Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Bali
icon featured
Bali

Puja Tertimpa Beton saat Mau Menyelamatkan Anaknya

18 Oktober 2021, 06: 10: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Puja Tertimpa Beton saat Mau Menyelamatkan Anaknya

RATAPI PUING: Nyoman Puja meratapi puing-puing rumahnya yang terdampak gempa, Sabtu (16/10) lalu. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Rumah berdinding batako yang ditempati Nyoman Puja sejak 2013 itu sudah tiga kali terdampak gempa. Gempa berkekuatan magnitudo 4,8 kali ini yang terparah sekaligus menyisakan luka baginya. Putri keempatnya, Luh Meriani meninggal dalam peristiwa itu.

Sehari sebelum peristiwa kelam itu, Nyoman Puja, Ni Nengah Nusa, dan lima putra-putrinya kumpul bersama sebelum akhirnya tidur. Pagi itu, Sabtu (16/10), saat suasana desa masih gelap, guncangan keras terjadi sekira 5 detik.

Puja dan istrinya, Ni Nengah Nusa, seketika terbangun dari tidur. Saat itu jam menunjukkan pukul 04.20. Mereka baru sadar bahwa sedang terjadi gempa. Mereka panik lalu bergegas keluar. Kondisinya selamat meski sempat tertindih material bangunan yang ambruk.

Baca juga: Klungkung Bantu 2,5 Ton Beras untuk Korban Gempa di Karangasem

Namun tidak dengan Luh Meriani. Anak berusia 3 tahun itu meninggal akibat tertindih material bangunan. Puja menangis melihat tubuh anaknya tidak berdaya disertai luka-luka. Puja meminta bantuan tetangga, Nengah Darpa untuk mengantarnya mengevakuasi anak tersebut ke tempat aman. “Waktu itu saya sudah tidak bisa berpikir,” tutur Puja ditemui di kediamannya Dusun Jatituhu, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Minggu (17/10) pagi.

Puja mengakui, guncangan gempa kali ini berbeda dari biasanya dia pernah rasakan. Getarannya terasa dari bawah dan langsung mengakibatkan bangunan rumahnya ambruk dalam waktu sekejap. Ada tujuh orang dalam rumah itu. Enam orang selamat, satu anak meninggal. Puja berada dalam satu kamar bersama istri dan dua anaknya. Yakni Luh Meriani dan putri kelimanya, Naila Sari.

Sedangkan ketiga anaknya yang lain, yakni Ni Kadek Tina Sarini, Nyoman Karni Ningsih, dan Ketut Putu Permana Andika tidur di kamar berbeda. Bersebelahan dengan kamar orang tuanya. “Mereka sempat teriak. Katanya tidak bisa keluar. Saya sudah bingung harus selamatkan semua. Syukur istri sama anak paling kecil bisa selamat,” ucapnya lirih.

Saat Puja berhasil membuka pintu kamar tiga putra-putrinya, salah satu anaknya yang baru berusia 3 tahun, justru jadi korban. Luh Meriani meregang nyawa setelah tertindih material dinding. Dinding rumahnya ambruk satu persatu. Nyoman Puja juga sempat tertimpa beton saat sedang berusaha menyelamatkan Meriani. “Saya sulit. Berat sekali,” katanya.

Pasca kejadian itu, Puja dan istrinya tak berani tidur dekat bangunan rumahnya yang hancur. Dia mengaku trauma mengingat kisah kelam itu. Namun Puja mengaku ikhlas kehilangan putri keempatnya itu. “Namanya musibah. Saya tidak ada perasaan apa-apa sebelumnya. Biasa saja. Tapi kejadiannya malah begini,” ungkapnya berkeluh.

Kata Puja, gempa kali ini adalah kali ketiga bencana yang akibatkan rumahnya rusak. Pada saat erupsi Gunung Agung, 2017 lalu, guncangan gempa vulkanik sempat beberapa kali dirasakan sampai ke rumahnya. Saat itu masih kecil. Hanya mengakibatkan beberapa bagian atap rumahnya rusak.

Kemudian pada saat gempa melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 2018 lalu, sebagian tembok rumahnya ambruk. Beruntung tak ada korban jiwa. Berkat bantuan para tetangga dan kerabat, dinding yang rusak itu bisa diperbaiki.

Puja mengakui gempa kali ini yang paling keras dampaknya bagi dia dan keluarga. “Sampai kehilangan anak, rumah hancur total. Kalau ada yang bantu supaya kami bisa hidup normal, saya senang,” harapnya.

(bx/aka/man/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia