alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Pariwisata Bali Butuh Waktu Hingga Dua Tahun Untuk Pulih

DENPASAR, BALI EXPRESS – Berdasarkan skema pemulihan pariwisata, Bali, setidaknya masih membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun kedepan. Hal ini pun dilihat jika ingin menyamakan kondisi pariwisata Bali dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Demikian yang disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardana Sukawati beberapa waktu lalu di Kuta, Badung.

 

Menurut pria yang akrab disapa Cok Ace ini, jika melihat jumlah kunjungan wisatawan saat ini dan jumlah kamar yang ada di Bali, angka 25 persen okupansi kamar hotel di Bali masih ketinggian. “Terkait data jumlah kamar di Bali memang kita belum lengkap. Tapi jika melihat jumlah kamar yang sudah pernah didata oleh Badung bersama STP beberapa tahun lalu, mencatat sekitar 98 ribu kamar hotel di Badung saja. Saya memiliki gambaran ada 130 ribu hingga 140 ribu kamar hotel di Bali,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali ini.

 

Cok Ace menambahkan, dari jumlah tersebut jika dibandingkan jumlah kunjungan wisatawan saat ini, yang mencapai sekitar 2 ribu wisatawan mancanegara (wisman) dan 7 ribu wisatawan domestik (wisdom), dan dihitung pemakaian jumlah kamar untuk couple (berpasangan), maka angka okupansi masih di bawah 25 persen. “Kalau kita bicara kawasan mungkin iya (okupansi 25 persen). Ditambah lagi jika ada event, bisa sampai 80 persen. Tapi kan itu tidak lama, paling 1 sampai 2 hari aja,” jelasnya.

 

Sementara untuk mengisi 140 ribu kamar hotel di Bali saat ini, Cok Ace menyampaikan, seperti mengisi air satu ember besar dengan satu sendok teh. Yang mana, hal tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama.

 

Maka dari itu, menurutnya, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak mulai dari pemerintah, industri termasuk masyarakat ikut dalam pemulihan pariwisata. Masyarakat dalam hal ini agar ikut serta menjaga situasi agar tetap kondusif terutama dalam menekan penularan kasus Covid-19. “Kemudian dari pelaku industri pariwisata agar melakukan persaingan secara sehat, tidak sampai banting-banting harga serta menjaga kepercayaan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. Serta dari pihak pemerintah menjaga destinasi wisata secara keseluruhan,” tutupnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Berdasarkan skema pemulihan pariwisata, Bali, setidaknya masih membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun kedepan. Hal ini pun dilihat jika ingin menyamakan kondisi pariwisata Bali dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Demikian yang disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardana Sukawati beberapa waktu lalu di Kuta, Badung.

 

Menurut pria yang akrab disapa Cok Ace ini, jika melihat jumlah kunjungan wisatawan saat ini dan jumlah kamar yang ada di Bali, angka 25 persen okupansi kamar hotel di Bali masih ketinggian. “Terkait data jumlah kamar di Bali memang kita belum lengkap. Tapi jika melihat jumlah kamar yang sudah pernah didata oleh Badung bersama STP beberapa tahun lalu, mencatat sekitar 98 ribu kamar hotel di Badung saja. Saya memiliki gambaran ada 130 ribu hingga 140 ribu kamar hotel di Bali,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali ini.

 

Cok Ace menambahkan, dari jumlah tersebut jika dibandingkan jumlah kunjungan wisatawan saat ini, yang mencapai sekitar 2 ribu wisatawan mancanegara (wisman) dan 7 ribu wisatawan domestik (wisdom), dan dihitung pemakaian jumlah kamar untuk couple (berpasangan), maka angka okupansi masih di bawah 25 persen. “Kalau kita bicara kawasan mungkin iya (okupansi 25 persen). Ditambah lagi jika ada event, bisa sampai 80 persen. Tapi kan itu tidak lama, paling 1 sampai 2 hari aja,” jelasnya.

 

Sementara untuk mengisi 140 ribu kamar hotel di Bali saat ini, Cok Ace menyampaikan, seperti mengisi air satu ember besar dengan satu sendok teh. Yang mana, hal tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama.

 

Maka dari itu, menurutnya, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak mulai dari pemerintah, industri termasuk masyarakat ikut dalam pemulihan pariwisata. Masyarakat dalam hal ini agar ikut serta menjaga situasi agar tetap kondusif terutama dalam menekan penularan kasus Covid-19. “Kemudian dari pelaku industri pariwisata agar melakukan persaingan secara sehat, tidak sampai banting-banting harga serta menjaga kepercayaan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. Serta dari pihak pemerintah menjaga destinasi wisata secara keseluruhan,” tutupnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru