagai direktur. Tugasnya, menjual tanah, membangun rumah dan menjualnya ke konsumen. Adapun tanah yang dijual awalnya milik pribadi ZT. 

“Dia minta kerjaan, saya kasih modal awal Rp 20 Miliar pinjaman bank, kok tiba-tiba melaporkan saya,” sesal ZT. Ditambahkan ZT, seharusnya dia yang menuntut ke terlapor baik secara pidana maupun perdata. Pasalnya, ada beberapa perjanjian yang diduga diingkari. 

Baca Juga :  Proyek Underpass Ngurah Rai Target Rampung Akhir Bulan Ini

Terlapor tidak menyerahkan uang hasil penjualan tanah sekitar Rp 9 Miliar. Terus, tidak dibayarkan pinjaman uang ke bank serta menunggak pajak. “Saya harus bayar cicilan bank  Rp 300 juta per bulan, ditambah pajak Rp 200 juta, mestinya dia yang bayar bukan saya, karena menjaga nama baik saya di bank, saya yang bayar,” katanya. 

Disinggung soal perkaranya lagi, ZT menghormati aparat penyidik kepolisian. Pihak kepolisian memiliki wewenang melakukan penyelidikan serta penyidikan. “Saya serahkan pada Tuhan saja, kebenaran pasti terungkap,”imbuh mantan pengusaha perak ini.

ZT ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Badung atas tuduhan menyuruh memberikan keterangan palsu ke dalam akta autentik. Penetapan dirinya sebagai tersangka berdasarkan laporan dari Hedar Giacomo Boy Syam dengan LP-43/11/2020/BALI/Res Badung, tertanggal 05 Februari 2020. 

Pasal yang disangkakan Satreskrim Polres Badung, pasal 266 ayat (1) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1e KHUP. Dari laporan Hedar itu, disebutkan permasalahan bermula saat ZT mengajak Hedar untuk menjalin kerjasama dalam pembangunan dan penjualan obyek tanah milik ZT yang terletak di  Cemagi, Mengwi, Badung pada awal tahun 2012. 

Baca Juga :  Harapan Wisman Masuk Bali Semakin Jauh, Ini Penyebabnya

Kemudian ZT mendirikan perusahaan bernama PT MBK sebagai badan hukum kerjasama. Kerjasama berlanjut ditandai dengan pemecahan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang  disertai pembuatan blok plan, juga pembangunan beberapa unit rumah untuk dijual kepada konsumen.

Pada 2017 disepakati perjanjian notariil dan saat itu anak buah ZT berinisial YP membuatkan draft perjanjian untuk diserahkan kepada Notaris BF Harry Prastawa. Dengan draft tersebut sebagai acuan, membuatkan akta perjanjian kerjasama pembangunan dan Penjualan Nomor 33 tanggal 27 September 2017. 

Disebutkan dalam akta itu bahwa ZT selaku pihak pertama memiliki obyek tanah dengan 8 SHM luas total 13.700 m2, sedangkan Hedar selaku pihak kedua. Selanjutnya pembagunan juga penjualan di atas tanah tersebut dilakukan oleh Hedar dengan nama OLR yang wajib membayar nilai atas seluruh obyek tanah sebesar Rp 45 juta per m2, total sebesar Rp 61,65 Niliar dengan termin pembayaran 11 kali. 


Most Read

Artikel Terbaru

/