alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Biaya Isolasi di Hotel Tinggi, Bangli Siapkan SKB dan Jajaki RSJ

BANGLI, BALI EXPRESS- Pemkab Bangli menyiapkan tempat isolasi terpusat bagi masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan. Biar lebih irit, pemerintah setempat memanfaatkan bangunan Sanggar Kegiatan Belajar di Banjar Kayuambua, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli. Selain itu juga menjajaki tempat diklat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten I Ketut Gde Wiredana mengungkapkan, isolasi terpusat kali ini, pemerintah sengaja tidak mencari hotel seperti sebelumnya. Hal itu dilakukan untuk mengirit biaya. Selain itu karena susah mencari hotel di Bangli. Lagipula SKB juga termasuk layak untuk isolasi. “Kalau hotel biaya tinggi,” ujar Wiredana, Minggu (18/7).

Wiredana menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan 50 bed ditambah 8 bed cadangan, termasuk sarana penunjang protokol kesehatan (prokes) juga sudah siap. Tinggal ditempati saja. Hanya saja, pihaknya belum berani memastikan sejak kapan masyarakat yang terkonfirmasi positif mulai menjalani isolasi di sana. BPBD sebatas bertugas menyiapkan tempat dan pendukungnya. “Kalau kapan ditempati, Dinas Kesehatan lebih tahu siapa yang harus dibawa ke sana,” ujar Wiredana.

Selain menyediakan SKB, BPBD juga menjajaki gedung diklat di RSJ Bangli untuk tempat isolasi. Hal itu sebagai antisipasi kasus melonjak dan tidak semua bisa ditampung di SKB. Namun untuk memanfaatkan gedung tersebut, harus koordinasi dengan Pemprov Bali.  Apabila disetujui, pemerintah daerah tidak perlu persiapan banyak karena fasilitas sudah lengkap, tinggal membuat sekat agar tidak berbaur dengan aktivitas RSJ. “Bisa menampung lebih dari 100,” tegasnya.

Sementara disinggung terkait konsumsi masyarakat yang menjalani isolasi di tempat terpusat, pejabat asal Desa Tamanbali, Bangli ini menegaskan bahwa masih dibahas. Apakah dibuatkan di tempat isolasi atau beli di tempat lain. Yang jelas, makan masyarakat umum dibiayai pemerintah.  Sedangkan ASN ditanggung sendiri. Perlakuan berbeda kepada  ASN ini, menurut Wiredana sesuai dengan aturan gubernur.  

DIkonfirmasi terpisah, Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bangli I Wayan Dirgayusa membenarkan bahwa Pemkab Bangli telah menyiapkan SKB untuk isolasi terpusat. Namun untuk teknis siapa saja yang diisolasi di sana masih dibahas.

Rencana awal ada dua pola isolasi. Yaitu isolasi terpusat di SKB dan di desa masing-masing. Isolasi di desa ini untuk  masyarakat yang satu keluarga terpapar Covid-19. Mereka tidak perlu diisolasi di SKB. Cukup di rumahnya saja atau isolasi pekarangan. Aktivitas mereka diawasi oleh satgas di desa dan petugas kesehatan yang ditunjuk Dinas Kesehatan.  “Kalau dalam satu keluarga ada positif satu orang begitu, isolasi di SKB,” jelas  Dirgayusa.


BANGLI, BALI EXPRESS- Pemkab Bangli menyiapkan tempat isolasi terpusat bagi masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan. Biar lebih irit, pemerintah setempat memanfaatkan bangunan Sanggar Kegiatan Belajar di Banjar Kayuambua, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli. Selain itu juga menjajaki tempat diklat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten I Ketut Gde Wiredana mengungkapkan, isolasi terpusat kali ini, pemerintah sengaja tidak mencari hotel seperti sebelumnya. Hal itu dilakukan untuk mengirit biaya. Selain itu karena susah mencari hotel di Bangli. Lagipula SKB juga termasuk layak untuk isolasi. “Kalau hotel biaya tinggi,” ujar Wiredana, Minggu (18/7).

Wiredana menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan 50 bed ditambah 8 bed cadangan, termasuk sarana penunjang protokol kesehatan (prokes) juga sudah siap. Tinggal ditempati saja. Hanya saja, pihaknya belum berani memastikan sejak kapan masyarakat yang terkonfirmasi positif mulai menjalani isolasi di sana. BPBD sebatas bertugas menyiapkan tempat dan pendukungnya. “Kalau kapan ditempati, Dinas Kesehatan lebih tahu siapa yang harus dibawa ke sana,” ujar Wiredana.

Selain menyediakan SKB, BPBD juga menjajaki gedung diklat di RSJ Bangli untuk tempat isolasi. Hal itu sebagai antisipasi kasus melonjak dan tidak semua bisa ditampung di SKB. Namun untuk memanfaatkan gedung tersebut, harus koordinasi dengan Pemprov Bali.  Apabila disetujui, pemerintah daerah tidak perlu persiapan banyak karena fasilitas sudah lengkap, tinggal membuat sekat agar tidak berbaur dengan aktivitas RSJ. “Bisa menampung lebih dari 100,” tegasnya.

Sementara disinggung terkait konsumsi masyarakat yang menjalani isolasi di tempat terpusat, pejabat asal Desa Tamanbali, Bangli ini menegaskan bahwa masih dibahas. Apakah dibuatkan di tempat isolasi atau beli di tempat lain. Yang jelas, makan masyarakat umum dibiayai pemerintah.  Sedangkan ASN ditanggung sendiri. Perlakuan berbeda kepada  ASN ini, menurut Wiredana sesuai dengan aturan gubernur.  

DIkonfirmasi terpisah, Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bangli I Wayan Dirgayusa membenarkan bahwa Pemkab Bangli telah menyiapkan SKB untuk isolasi terpusat. Namun untuk teknis siapa saja yang diisolasi di sana masih dibahas.

Rencana awal ada dua pola isolasi. Yaitu isolasi terpusat di SKB dan di desa masing-masing. Isolasi di desa ini untuk  masyarakat yang satu keluarga terpapar Covid-19. Mereka tidak perlu diisolasi di SKB. Cukup di rumahnya saja atau isolasi pekarangan. Aktivitas mereka diawasi oleh satgas di desa dan petugas kesehatan yang ditunjuk Dinas Kesehatan.  “Kalau dalam satu keluarga ada positif satu orang begitu, isolasi di SKB,” jelas  Dirgayusa.


Most Read

Artikel Terbaru

/