alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Alami Penurunan Laba, Komisi III DPRD Gianyar Beri PAM TS Solusi Ini

GIANYAR, BALI EXPRESS – Komisi III DPRD Gianyar menggelar monitoring dan evaluasi (Monev) ke Perusahaan Air Minum (PAM) Tirta Sanjiwani (TS), Gianyar, Rabu (16/2). Monev dilakukan untuk mengetahui kinerja PAM Tirta Sanjiwani sekaligus perkembangan jaringan dan pelanggan di lapangan.

 

Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Gede Pebriantara menjelaskan bahwa monev dilakukan untuk mengetahui kendala apa yang dihadapi oleh PAM Tirta Sanjiwani ditengah pandemi Covid-19. Sebab di masa pandemi ini, tidak bisa dipungkiri jika ada penurunan pembayaran rekening oleh pelanggan akibat ekonomi yang merosot. “Dan salah satu masalah yang dihadapi adalah kemampuan membayar dari pelanggan, sehingga membuat menurunnya penggunaan air. Dan hal ini membuat pelanggan yang menunggak rekening pembayaran meningkat,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (18/2).

 

Ditambahkannya jika hal itu pun membuat perusahaan yang memiliki aset Rp 125 Miliar tersebut labanya mengalami penurunan dari Rp 1,5 Miliar di tahun 2020 menjadi Rp 1,1 Miliar di tahun 2021. Kendatipun demikian, kata dia penurunan yang terjadi bersifat sementara karena akan kembali normal disaat pandemi berakhir. Atasnya banyaknya pelanggan yang menunggak pembayaran rekening air, pihaknya pun meminta agar PAM Tirta Sanjiwani melakukan pendekatan dan pemungutan dengan cara-cara yang humanis serta dapat memberikan kelonggaran. “Misalnya dengan cara mengkreditkan pembayarannya ataupun menghapuskan denda. Sehingga  piutang perusahaan dapat ditagih dan masyarakat dalam hal ini pelanggan pun mampu membayar tagihan rekening airnya,” bebernya.

 

Sedangkan mengenai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), menurutnya dalam monev itu disampaikan jika kapasitas produksi masih belum maksimal karena baru diluncurkan bulan Mei 2021 lalu. Disamping itu, masih adanya kendala SDM karena masih baru sehingga butuh penyesuaian. Selain itu kebutuhan tambahan modal produksi juga masih menjadi kendala untuk meningkatkan produksinya.

 

Padahal di lapangan, AMDK milik PAM Tirta Sanjiwani yang diberi nama Be Gianyar Mineral Water itu sudah mulai dikenal dan permintaannya juga lumayan meningkat. Hanya saja yang menjadai masalah saat ini adalah keterbatasan modal produksi yang menyebabkan produksi hanya bisa 40 persen dari kapasitas produksi maksimal. “Dan selama 6 bulan berjalan AMDK dengan produk Be Gianyar baru mampu mendatangkan pendapatan penjualan Rp 1,5 Miliar lebih,” sebut anggota DPRD Gianyar Fraksi PDIP tersebut.

 

Dan atas kendala-kendala yang disampaikan, Komisi III DPRD Gianyar dan PAM Tirta Sanjiwani sepakat untuk bisa  mengarahkan konsumen beralih dari air minum kemasan botol plastik ke galon, karena cost produksi air minum botol plastik lebih mahal, bahkan lebih mahal botol daripada airnya. Dan jika konsumen bisa beralih ke penggunaan galon isi ulang maka cost produksi botol  0 persen sehingga biaya maupun modal produksinya juga rendah. Maka dari itu pihaknya mengharapkan konsumen perkantoran khususnya instansi pemerintah sampai yang terbawah maupun perusahaan swasta agar mulai menggunakan air minum galon isi ulang. Disamping itu juga dapat mengurangi timbulan sampah plastik sekali pakai sesuai dengan Pergub Provinsi Bali Nomor 97 tahun 2018.

 

“Serta yang lebih menguntungkan bagi AMDK Tirta Sanjiwani selama ini biaya produksi yang tinggi justru dalam memproduksi botol plastik. Karena hampir 65 persen itu biaya pengadaan botol plastik, sedangkan airnya itu murah, sehingga kita dorong agar perkantoran bisa memakai air isi ulang dari Be Gianyar yang pasti akan menurunkan cost produksi,” tandasnya.

 

Sementara itu, Direktur Utama PAM Tirta Sanjiwani, Made Sastra Kencana mengatakan bahwa dari saran-saran yang diberikan oleh Komisi III DPRD Gianyar tersebut, disepakati jika pihaknya akan memberikan keringanan kepada pelanggan dengan memberikan sistem cicilan dalam pembayaran rekening. “Yang disetujui itu adalah pemberian cicilan, tidak ada kebijakan untuk menghapus denda. Jadi cicilan ini diberikan untuk pembayaran tunggakan pelanggan non aktif, baik itu yang menunggak atau berhenti berlangganan,” tegasnya.

 

Ditambahkannya jika sistem cicilan ini sudah berjalan, dengan mekanisme pelanggan yang ingin mendapatkan sistem cicilan dapat mengajukan permohonan dengan bersurat ke PAM Tirta Sanjiwani. “Dan ini sudah berjalan sejak mulai pandemi, sudah ada yang bayar 5,8 persen dari nilai tunggakan SR non aktif,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Komisi III DPRD Gianyar menggelar monitoring dan evaluasi (Monev) ke Perusahaan Air Minum (PAM) Tirta Sanjiwani (TS), Gianyar, Rabu (16/2). Monev dilakukan untuk mengetahui kinerja PAM Tirta Sanjiwani sekaligus perkembangan jaringan dan pelanggan di lapangan.

 

Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Gede Pebriantara menjelaskan bahwa monev dilakukan untuk mengetahui kendala apa yang dihadapi oleh PAM Tirta Sanjiwani ditengah pandemi Covid-19. Sebab di masa pandemi ini, tidak bisa dipungkiri jika ada penurunan pembayaran rekening oleh pelanggan akibat ekonomi yang merosot. “Dan salah satu masalah yang dihadapi adalah kemampuan membayar dari pelanggan, sehingga membuat menurunnya penggunaan air. Dan hal ini membuat pelanggan yang menunggak rekening pembayaran meningkat,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (18/2).

 

Ditambahkannya jika hal itu pun membuat perusahaan yang memiliki aset Rp 125 Miliar tersebut labanya mengalami penurunan dari Rp 1,5 Miliar di tahun 2020 menjadi Rp 1,1 Miliar di tahun 2021. Kendatipun demikian, kata dia penurunan yang terjadi bersifat sementara karena akan kembali normal disaat pandemi berakhir. Atasnya banyaknya pelanggan yang menunggak pembayaran rekening air, pihaknya pun meminta agar PAM Tirta Sanjiwani melakukan pendekatan dan pemungutan dengan cara-cara yang humanis serta dapat memberikan kelonggaran. “Misalnya dengan cara mengkreditkan pembayarannya ataupun menghapuskan denda. Sehingga  piutang perusahaan dapat ditagih dan masyarakat dalam hal ini pelanggan pun mampu membayar tagihan rekening airnya,” bebernya.

 

Sedangkan mengenai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), menurutnya dalam monev itu disampaikan jika kapasitas produksi masih belum maksimal karena baru diluncurkan bulan Mei 2021 lalu. Disamping itu, masih adanya kendala SDM karena masih baru sehingga butuh penyesuaian. Selain itu kebutuhan tambahan modal produksi juga masih menjadi kendala untuk meningkatkan produksinya.

 

Padahal di lapangan, AMDK milik PAM Tirta Sanjiwani yang diberi nama Be Gianyar Mineral Water itu sudah mulai dikenal dan permintaannya juga lumayan meningkat. Hanya saja yang menjadai masalah saat ini adalah keterbatasan modal produksi yang menyebabkan produksi hanya bisa 40 persen dari kapasitas produksi maksimal. “Dan selama 6 bulan berjalan AMDK dengan produk Be Gianyar baru mampu mendatangkan pendapatan penjualan Rp 1,5 Miliar lebih,” sebut anggota DPRD Gianyar Fraksi PDIP tersebut.

 

Dan atas kendala-kendala yang disampaikan, Komisi III DPRD Gianyar dan PAM Tirta Sanjiwani sepakat untuk bisa  mengarahkan konsumen beralih dari air minum kemasan botol plastik ke galon, karena cost produksi air minum botol plastik lebih mahal, bahkan lebih mahal botol daripada airnya. Dan jika konsumen bisa beralih ke penggunaan galon isi ulang maka cost produksi botol  0 persen sehingga biaya maupun modal produksinya juga rendah. Maka dari itu pihaknya mengharapkan konsumen perkantoran khususnya instansi pemerintah sampai yang terbawah maupun perusahaan swasta agar mulai menggunakan air minum galon isi ulang. Disamping itu juga dapat mengurangi timbulan sampah plastik sekali pakai sesuai dengan Pergub Provinsi Bali Nomor 97 tahun 2018.

 

“Serta yang lebih menguntungkan bagi AMDK Tirta Sanjiwani selama ini biaya produksi yang tinggi justru dalam memproduksi botol plastik. Karena hampir 65 persen itu biaya pengadaan botol plastik, sedangkan airnya itu murah, sehingga kita dorong agar perkantoran bisa memakai air isi ulang dari Be Gianyar yang pasti akan menurunkan cost produksi,” tandasnya.

 

Sementara itu, Direktur Utama PAM Tirta Sanjiwani, Made Sastra Kencana mengatakan bahwa dari saran-saran yang diberikan oleh Komisi III DPRD Gianyar tersebut, disepakati jika pihaknya akan memberikan keringanan kepada pelanggan dengan memberikan sistem cicilan dalam pembayaran rekening. “Yang disetujui itu adalah pemberian cicilan, tidak ada kebijakan untuk menghapus denda. Jadi cicilan ini diberikan untuk pembayaran tunggakan pelanggan non aktif, baik itu yang menunggak atau berhenti berlangganan,” tegasnya.

 

Ditambahkannya jika sistem cicilan ini sudah berjalan, dengan mekanisme pelanggan yang ingin mendapatkan sistem cicilan dapat mengajukan permohonan dengan bersurat ke PAM Tirta Sanjiwani. “Dan ini sudah berjalan sejak mulai pandemi, sudah ada yang bayar 5,8 persen dari nilai tunggakan SR non aktif,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/