alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Soekarno Selipkan Nama Anak Nitri di Kaos Kaki Megawati

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ucapan belasungkawa berupa karangan bunga berjejer rapi di sebuah rumah di Jalan Drupadi, Denpasar. Tanpa dibatasi pagar dan banyak ditumbuhi tanaman hias, rumah sederhana ini, justru menyimpan sesuatu yang amat berharga dan didiami oleh salah satu saksi sejarah negeri ini.

Rumah tersebut adalah milik Ni Luh Putu Sugianitri yang merupakan mantan ajudan presiden pertama Indonesia Soekarno, berpulang, 15 Maret 2021.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) mendatangi kediaman beliau, langsung disambut Fajar Rohita 53, anak pertama dari alm. Ni Luh Putu Sugianitri. 

“Ibu meninggal 15 Maret di RS Sanglah di umur 73 tahun karena penyakit komplikasi kista dan ginjal,” terang Fajar Rohita memulai obrolan. 

Awalnya, tidak ada gejala apapun yang dirasakan oleh Sugianitri. Bahkan, anak-anaknya tidak tahu menahu kondisi pasti ibundanya. “Ibu tetap merasa kuat, kebetulan juga dahulu waktu menjadi polisi wanita, ibu paling muda. Kalaupun mengeluh sakit, tidak pernah mau diajak ke dokter,” ungkapnya.

Kondisi dari Sugianitri baru diketahui mengalami penurunan sejak tiga bulan terakhir. Tanda-tandanya terlihat dengan pembekakan kaki. Puncaknya, seminggu lalu mengalami demam tinggi dan dilarikan ke rumah sakit Bali Med. Namun, kondisinya kembali drop dan akhirnya dirujuk ke RS Sanglah. 

“Di RS Sanglah itu, ibu sempat melewati masa kritis. Tapi, saat Nyepi, Minggu (14/3) kondisinya kembali melemah, bahkan sempat dibantu dengan alat khusus. Tapi takdir berkata lain, ibu dinyatakan meninggal jam empat pagi di RS Sanglah,” tutur Fajar Rohita. 

Dengan mata berkaca-kaca, Fajar Rohita menceritakan bagaimana kisah ibunya saat menjadi ajudan Bung Karno semasih hidup. “Yang paling saya ingat ketika ibu bercerita soal Bung Karno (Soekarno), saat situasi politik di Indonesia memanas di akhir tahun 60-an. Setiap menceritakan itu, ibu sangat berapi-api,” kata Fajar. 

“Ibu bilang pada saat itu, kenapa bapak (Bung Karno) tidak melawan. Kata Bung Karno, lebih baik dadanya dirobek daripada melihat bangsa sendiri terpecah belah. Karena jika melawan, efeknya sangat besar,” sambung Fajar yang masih ingat betul apa yang diceritakan oleh ibunya tersebut. 

Beberapa menit berselang, Fajar Rohita kemudian mengambil sebuah foto yang tidak terlalu besar. Dalam foto, Bung Karno terlihat sedang duduk santai di sebuah sofa menggunakan pakaian kebesarannya sembari tersenyum. Di sebelah Bung Karno, berdiri seorang gadis memakai kebaya. Di pojok kanan bawah foto, terdapat tulisan tangan berwarna biru berisi kalimat ‘Untuk Nitri’, lengkap dengan tahunnya 1967.

“Ini ibu saya, waktu jadi ajudan Bung Karno saat umur 19 tahun. Sebelum difoto, ibu katanya menolak ajakan Bung Karno untuk difoto, katanya untuk apa. Setelah dijelaskan bahwa itulah hari terakhir Bung Karno memakai baju tersebut, akhirnya ibu mau,” bebernya. 

Banyak juga hal-hal sepele tapi unik dari keseharian Bung Karno yang pernah dialami dan diceritakan kembali oleh ibundanya. Seperti melayani Bung Karno dengan menyiapkan makanan serta menyuguhkan secangkir teh atau kopi setiap hari dan keperluan lainnya. 

“Setiap pribadi pasti memiliki kesukaan tersendiri soal makanan. Kata ibu, Bung Karno itu suka dengan jajanan pasar, lemper dengan daging ayam, tempe goreng dan juga suka sayur lodeh. Jadi, ibu paham betul apa kesukaan dari beliau. Kadang ibu beli sendiri ke pasar untuk membeli apa yang diinginkan Bung Karno,” sebut sulung dari tujuh bersaudara ini. 

Kedekatan Soekarno dengan Sugianitri tak sebatas antara ajudan dengan presiden semata. Yang menarik lagi adalah nama Fajar Rohita itu. Siapa sangka, nama Fajar Rohita adalah pemberian dari Bung Karno sendiri. Ceritanya cukup unik, di tahun 1968 ketika Fajar Rohita lahir, awalnya memiliki nama Andri.

Nitri-panggilan akrab dari  Soekarno untuk Sugianitri- saat itu telah melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian dilaporkan kepada Soekarno dengan nama Andri. 

Entah kenapa, Soekarno kemudian memiliki ide dan menulis dalam secarik kertas bertuliskan nama Fajar Rohita. Kemudian, tulisan tersebut dititipkan kepada Megawati Soekarno Putri yang mana kertas itu diselipkan di kaos kaki ibu Mega pada saat itu. Kertas itulah yang kemudian diteruskan kepada Sugianitri agar sang anak diganti namanya menjadi Fajar Rohita. 

“Ibu saya yang cerita. Karena waktu itu, Bapak Soekarno tidak diperbolehkan sama sekali menerima tamu dan juga pergerakan beliau sangat dibatasi. Kurang lebih nama saya memiliki arti, Fajar yang berwarna merah. Tulisan tangan itu sempat dibawa ibu saya sampai sekarang, tapi tidak ketemu karena sudah lama dan ibu lupa menaruhnya dimana,” terangnya. 

Ia juga mengaku, namanya sering dijadikan bahan candaan oleh teman-temannya ketika masih remaja, kenapa namanya (Rohita) seperti anak perempuan. “Tapi dibalik itu semua, saya bangga dengan nama itu karena yang memberikan nama langsung adalah Bapak Soekarno,” tegasnya.

Berita berpulangnya Sugianitri ini, kata Fajar Rohita sempat membuat kaget keluarga Bung Karno. Bahkan, ia sempat dihubungi oleh Guntur Soekarno Putra. “Om Guntur sempat telepon saya dan sangat kaget ketika tahu ibu sudah meninggal. Beliau juga sudah mengucapkan belasungkawa, namun tidak bisa hadir,” sebutnya, sambil menunjuk karangan bunga bertuliskan Ucapan Belasungkawa dari Keluarga Guntur Soekarno dan Keluarga Bung Karno. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ucapan belasungkawa berupa karangan bunga berjejer rapi di sebuah rumah di Jalan Drupadi, Denpasar. Tanpa dibatasi pagar dan banyak ditumbuhi tanaman hias, rumah sederhana ini, justru menyimpan sesuatu yang amat berharga dan didiami oleh salah satu saksi sejarah negeri ini.

Rumah tersebut adalah milik Ni Luh Putu Sugianitri yang merupakan mantan ajudan presiden pertama Indonesia Soekarno, berpulang, 15 Maret 2021.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) mendatangi kediaman beliau, langsung disambut Fajar Rohita 53, anak pertama dari alm. Ni Luh Putu Sugianitri. 

“Ibu meninggal 15 Maret di RS Sanglah di umur 73 tahun karena penyakit komplikasi kista dan ginjal,” terang Fajar Rohita memulai obrolan. 

Awalnya, tidak ada gejala apapun yang dirasakan oleh Sugianitri. Bahkan, anak-anaknya tidak tahu menahu kondisi pasti ibundanya. “Ibu tetap merasa kuat, kebetulan juga dahulu waktu menjadi polisi wanita, ibu paling muda. Kalaupun mengeluh sakit, tidak pernah mau diajak ke dokter,” ungkapnya.

Kondisi dari Sugianitri baru diketahui mengalami penurunan sejak tiga bulan terakhir. Tanda-tandanya terlihat dengan pembekakan kaki. Puncaknya, seminggu lalu mengalami demam tinggi dan dilarikan ke rumah sakit Bali Med. Namun, kondisinya kembali drop dan akhirnya dirujuk ke RS Sanglah. 

“Di RS Sanglah itu, ibu sempat melewati masa kritis. Tapi, saat Nyepi, Minggu (14/3) kondisinya kembali melemah, bahkan sempat dibantu dengan alat khusus. Tapi takdir berkata lain, ibu dinyatakan meninggal jam empat pagi di RS Sanglah,” tutur Fajar Rohita. 

Dengan mata berkaca-kaca, Fajar Rohita menceritakan bagaimana kisah ibunya saat menjadi ajudan Bung Karno semasih hidup. “Yang paling saya ingat ketika ibu bercerita soal Bung Karno (Soekarno), saat situasi politik di Indonesia memanas di akhir tahun 60-an. Setiap menceritakan itu, ibu sangat berapi-api,” kata Fajar. 

“Ibu bilang pada saat itu, kenapa bapak (Bung Karno) tidak melawan. Kata Bung Karno, lebih baik dadanya dirobek daripada melihat bangsa sendiri terpecah belah. Karena jika melawan, efeknya sangat besar,” sambung Fajar yang masih ingat betul apa yang diceritakan oleh ibunya tersebut. 

Beberapa menit berselang, Fajar Rohita kemudian mengambil sebuah foto yang tidak terlalu besar. Dalam foto, Bung Karno terlihat sedang duduk santai di sebuah sofa menggunakan pakaian kebesarannya sembari tersenyum. Di sebelah Bung Karno, berdiri seorang gadis memakai kebaya. Di pojok kanan bawah foto, terdapat tulisan tangan berwarna biru berisi kalimat ‘Untuk Nitri’, lengkap dengan tahunnya 1967.

“Ini ibu saya, waktu jadi ajudan Bung Karno saat umur 19 tahun. Sebelum difoto, ibu katanya menolak ajakan Bung Karno untuk difoto, katanya untuk apa. Setelah dijelaskan bahwa itulah hari terakhir Bung Karno memakai baju tersebut, akhirnya ibu mau,” bebernya. 

Banyak juga hal-hal sepele tapi unik dari keseharian Bung Karno yang pernah dialami dan diceritakan kembali oleh ibundanya. Seperti melayani Bung Karno dengan menyiapkan makanan serta menyuguhkan secangkir teh atau kopi setiap hari dan keperluan lainnya. 

“Setiap pribadi pasti memiliki kesukaan tersendiri soal makanan. Kata ibu, Bung Karno itu suka dengan jajanan pasar, lemper dengan daging ayam, tempe goreng dan juga suka sayur lodeh. Jadi, ibu paham betul apa kesukaan dari beliau. Kadang ibu beli sendiri ke pasar untuk membeli apa yang diinginkan Bung Karno,” sebut sulung dari tujuh bersaudara ini. 

Kedekatan Soekarno dengan Sugianitri tak sebatas antara ajudan dengan presiden semata. Yang menarik lagi adalah nama Fajar Rohita itu. Siapa sangka, nama Fajar Rohita adalah pemberian dari Bung Karno sendiri. Ceritanya cukup unik, di tahun 1968 ketika Fajar Rohita lahir, awalnya memiliki nama Andri.

Nitri-panggilan akrab dari  Soekarno untuk Sugianitri- saat itu telah melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian dilaporkan kepada Soekarno dengan nama Andri. 

Entah kenapa, Soekarno kemudian memiliki ide dan menulis dalam secarik kertas bertuliskan nama Fajar Rohita. Kemudian, tulisan tersebut dititipkan kepada Megawati Soekarno Putri yang mana kertas itu diselipkan di kaos kaki ibu Mega pada saat itu. Kertas itulah yang kemudian diteruskan kepada Sugianitri agar sang anak diganti namanya menjadi Fajar Rohita. 

“Ibu saya yang cerita. Karena waktu itu, Bapak Soekarno tidak diperbolehkan sama sekali menerima tamu dan juga pergerakan beliau sangat dibatasi. Kurang lebih nama saya memiliki arti, Fajar yang berwarna merah. Tulisan tangan itu sempat dibawa ibu saya sampai sekarang, tapi tidak ketemu karena sudah lama dan ibu lupa menaruhnya dimana,” terangnya. 

Ia juga mengaku, namanya sering dijadikan bahan candaan oleh teman-temannya ketika masih remaja, kenapa namanya (Rohita) seperti anak perempuan. “Tapi dibalik itu semua, saya bangga dengan nama itu karena yang memberikan nama langsung adalah Bapak Soekarno,” tegasnya.

Berita berpulangnya Sugianitri ini, kata Fajar Rohita sempat membuat kaget keluarga Bung Karno. Bahkan, ia sempat dihubungi oleh Guntur Soekarno Putra. “Om Guntur sempat telepon saya dan sangat kaget ketika tahu ibu sudah meninggal. Beliau juga sudah mengucapkan belasungkawa, namun tidak bisa hadir,” sebutnya, sambil menunjuk karangan bunga bertuliskan Ucapan Belasungkawa dari Keluarga Guntur Soekarno dan Keluarga Bung Karno. 


Most Read

Artikel Terbaru

/