alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Bumil, Bayi, Lansia, Hingga ODGJ Masuk Pengecualian Isoter

TABANAN, BALI EXPRESS – Kewajiban isolasi terpusat (isoter) resmi diberlakukan di Kabupaten Tabanan sejak Sabtu (14/8) lalu. Bahkan untuk memastikan kebijakan ini berjalan lancar, pemerintah daerah setempat membentuk Satuan Tugas Penjemputan yang dibawah koordinasi Kodim 1619/Tabanan dan Polres Tabanan.

 

Kebijakan isoter ini diberlakukan untuk menekan potensi terjadinya transmisi atau penularan lokal. Sehingga isolasi mandiri (isoman) yang tadinya diperkenankan kini ditiadakan. Sehingga seluruh warga Tabanan yang menjadi penyintas Covid-19, baik tidak bergejala maupun bergejala ringan, wajib menjalani isoter.

 

Meski demikian, kebijakan ini memberikan pengecualian terhadap beberapa penyintas tertentu. Di antaranya, ibu hamil atau bumil, anak-anak atau bayi, orang lanjut usia yang terbatas mobilitasnya, orang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas, serta orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ.

 

“Terhadap orang-orang dengan berkebutuhan khusus seperti itu tentu ada pengecualian. Tidak diwajibkan sepenuhnya mengikuti isolasi terpusat. Kecuali kalau mau, ya tidak masalah,” jelas Sekretaris Daerah atau Sekda Kabupaten Tabanan I Gede Susila, Rabu (18/8).

 

Terhadap penyintas dengan kebutuhan khusus ini, sambungnya, masih diperkenankan melakukan isoman. Itupun dengan sejumlah catatan dan penilaian dari Satgas di tingkat desa.

 

“Catatannya, isolasi mereka diawasi Satgas Gotong Royong. Dipastikan tidak terjadi kontak dengan lainnya. Tempat isolasinya aman, tidak memungkinkan terjadinya kontak dengan orang lain. Ini satgas di desa yang menentukan,” imbuhnya.

 

Masih terkait penerapan isoter untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, pihaknya berupaya memfasilitasi tempat atau lokasinya. Dari empat tempat yang semula disiapkan, tiga tempat telah diputuskan untuk dipakai sebagai isoter.

 

“Kami siapkan Poltrada (Politeknik Transportasi Darat), Pop Hotel, dan Wisma Pramuka (Mes Diklat Kwarda Pramuka Bali). Untuk Wisma PLN di Bedugul tidak bisa digunakan karena faktor temperatur daerah yang dingin,” pungkasnya.

 

Sejak diterapkan akhir pekan lalu, kebijakan yang mewajibkan isoter di Tabanan terus disempurnakan. Termasuk pengecualian bagi sejumlah penyintas yang berkebutuhan khusus. Dan ini dibahas dalam rapat evaluasi yang dilaksanakan Pemkab Tabanan bersama unsur TNI/Polri setempat.

 

Pasalnya beberapa penyintas dalam kondisi tertentu kesulitan mengikuti isoter. Seperti ibu hamil maupun lansia yang mobilitasnya terbatas. Sehingga bila dipaksanakan wajib melakukan isoter justru akan menjadi persoalan baru.

 

Bahkan salah seorang penyintas di Kecamatan Pupuan ada yang berstatus ODGJ. Saat ini, penyintas itu tidak menjalani isoter. Melainkan perawatan khusus di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli. Seperti dibenarkan Camat Pupuan, I Putu Hendra Manik.

 

“Sempat ada. Satu orang. Tapi sudah dikirim ke (RSJ) Bangli. Tidak isolasi terpusat. Tidak isolasi mandiri juga. Memang tadi (kemarin) dalam rapat evaluasi dan koordinasi, ada pengecualian dalam tatanan kesehatan. Khususnya bagi yang berisiko. Seperti ibu hamil, bayi, anak-anak, lansia yang mobilitasnya sulit, dan yang berkebutuhan khusus,” pungkas Hendra.


TABANAN, BALI EXPRESS – Kewajiban isolasi terpusat (isoter) resmi diberlakukan di Kabupaten Tabanan sejak Sabtu (14/8) lalu. Bahkan untuk memastikan kebijakan ini berjalan lancar, pemerintah daerah setempat membentuk Satuan Tugas Penjemputan yang dibawah koordinasi Kodim 1619/Tabanan dan Polres Tabanan.

 

Kebijakan isoter ini diberlakukan untuk menekan potensi terjadinya transmisi atau penularan lokal. Sehingga isolasi mandiri (isoman) yang tadinya diperkenankan kini ditiadakan. Sehingga seluruh warga Tabanan yang menjadi penyintas Covid-19, baik tidak bergejala maupun bergejala ringan, wajib menjalani isoter.

 

Meski demikian, kebijakan ini memberikan pengecualian terhadap beberapa penyintas tertentu. Di antaranya, ibu hamil atau bumil, anak-anak atau bayi, orang lanjut usia yang terbatas mobilitasnya, orang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas, serta orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ.

 

“Terhadap orang-orang dengan berkebutuhan khusus seperti itu tentu ada pengecualian. Tidak diwajibkan sepenuhnya mengikuti isolasi terpusat. Kecuali kalau mau, ya tidak masalah,” jelas Sekretaris Daerah atau Sekda Kabupaten Tabanan I Gede Susila, Rabu (18/8).

 

Terhadap penyintas dengan kebutuhan khusus ini, sambungnya, masih diperkenankan melakukan isoman. Itupun dengan sejumlah catatan dan penilaian dari Satgas di tingkat desa.

 

“Catatannya, isolasi mereka diawasi Satgas Gotong Royong. Dipastikan tidak terjadi kontak dengan lainnya. Tempat isolasinya aman, tidak memungkinkan terjadinya kontak dengan orang lain. Ini satgas di desa yang menentukan,” imbuhnya.

 

Masih terkait penerapan isoter untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, pihaknya berupaya memfasilitasi tempat atau lokasinya. Dari empat tempat yang semula disiapkan, tiga tempat telah diputuskan untuk dipakai sebagai isoter.

 

“Kami siapkan Poltrada (Politeknik Transportasi Darat), Pop Hotel, dan Wisma Pramuka (Mes Diklat Kwarda Pramuka Bali). Untuk Wisma PLN di Bedugul tidak bisa digunakan karena faktor temperatur daerah yang dingin,” pungkasnya.

 

Sejak diterapkan akhir pekan lalu, kebijakan yang mewajibkan isoter di Tabanan terus disempurnakan. Termasuk pengecualian bagi sejumlah penyintas yang berkebutuhan khusus. Dan ini dibahas dalam rapat evaluasi yang dilaksanakan Pemkab Tabanan bersama unsur TNI/Polri setempat.

 

Pasalnya beberapa penyintas dalam kondisi tertentu kesulitan mengikuti isoter. Seperti ibu hamil maupun lansia yang mobilitasnya terbatas. Sehingga bila dipaksanakan wajib melakukan isoter justru akan menjadi persoalan baru.

 

Bahkan salah seorang penyintas di Kecamatan Pupuan ada yang berstatus ODGJ. Saat ini, penyintas itu tidak menjalani isoter. Melainkan perawatan khusus di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli. Seperti dibenarkan Camat Pupuan, I Putu Hendra Manik.

 

“Sempat ada. Satu orang. Tapi sudah dikirim ke (RSJ) Bangli. Tidak isolasi terpusat. Tidak isolasi mandiri juga. Memang tadi (kemarin) dalam rapat evaluasi dan koordinasi, ada pengecualian dalam tatanan kesehatan. Khususnya bagi yang berisiko. Seperti ibu hamil, bayi, anak-anak, lansia yang mobilitasnya sulit, dan yang berkebutuhan khusus,” pungkas Hendra.


Most Read

Artikel Terbaru

/