alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Polemik Batal Nyentana, Kelian Banjar Sebut Ni Putu M Nikah Sama Sepupu, Ini Penuturannya

GIANYAR, BALI EXPRESS – Viralnya kisah Ni Putu M di Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar yang gagal mendapatkan sentana dan menikah tanpa kekasih hatinya memantik komentar banyak pihak. Diantaranya dari pihak banjar.

Kelian Dinas Banjar Banda I Kadek Merta Anggara, dikonfirmasi Selasa (18/1) menjelaskan bahwa sesuai yang diketahui oleh dirinya, jika sejak awal dari pribadi si pria memang sudah setuju untuk nyentana ke rumah si wanita. Hanya saja si pria tidak memberitahukan rencana itu kepada orang tua maupun keluarga besarnya. Sampai akhirnya H-6 acara pernikahan, keluarga si wanita datang ke rumah si pria dan melakukan pembicaraan serius (Nyedekang). “Jelas pihak keluarga si pria ini merasa terkejut, sehingga pembicaraan tersebut dipending sementara,” ujarnya sembari mengatakan jika kedua belah pihak adalah keluarganya (nyame) sehingga ia ingin meluruskan persoalan tersebut.

Selanjutnya, pada H-3 keluarga besar si pria bertamu ke rumah keluarga si wanita dengan maksud menyampaikan jika si pria siap bertanggungjawab untuk menikahi si wanita namun tidak dengan nyentane. Sayangnya pihak keluarga si wanita tidak bisa menerima keputusan tersebut dan tetap mempertahankan anaknya. “Akhirnya karena tidak menemukan solusi, maka pembicaraan tersebut dipending kembali,” imbuhnya.

Mirisnya hingga H-2 acara pernikahan, tidak ada ada keputusan dari kedua belah pihak. Sehingga keluarga si wanita melakukan paruman intern keluarga yang hasilnya memutuskan jika si wanita akan dinikahkan dengan kakak sepupunya. “Dan berlangsunglah prosesi pernikahannya,” tandasnya.

Jika ditinjau dari segi administrasi, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Gianyar, Cokorda Agusnawa mengatakan bahwa untuk memperoleh akta perkawinan harus ada ikatan bathin antaran seorang pria dan seorang wanita sesuai dengan ketentuan Pasar 1 UU Perkawinan. Maka pernikahan yang sah secara hukum sehingga bisa memunculkan akta perkawinan sudah jelas harus ada unsur pria dan wanita. “Karena pengertian perkawinan menurut ketentuan pasal 1 UU Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antaran seorang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Ditambahkannya jika berdasarkan ketentuan tersebut maka perkawinan terdiri dari 5 unsur yakni ikatan lahir bathin, seorang pria dan seorang wanita, sebagai suami dan istri, membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, dan yang terakhir berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. “Jika beberapa unsur itu tidak dipenuhi maka tidak bisa didaftarkan untuk mendapatkan akta perkawinan,” imbuhnya.

Akan tetapi jika pernikahan dijalani hanya seorang diri, apabila nanti anaknya lahir maka dapat tetap dibuatkan akta kelahiran dengan ibu sebagai orang tua tunggal. “Akta kelahiran anaknya tetap dapat dibuatkan. Jadi ibunya yang akan menjadi orang tua tunggal,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ni Putu M menegaskan jika sepupunya yang mendampinginya saat upacara pernikahan tidak ada ikatan apapun dan hanya sebagai pendamping. “Sepupu saya yang membawa kerisnya. Dia tidak ada ikatan apapun dalam pernikahan. Hanya jadi pendamping saja,” ujarnya.

Sementara itu, melalui akun media sosial Facebook, ayah dari Ni Putu M memohon maaf dan meminta kepada netizin untuk tidak membahas tentang pernikahan anaknya yang kini telah viral. Sebab ia bersama keluarga besarnya sudah menerima dengan ikhlas kondisi tersebut. Ia juga menyerahkan sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Hanya beliau yang tahu benar dan salah, kita sebagai umat hanya menjalankan saja. Dan tiyang matur suksma ring keluarga besar tyang atas perjuangan selama ini sareng ikut ring masalah tyang. Tyang sangat mohon kepada netizin semua, anggap ini sebuah pelajaran bagi yang punya anak, jalan nu lantang, semoga selalu ke arah yang benar. Salam rahayu, tetap tersenyum,” tulisnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Viralnya kisah Ni Putu M di Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar yang gagal mendapatkan sentana dan menikah tanpa kekasih hatinya memantik komentar banyak pihak. Diantaranya dari pihak banjar.

Kelian Dinas Banjar Banda I Kadek Merta Anggara, dikonfirmasi Selasa (18/1) menjelaskan bahwa sesuai yang diketahui oleh dirinya, jika sejak awal dari pribadi si pria memang sudah setuju untuk nyentana ke rumah si wanita. Hanya saja si pria tidak memberitahukan rencana itu kepada orang tua maupun keluarga besarnya. Sampai akhirnya H-6 acara pernikahan, keluarga si wanita datang ke rumah si pria dan melakukan pembicaraan serius (Nyedekang). “Jelas pihak keluarga si pria ini merasa terkejut, sehingga pembicaraan tersebut dipending sementara,” ujarnya sembari mengatakan jika kedua belah pihak adalah keluarganya (nyame) sehingga ia ingin meluruskan persoalan tersebut.

Selanjutnya, pada H-3 keluarga besar si pria bertamu ke rumah keluarga si wanita dengan maksud menyampaikan jika si pria siap bertanggungjawab untuk menikahi si wanita namun tidak dengan nyentane. Sayangnya pihak keluarga si wanita tidak bisa menerima keputusan tersebut dan tetap mempertahankan anaknya. “Akhirnya karena tidak menemukan solusi, maka pembicaraan tersebut dipending kembali,” imbuhnya.

Mirisnya hingga H-2 acara pernikahan, tidak ada ada keputusan dari kedua belah pihak. Sehingga keluarga si wanita melakukan paruman intern keluarga yang hasilnya memutuskan jika si wanita akan dinikahkan dengan kakak sepupunya. “Dan berlangsunglah prosesi pernikahannya,” tandasnya.

Jika ditinjau dari segi administrasi, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Gianyar, Cokorda Agusnawa mengatakan bahwa untuk memperoleh akta perkawinan harus ada ikatan bathin antaran seorang pria dan seorang wanita sesuai dengan ketentuan Pasar 1 UU Perkawinan. Maka pernikahan yang sah secara hukum sehingga bisa memunculkan akta perkawinan sudah jelas harus ada unsur pria dan wanita. “Karena pengertian perkawinan menurut ketentuan pasal 1 UU Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antaran seorang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Ditambahkannya jika berdasarkan ketentuan tersebut maka perkawinan terdiri dari 5 unsur yakni ikatan lahir bathin, seorang pria dan seorang wanita, sebagai suami dan istri, membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, dan yang terakhir berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. “Jika beberapa unsur itu tidak dipenuhi maka tidak bisa didaftarkan untuk mendapatkan akta perkawinan,” imbuhnya.

Akan tetapi jika pernikahan dijalani hanya seorang diri, apabila nanti anaknya lahir maka dapat tetap dibuatkan akta kelahiran dengan ibu sebagai orang tua tunggal. “Akta kelahiran anaknya tetap dapat dibuatkan. Jadi ibunya yang akan menjadi orang tua tunggal,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ni Putu M menegaskan jika sepupunya yang mendampinginya saat upacara pernikahan tidak ada ikatan apapun dan hanya sebagai pendamping. “Sepupu saya yang membawa kerisnya. Dia tidak ada ikatan apapun dalam pernikahan. Hanya jadi pendamping saja,” ujarnya.

Sementara itu, melalui akun media sosial Facebook, ayah dari Ni Putu M memohon maaf dan meminta kepada netizin untuk tidak membahas tentang pernikahan anaknya yang kini telah viral. Sebab ia bersama keluarga besarnya sudah menerima dengan ikhlas kondisi tersebut. Ia juga menyerahkan sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Hanya beliau yang tahu benar dan salah, kita sebagai umat hanya menjalankan saja. Dan tiyang matur suksma ring keluarga besar tyang atas perjuangan selama ini sareng ikut ring masalah tyang. Tyang sangat mohon kepada netizin semua, anggap ini sebuah pelajaran bagi yang punya anak, jalan nu lantang, semoga selalu ke arah yang benar. Salam rahayu, tetap tersenyum,” tulisnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/