alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Nitri Berjiwa Sosial, Usai Dampingi Soekarno Berhenti Jadi Polisi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Luh Putu Sugianitri, mantan ajudan presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang berpulang, 15 Maret 2021 adalah sosok Polwan yang sangat setia. Selepas menjadi ajudan Soekarno, Sugianitri memutuskan berhenti menjadi polisi. 

Anak pertama dari alm Ni Luh Putu Sugianitri, Fajar Rohita 53, menuturkan ibundanya memutuskan menghabiskan waktunya dengan melukis serta bercocok tanam.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi kediaman Ni Luh Putu Sugianitri di Jalan Drupadi, Denpasar, pekan kemarin, berjejer rapi lukisan hasil karya Sugianitri. Ada yang diletakkan di dinding luar rumah, ada juga yang dipajang khusus di dalam.

“Ibu lebih suka melukis dengan tema yang bernuansa gelap. Kalau dilihat secara psikologis, kemungkinan inilah isi hati ibu yang dituangkan dalam sebuah lukisan,” ungkap Fajar Rohita. 

Bahkan pernah Sugianitri didaulat menjadi Ketua Pelukis Wanita Bali ketika masih memiliki Art Shop di Ubud, Gianyar. 

Selain melukis, Sugianitri yang tinggal di kawasan Jalan Drupadi, Denpasar, juga gemar bercocok tanam. Jeruk Bali adalah tanaman favorit yang ditanam ketika menghabiskan waktu di rumah sederhananya. “Ibu sangat ingin melestarikan Jeruk Bali. Makanya disini lebih banyak Jeruk Bali yang ditanam,” sebutnya. 

Sebagai seorang mantan ajudan orang penting, paling tidak mendapat fasilitas yang cukup mewah. Tapi, sesuai penuturan Fajar, ibundanya tidak menginginkan hal tersebut. 

Sugianitri, yang biasa dipanggil Bung Karno dengan nama Nitri ini, lebih memilih tinggal di rumah sederhana yang masih dikontrak tersebut. “Sempat saya ajak tinggal di Bandung, tapi ibu menolak, katanya di sana dingin. Lebih baik di Denpasar, di rumah ini karena lebih asri,” cetus Fajar Rohita yang kini menetap di Surabaya ini. 

Selama di Denpasar, Sugianitri ditemani oleh dua anaknya. Selain melukis dan bercocok tanam, Sugianitri juga gemar memasak. Kata Fajar Rohita, hobi memasak tersebut tumbuh ketika ibunya menjadi pelayan serta ajudan Bung Karno dahulu. 

“Ibu jiwa sosialnya tinggi sekali. Sengaja masak banyak, padahal tinggal cuma bertiga. Makanan yang lebih itu ditawarkan kepada tetangga-tetangga sebelah rumah, yang kebetulan banyak anak-anak kos. Ya ibaratnya rumah seperti dapur umum,” ujar tamatan STP Nusa Dua ini. 

Selain itu, pernah juga Sugianitri secara suka rela menyumbangkan tanaman hiasnya untuk mempercantik pemandangan ketika ada pembangunan sebuah jalan. “Saya lupa pembangunan jalannya waktu itu dimana. Tapi ibu suka rela menyumbang tanaman hiasnya, padahal tanaman itu sebenarnya untuk dijual,” imbuhnya. 

Disinggung mengenai profesi anak-anak dari Sugianitri, Fajar Rohita mengaku jika ketujuh anaknya tidak ada yang mengikuti jejak ibunya sebagai polisi. Justru, lebih banyak mengarah ke bidang seni. 

Ni Luh Putu Sugianitri telah berpulang, 15 Maret 2021, meninggalkan lima putra dan dua putri serta lima cucu, dikremasi, Kamis, 18 Maret 2021 di Krematorium Mumbul, Badung. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Luh Putu Sugianitri, mantan ajudan presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang berpulang, 15 Maret 2021 adalah sosok Polwan yang sangat setia. Selepas menjadi ajudan Soekarno, Sugianitri memutuskan berhenti menjadi polisi. 

Anak pertama dari alm Ni Luh Putu Sugianitri, Fajar Rohita 53, menuturkan ibundanya memutuskan menghabiskan waktunya dengan melukis serta bercocok tanam.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi kediaman Ni Luh Putu Sugianitri di Jalan Drupadi, Denpasar, pekan kemarin, berjejer rapi lukisan hasil karya Sugianitri. Ada yang diletakkan di dinding luar rumah, ada juga yang dipajang khusus di dalam.

“Ibu lebih suka melukis dengan tema yang bernuansa gelap. Kalau dilihat secara psikologis, kemungkinan inilah isi hati ibu yang dituangkan dalam sebuah lukisan,” ungkap Fajar Rohita. 

Bahkan pernah Sugianitri didaulat menjadi Ketua Pelukis Wanita Bali ketika masih memiliki Art Shop di Ubud, Gianyar. 

Selain melukis, Sugianitri yang tinggal di kawasan Jalan Drupadi, Denpasar, juga gemar bercocok tanam. Jeruk Bali adalah tanaman favorit yang ditanam ketika menghabiskan waktu di rumah sederhananya. “Ibu sangat ingin melestarikan Jeruk Bali. Makanya disini lebih banyak Jeruk Bali yang ditanam,” sebutnya. 

Sebagai seorang mantan ajudan orang penting, paling tidak mendapat fasilitas yang cukup mewah. Tapi, sesuai penuturan Fajar, ibundanya tidak menginginkan hal tersebut. 

Sugianitri, yang biasa dipanggil Bung Karno dengan nama Nitri ini, lebih memilih tinggal di rumah sederhana yang masih dikontrak tersebut. “Sempat saya ajak tinggal di Bandung, tapi ibu menolak, katanya di sana dingin. Lebih baik di Denpasar, di rumah ini karena lebih asri,” cetus Fajar Rohita yang kini menetap di Surabaya ini. 

Selama di Denpasar, Sugianitri ditemani oleh dua anaknya. Selain melukis dan bercocok tanam, Sugianitri juga gemar memasak. Kata Fajar Rohita, hobi memasak tersebut tumbuh ketika ibunya menjadi pelayan serta ajudan Bung Karno dahulu. 

“Ibu jiwa sosialnya tinggi sekali. Sengaja masak banyak, padahal tinggal cuma bertiga. Makanan yang lebih itu ditawarkan kepada tetangga-tetangga sebelah rumah, yang kebetulan banyak anak-anak kos. Ya ibaratnya rumah seperti dapur umum,” ujar tamatan STP Nusa Dua ini. 

Selain itu, pernah juga Sugianitri secara suka rela menyumbangkan tanaman hiasnya untuk mempercantik pemandangan ketika ada pembangunan sebuah jalan. “Saya lupa pembangunan jalannya waktu itu dimana. Tapi ibu suka rela menyumbang tanaman hiasnya, padahal tanaman itu sebenarnya untuk dijual,” imbuhnya. 

Disinggung mengenai profesi anak-anak dari Sugianitri, Fajar Rohita mengaku jika ketujuh anaknya tidak ada yang mengikuti jejak ibunya sebagai polisi. Justru, lebih banyak mengarah ke bidang seni. 

Ni Luh Putu Sugianitri telah berpulang, 15 Maret 2021, meninggalkan lima putra dan dua putri serta lima cucu, dikremasi, Kamis, 18 Maret 2021 di Krematorium Mumbul, Badung. 


Most Read

Artikel Terbaru

/