alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Senin Mendatang Sistem Kerja Perkantoran Buleleng Dibatasi

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sistem kerja pegawai di lingkup pemerintahan dan swasta di Buleleng akan dibatasi hanya 25 persen dari jumlah pegawai di setiap kantor.

Penerapan ini sebagai tindak lanjut dari terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 487 tentang Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, yang mulai diberlakukan di Buleleng, Senin (21/9) mendatang.

Sekda Buleleng yang juga sekaligus Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa menjelaskan, berdasarkan SE Gubernur tersebut kemudian diterbitkan menjadi SE Bupati.

Dalam SE Bupati, akan diinstruksikan pegawai yang bekerja di kantor masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan swasta hanya 25 persen dari jumlah pegawai yang ada secara bergantian. Sementara, sisanya bekerja dari rumah, sehingga penyebaran Covid-19 di Buleleng bisa ditekan.

“Jadwalnya akan diatur oleh masing-masing kepala OPD. Yang kerja di kantor tentu harus menerapkan protokol kesehatan. Suhu tubuhnya harus dicek. Kalau sedang sakit dan gejalanya mengarah ke Covid-19, diinstruksikan untuk bekerja dari rumah. Sebenarnya sudah kami terapkan sejak dulu. Hanya lebih dipertegas lagi lewat SE,” terang Suyasa, Jumat (18/9) siang.

Proses pembelajaran untuk siswa juga akan terus dilakukan secara daring hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tak terkecuali kegiatan senam yang dilakukan di lingkup Pemkab Buleleng setiap Selasa dan Jumat, terpaksa dihentikan.

Nantinya akan dievaluasi oleh pihaknya 10 hari ke depan, sejak diberlakukan. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah peraturan membatasi pegawai yang bekerja di kantor itu efektif atau tidak. Sebab dikhawatirkan, setelah APBD Perubahan 2020 disahkan, beberapa pekerjaan yang sudah dianggarkan tidak bisa berjalan dengan optimal.

“Peraturan ini akan kami evaluasi pada 1 Oktober nanti. Apakah akan menambah jumlah pegawai yang bisa bekerja di kantor jadi 50 persen misalnya, atau tidak ada pembatasan sama sekali. Evaluasi ini kami lakukan dengan melihat fluktuasi perkembangan kasus Covid-19 setiap harinya,” terang Suyasa.

Selain itu, Suyasa juga menyebut pihaknya berencana akan melakukan pengadaan masker sebanyak 33 persen dari jumlah penduduk produktif, atau sebanyak 135 ribu buah. Anggaran untuk pengadaan masker ini akan diambil dari Belanja Tak Terduga (BTT). 

Pengadaan masker ini untuk mendukung penerapan Pergup 46 dan Perbup 41 Tahun 2021. Jadi, selain dikenakan sanksi denda, pelanggar juga bisa diberikan masker. Saat ini masker yang dibagikan baru dari bantuan CSR.

Di sisi lain, kasus konfirmasi positif Covid-19 di Buleleng, Jumat (18/9) bertambah lima orang. Selain itu, juga terdapat penambahan dua kasus kematian, dan 17 orang yang telah dinyatakan sembuh.

Penambahan lima kasus konfirmasi positif Covid-19, masing-masing berasal dari Kecamatan Seririt  satu orang. Dari Kecamatan Sukasada dua orang. Serta dari Kecamatan Buleleng sebanyak dua orang. Sehingga jumlah kumulatif kasus konfirmasi di Buleleng sejak Maret hingga saat ini, sudah mencapai 736 orang. Namun dari 736 orang itu, yang telah dinyatakan sembuh 650 orang.

Sementara yang masih dirawat tersisa lagi 62 orang. Mereka sedang dirawat itu, tersebar di beberapa rumah sakit. Dengan rincian 12 orang dirawat di RSUD Buleleng. Satu orang dirawat di RS Bali Med Buleleng. Satu orang di RS Karya Dharma Usada. 11 orang di RS Kertha Usada. Dua orang di RS Shanti Graha Seririt. Satu orang di RSJ Bangli. Dan, 34 sisanya cukup menjalani isolasi mandiri di rumah, karena gejala yang dialami tergolong ringan.

Suyasa tak menampik terjadi penambahan dua kasus kematian Covid-19. Kedua pasien masing-masing berasal dari Kecamatan Buleleng dan Gerokgak. Pasien meninggal dunia asal Kecamatan Buleleng  berjenis kelamin perempuan, dan berusia 51 tahun.

Almarhum mulanya dirujuk dari RS Kertha Usada Singaraja ke RSUD Buleleng, Sabtu (22/8) lalu, dengan keluhan sesak napas, demam, dan batuk. Selama dirawat di RSUD Buleleng, pasien juga mengeluh mual, sehingga sulit untuk makan. Baru tiga hari dirawat di RSUD, pasien malang tersebut pun meninggal dunia, tepatnya pada Selasa (25/8).

Sedangkan terhadap pasien meninggal dunia asal Kecamatan Gerokgak, berjenis kelamin perempuan, berusia 67 tahun. Almarhum mulanya datang ke RSUD Buleleng, Sabtu (22/8) dengan keluhan demam, napas berat, batuk kering, badan linu, nyeri punggung belakang, mual, dan nafsu makan menurun. Pasien kemudian meninggal dunia pada Minggu (30/9). 

Dengan adanya penambahan ini, jumlah kasus kematian Covid-19 di Buleleng secara kumulatif sudah mencapai 24 orang. “Kasus kematian ini sama seperti kasus yang sebelumnya. Datanya baru kami rilis, karena pihak medis harus berkoordinasi dulu ke provinsi. Yang jelas kedua pasien yang meninggal dunia ini hasil swab testnya positif Covid-19,” pungkas Suyasa. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sistem kerja pegawai di lingkup pemerintahan dan swasta di Buleleng akan dibatasi hanya 25 persen dari jumlah pegawai di setiap kantor.

Penerapan ini sebagai tindak lanjut dari terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 487 tentang Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, yang mulai diberlakukan di Buleleng, Senin (21/9) mendatang.

Sekda Buleleng yang juga sekaligus Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa menjelaskan, berdasarkan SE Gubernur tersebut kemudian diterbitkan menjadi SE Bupati.

Dalam SE Bupati, akan diinstruksikan pegawai yang bekerja di kantor masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan swasta hanya 25 persen dari jumlah pegawai yang ada secara bergantian. Sementara, sisanya bekerja dari rumah, sehingga penyebaran Covid-19 di Buleleng bisa ditekan.

“Jadwalnya akan diatur oleh masing-masing kepala OPD. Yang kerja di kantor tentu harus menerapkan protokol kesehatan. Suhu tubuhnya harus dicek. Kalau sedang sakit dan gejalanya mengarah ke Covid-19, diinstruksikan untuk bekerja dari rumah. Sebenarnya sudah kami terapkan sejak dulu. Hanya lebih dipertegas lagi lewat SE,” terang Suyasa, Jumat (18/9) siang.

Proses pembelajaran untuk siswa juga akan terus dilakukan secara daring hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tak terkecuali kegiatan senam yang dilakukan di lingkup Pemkab Buleleng setiap Selasa dan Jumat, terpaksa dihentikan.

Nantinya akan dievaluasi oleh pihaknya 10 hari ke depan, sejak diberlakukan. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah peraturan membatasi pegawai yang bekerja di kantor itu efektif atau tidak. Sebab dikhawatirkan, setelah APBD Perubahan 2020 disahkan, beberapa pekerjaan yang sudah dianggarkan tidak bisa berjalan dengan optimal.

“Peraturan ini akan kami evaluasi pada 1 Oktober nanti. Apakah akan menambah jumlah pegawai yang bisa bekerja di kantor jadi 50 persen misalnya, atau tidak ada pembatasan sama sekali. Evaluasi ini kami lakukan dengan melihat fluktuasi perkembangan kasus Covid-19 setiap harinya,” terang Suyasa.

Selain itu, Suyasa juga menyebut pihaknya berencana akan melakukan pengadaan masker sebanyak 33 persen dari jumlah penduduk produktif, atau sebanyak 135 ribu buah. Anggaran untuk pengadaan masker ini akan diambil dari Belanja Tak Terduga (BTT). 

Pengadaan masker ini untuk mendukung penerapan Pergup 46 dan Perbup 41 Tahun 2021. Jadi, selain dikenakan sanksi denda, pelanggar juga bisa diberikan masker. Saat ini masker yang dibagikan baru dari bantuan CSR.

Di sisi lain, kasus konfirmasi positif Covid-19 di Buleleng, Jumat (18/9) bertambah lima orang. Selain itu, juga terdapat penambahan dua kasus kematian, dan 17 orang yang telah dinyatakan sembuh.

Penambahan lima kasus konfirmasi positif Covid-19, masing-masing berasal dari Kecamatan Seririt  satu orang. Dari Kecamatan Sukasada dua orang. Serta dari Kecamatan Buleleng sebanyak dua orang. Sehingga jumlah kumulatif kasus konfirmasi di Buleleng sejak Maret hingga saat ini, sudah mencapai 736 orang. Namun dari 736 orang itu, yang telah dinyatakan sembuh 650 orang.

Sementara yang masih dirawat tersisa lagi 62 orang. Mereka sedang dirawat itu, tersebar di beberapa rumah sakit. Dengan rincian 12 orang dirawat di RSUD Buleleng. Satu orang dirawat di RS Bali Med Buleleng. Satu orang di RS Karya Dharma Usada. 11 orang di RS Kertha Usada. Dua orang di RS Shanti Graha Seririt. Satu orang di RSJ Bangli. Dan, 34 sisanya cukup menjalani isolasi mandiri di rumah, karena gejala yang dialami tergolong ringan.

Suyasa tak menampik terjadi penambahan dua kasus kematian Covid-19. Kedua pasien masing-masing berasal dari Kecamatan Buleleng dan Gerokgak. Pasien meninggal dunia asal Kecamatan Buleleng  berjenis kelamin perempuan, dan berusia 51 tahun.

Almarhum mulanya dirujuk dari RS Kertha Usada Singaraja ke RSUD Buleleng, Sabtu (22/8) lalu, dengan keluhan sesak napas, demam, dan batuk. Selama dirawat di RSUD Buleleng, pasien juga mengeluh mual, sehingga sulit untuk makan. Baru tiga hari dirawat di RSUD, pasien malang tersebut pun meninggal dunia, tepatnya pada Selasa (25/8).

Sedangkan terhadap pasien meninggal dunia asal Kecamatan Gerokgak, berjenis kelamin perempuan, berusia 67 tahun. Almarhum mulanya datang ke RSUD Buleleng, Sabtu (22/8) dengan keluhan demam, napas berat, batuk kering, badan linu, nyeri punggung belakang, mual, dan nafsu makan menurun. Pasien kemudian meninggal dunia pada Minggu (30/9). 

Dengan adanya penambahan ini, jumlah kasus kematian Covid-19 di Buleleng secara kumulatif sudah mencapai 24 orang. “Kasus kematian ini sama seperti kasus yang sebelumnya. Datanya baru kami rilis, karena pihak medis harus berkoordinasi dulu ke provinsi. Yang jelas kedua pasien yang meninggal dunia ini hasil swab testnya positif Covid-19,” pungkas Suyasa. 


Most Read

Artikel Terbaru

/