alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Ikon Desa Adat Bedha Kebo Iwa Setinggi 21,45 Meter

TABANAN, BALI EXPRESS -Patih asal Bali yang dikenal kuat sekaligus undagi terkenal, Kebo Iwa, memiliki jejak sejarah di Desa Adat Bedha, khususnya di Pura Puseh Luhur Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan. 

Untuk mengingat perjalanan sejarah Patih Kebo Iwa tersebut, maka dibangunlah patung Kebo Iwa setinggi 21,45 meter yang rencananya akan dipasang tanggal 19 Desember 2020.

Kemasyuran mahapatih sakti pada zaman Kerajaan Bedahulu, Patih Kebo Iwa tak perlu diragukan lagi. Mahapatih yang lahir di Blahbatuh, Gianyar itu, sempat berkelana ke berbagai daerah di Bali dalam masa perjuangannya melindungi Bali. Termasuk memiliki jejak sejarah di Desa Adat Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, khususnya di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Adat Bedha. 

Di areal pura terdapat Bale Agung yang sangat panjang. Dimana Bale Agung tersebut konon dahulunya merupakan tempat tidur dari Patih Kebo Iwa.

Pada zaman dagulu, tempat tidur Patih Kebo Iwa tersebut dipercaya memiliki panjang 500 meter. Yakni mulai dari batas timur Bale Agung yang ada saat ini hingga ke barat melewati Sungai Yeh Empas yang ditandai dengan penemuan bekas pilar. 

“Di areal ini lah nanti rencananya Patung Patih Kebo Iwa berukuran besar ini akan diletakkan,” ujar Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata yang dikonfirmasi Kamis (17/12).

Menurutnya, pembangunan patung Patih Kebo Iwa yang digagas oleh Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Adi Wiryatama bersama Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga itu, dilakukan untuk memperingati napak tilas perjalanan Patih Kebo Iwa dalam berjuang mempertahankan pantai selatan. 

“Supaya generasi muda kita juga tahu tentang sejarah itu, bagaimana perjalanan Patih Kebo Iwa di Bedha, sehingga bisa meneladani nilai-nilai dari yasa kerti atau pengabdian beliau di Tabanan,” tegasnya, sembari mengatakan jika anggaran pembuatan patung tersebut berasal dari APBD Provinsi Bali tahun 2020.

Sementara itu, pembuat patung Patih Kebo Iwa, I Ketut Sudiarta, menuturkan, setelah digagas oleh Nyoman Adi Wiryatama saat Piodalan di Pura Puseh lan Bale Agung Bedha, maka dibuatlah DED. 

Selanjutnya melalui Bendesa Adat, DED itu diajukan ke DPRD Provinsi Bali hingga akhirnya perencanaan itu disetujui. “Hibahnya bukan hibah uang, melainkan hibah barang, maka prosesnya melalui Dinas PU Provinsi dan kita kemudian membentuk panitia,” ungkapnya.

Setelah panitia terbentuk, maka proses tender dilakukan dan dimenangkan oleh PT Taman Bunga Indah. Untuk pelaksanaanya di lapangan dihandle langsung oleh Sudiarta selaku pematung yang sudah dikenal karya-karyanya di Tabanan hingga luar Tabanan. 

“Setelah itu saya siapkan konsep awal yaitu ukuran patung hanya 8 meter dari tanah, ditambah pedestal jadinya hanya 18 meter, kemudian geraknya adalah saat Patih Kebo Iwa memberikan arahan kepada 800 prajuritnya. Namun, ternyata setelah kita minta petunjuk dari Ratu Begawan saat Nyukat (mengukur) ternyata konsepnya berbeda,” paparnya.

Akhirnya ukuran patung menyesuaikan dengan keris warisan yang dibawa oleh Kebo Iwa sepanjang 3,15 meter. Sebab, menurut petunjuk dari Ratu Begawan tersebut, secara logika ukuan keris seorang kesatria adalah sepertiga dari tinggi tokoh. 

“Karena keris panjangnya 3,15 meter, dikalikan 3 sehingga jadinya 9,45 meter. Ditambah pedestal yang awalnga hanya 8 diubah menjadi 12 meter sehingga totalnya 12 ditambah 9,45 menjadi 21,45 meter dari tanah,” beber Sudiarta. 

Namun, pihak Dinas PU sempat menyangsikan penyelesaian patung tersebut karena waktu yang mendesak. Hanya saja Sudiarta yakin jika dirinya bisa menyelesaikan patung tersebut tepat waktu, terlebih dirinya menggunakan metode digital. 

Pertama dibuat miniatur, kemudian setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak sampai dianggap representatif, barulah dilakukan pencetakan fiber. Selanjutnya baru dilakukan pemotongan secara horizontal maupun vertikal. 

Setelah itu baru scan penampang masing-masing, kemudian diskala baru diprint, maka keluarlah ukuran yang kita inginkan, setelah itu baru dirakit.

Menurutnya, dengan metode ini proses pembuatan patung Kebo Iwa ini bisa lebih singkat. Di lapangan saja ia hanya butuh waktu 2 bulan dan perencanaan di studio hampir 1,5 bulan. 

Apabila menggunakan metode yang umumnya dilakukan, maka bisa menghabiskan waktu 6 sampai 7 bulan. Dan, dengan keterbatasan waktu, pihaknya melakukan finishing patung tersebut dengan menggunakan lapisan solid sorfice agar awet, namun tetap artistik.

Sejauh ini, kata dia, memang ada sejumlah kendala yang dihadapi, diantaranya kendala waktu dan tenaga. Total ada 30 orang yang membantunya dalam menyelesaikan patung tersebut. 

Di sisi lain, juga ada kendala cuaca yang ekstrem berupa hujan dan angin kencang. “Tenaganya terbatas, kita cari anak buah yang pernah saya didik dahulu, tapi mereka juga ada pekerjaan, jadi kita menunggu mereka, karena waktunya terbatas akhirnya kita banyak menggunakan tenaga tukang biasa, namun kita berikan arahan dulu,” tukasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, agar seluruh pekerjaan berjalan lancar dan tanpa hambatan, sebelum memulai pengerjaan pihaknya juga sudah mapekeling di Pura Puseh lan Bale Agung Bedha, di Beji, di Pura Dalem Bedha, serta di tiga  Pura Blahbatuh, Gianyar, sebagai tempat kelahiran Kebo Iwa, yakni di Pura Puseh, Pura Dalem, dan Pura Kawitannya. 

Di samping itu setiap Purnama dan Tilem pihaknya juga ngaturang panganyar agar senantiasa diberikan pencerahan, dan setiap prosesnya dilancarkan. Termasuk saat patung Kebo Iwa itu dipasang sekaligus diupacarai pada tanggal 19 Desember 2020.

Dengan dipasangnya patung Patih Kebo Iwa tersebut, dirinya berharap kedepannya dapat menjadi ikon minimal di desa dan menjadi representasi dari karya seorang seniman. 

Selain itu, dirinya berharap masyarakat Tabanan, terutama generasi muda bisa meneladani nilai-nilai yang dimiliki Kebo Iwa, mulai dari semangat, dedikasi dan ketulusan dalam mengabdikan diri melindungi Bali. 

“Kita berharap patung ini bisa menjadi ikon yang mengingatkan kita dengan perjuangan Patih Kebo Iwa yang gagah berani melindungi Bali,” tandasnya. 


TABANAN, BALI EXPRESS -Patih asal Bali yang dikenal kuat sekaligus undagi terkenal, Kebo Iwa, memiliki jejak sejarah di Desa Adat Bedha, khususnya di Pura Puseh Luhur Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan. 

Untuk mengingat perjalanan sejarah Patih Kebo Iwa tersebut, maka dibangunlah patung Kebo Iwa setinggi 21,45 meter yang rencananya akan dipasang tanggal 19 Desember 2020.

Kemasyuran mahapatih sakti pada zaman Kerajaan Bedahulu, Patih Kebo Iwa tak perlu diragukan lagi. Mahapatih yang lahir di Blahbatuh, Gianyar itu, sempat berkelana ke berbagai daerah di Bali dalam masa perjuangannya melindungi Bali. Termasuk memiliki jejak sejarah di Desa Adat Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, khususnya di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Adat Bedha. 

Di areal pura terdapat Bale Agung yang sangat panjang. Dimana Bale Agung tersebut konon dahulunya merupakan tempat tidur dari Patih Kebo Iwa.

Pada zaman dagulu, tempat tidur Patih Kebo Iwa tersebut dipercaya memiliki panjang 500 meter. Yakni mulai dari batas timur Bale Agung yang ada saat ini hingga ke barat melewati Sungai Yeh Empas yang ditandai dengan penemuan bekas pilar. 

“Di areal ini lah nanti rencananya Patung Patih Kebo Iwa berukuran besar ini akan diletakkan,” ujar Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata yang dikonfirmasi Kamis (17/12).

Menurutnya, pembangunan patung Patih Kebo Iwa yang digagas oleh Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Adi Wiryatama bersama Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga itu, dilakukan untuk memperingati napak tilas perjalanan Patih Kebo Iwa dalam berjuang mempertahankan pantai selatan. 

“Supaya generasi muda kita juga tahu tentang sejarah itu, bagaimana perjalanan Patih Kebo Iwa di Bedha, sehingga bisa meneladani nilai-nilai dari yasa kerti atau pengabdian beliau di Tabanan,” tegasnya, sembari mengatakan jika anggaran pembuatan patung tersebut berasal dari APBD Provinsi Bali tahun 2020.

Sementara itu, pembuat patung Patih Kebo Iwa, I Ketut Sudiarta, menuturkan, setelah digagas oleh Nyoman Adi Wiryatama saat Piodalan di Pura Puseh lan Bale Agung Bedha, maka dibuatlah DED. 

Selanjutnya melalui Bendesa Adat, DED itu diajukan ke DPRD Provinsi Bali hingga akhirnya perencanaan itu disetujui. “Hibahnya bukan hibah uang, melainkan hibah barang, maka prosesnya melalui Dinas PU Provinsi dan kita kemudian membentuk panitia,” ungkapnya.

Setelah panitia terbentuk, maka proses tender dilakukan dan dimenangkan oleh PT Taman Bunga Indah. Untuk pelaksanaanya di lapangan dihandle langsung oleh Sudiarta selaku pematung yang sudah dikenal karya-karyanya di Tabanan hingga luar Tabanan. 

“Setelah itu saya siapkan konsep awal yaitu ukuran patung hanya 8 meter dari tanah, ditambah pedestal jadinya hanya 18 meter, kemudian geraknya adalah saat Patih Kebo Iwa memberikan arahan kepada 800 prajuritnya. Namun, ternyata setelah kita minta petunjuk dari Ratu Begawan saat Nyukat (mengukur) ternyata konsepnya berbeda,” paparnya.

Akhirnya ukuran patung menyesuaikan dengan keris warisan yang dibawa oleh Kebo Iwa sepanjang 3,15 meter. Sebab, menurut petunjuk dari Ratu Begawan tersebut, secara logika ukuan keris seorang kesatria adalah sepertiga dari tinggi tokoh. 

“Karena keris panjangnya 3,15 meter, dikalikan 3 sehingga jadinya 9,45 meter. Ditambah pedestal yang awalnga hanya 8 diubah menjadi 12 meter sehingga totalnya 12 ditambah 9,45 menjadi 21,45 meter dari tanah,” beber Sudiarta. 

Namun, pihak Dinas PU sempat menyangsikan penyelesaian patung tersebut karena waktu yang mendesak. Hanya saja Sudiarta yakin jika dirinya bisa menyelesaikan patung tersebut tepat waktu, terlebih dirinya menggunakan metode digital. 

Pertama dibuat miniatur, kemudian setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak sampai dianggap representatif, barulah dilakukan pencetakan fiber. Selanjutnya baru dilakukan pemotongan secara horizontal maupun vertikal. 

Setelah itu baru scan penampang masing-masing, kemudian diskala baru diprint, maka keluarlah ukuran yang kita inginkan, setelah itu baru dirakit.

Menurutnya, dengan metode ini proses pembuatan patung Kebo Iwa ini bisa lebih singkat. Di lapangan saja ia hanya butuh waktu 2 bulan dan perencanaan di studio hampir 1,5 bulan. 

Apabila menggunakan metode yang umumnya dilakukan, maka bisa menghabiskan waktu 6 sampai 7 bulan. Dan, dengan keterbatasan waktu, pihaknya melakukan finishing patung tersebut dengan menggunakan lapisan solid sorfice agar awet, namun tetap artistik.

Sejauh ini, kata dia, memang ada sejumlah kendala yang dihadapi, diantaranya kendala waktu dan tenaga. Total ada 30 orang yang membantunya dalam menyelesaikan patung tersebut. 

Di sisi lain, juga ada kendala cuaca yang ekstrem berupa hujan dan angin kencang. “Tenaganya terbatas, kita cari anak buah yang pernah saya didik dahulu, tapi mereka juga ada pekerjaan, jadi kita menunggu mereka, karena waktunya terbatas akhirnya kita banyak menggunakan tenaga tukang biasa, namun kita berikan arahan dulu,” tukasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, agar seluruh pekerjaan berjalan lancar dan tanpa hambatan, sebelum memulai pengerjaan pihaknya juga sudah mapekeling di Pura Puseh lan Bale Agung Bedha, di Beji, di Pura Dalem Bedha, serta di tiga  Pura Blahbatuh, Gianyar, sebagai tempat kelahiran Kebo Iwa, yakni di Pura Puseh, Pura Dalem, dan Pura Kawitannya. 

Di samping itu setiap Purnama dan Tilem pihaknya juga ngaturang panganyar agar senantiasa diberikan pencerahan, dan setiap prosesnya dilancarkan. Termasuk saat patung Kebo Iwa itu dipasang sekaligus diupacarai pada tanggal 19 Desember 2020.

Dengan dipasangnya patung Patih Kebo Iwa tersebut, dirinya berharap kedepannya dapat menjadi ikon minimal di desa dan menjadi representasi dari karya seorang seniman. 

Selain itu, dirinya berharap masyarakat Tabanan, terutama generasi muda bisa meneladani nilai-nilai yang dimiliki Kebo Iwa, mulai dari semangat, dedikasi dan ketulusan dalam mengabdikan diri melindungi Bali. 

“Kita berharap patung ini bisa menjadi ikon yang mengingatkan kita dengan perjuangan Patih Kebo Iwa yang gagah berani melindungi Bali,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/