alexametrics
28.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Tetap Optimis di Tengah Pandemi, ITS Harus Mampu Berinovasi

SINGARAJA, BALI EXPRESS ­– Pandemi berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata. Hal ini juga berimbas pada sekolah-sekolah pariwisata yang notabene mencetak lulusan untuk siap terjun ke dunia kerja di bidang pariwisata. Hal ini menjadi tantangan berat bagi sekolah pariwisata, di samping persaingan yang semakin ketat. Sehingga sekolah pariwisata pun harus berinovasi dan membuat terobosan baru untuk menyesuaikan adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Indonesia Tourism School (ITS) Komang Rusma Ari Santhi, Rabu (16/12).

Perempuan yang akrab disapa Santhi ini mengakum, pembelajaran tatap muka sangat penting dilakukan untuk melakukan interaksi dalam pelatihan baik antara instruktur dan peserta latihan maupun dengan peserta latihan yang lain. Hanya saja pada masa pandemi saat ini, dibutuhkan strategi dalam menerapkan pelatihan di kelas. Pihaknya mengaku tidak mengurangi jam pelatihan tetapi hanya melakukan pembatasan peserta pelatihan untuk mendapatkan pelatihan yang berkualitas dan mencegah terjadinya klaster penyebaran Covid-19. “Kegiatan pelatihan yang kami lakukan tentu dengan penerapan protokol kesehatan. Dulunya satu kelas bisa mencapai 30 siswa, tetapi sekarang hanya 50 persen dari jumlah normal,” jelasnya.

Dia tidak memungkiri jika mahasiswa lulusannya sebagian besar akan mencari pekerjaan ke hotel, restoran maupun kapal pesiar. Hanya saja pada masa pandemi ini pihaknya harus berinovasi menyesuaikan dengan tatanan kehidupan baru sehingga lulusannya tetap diserap dunia kerja. Salah satu inovasi yang dilakukan  adalah merancang jurusan medical tourism untuk menyiapkan tenaga perawat bagi wisatawan asing yang telah lama tinggal di Indonesia.

“Ketika pandemi banyak WNA yang telah lama di Bali memilih untuk tetap stay di Bali. Namun ketika sakit tidak ada yang merawat karena terkendala komunikasi sehingga inilah yang kami siapkan ke depan,” ujar Santhi.

Pihaknya melihat belum ada SDM yang menunjang peluang tersebut sehingga solusinya dengan menyiapkan tenaga medis untuk pariwisata. Pihaknya terus berupaya melahirkan program-program sebagai alternatif lulusan untuk mencari peluang pekerjaan. Dengan memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum, lulusan diharapkan memiliki karakter yang kuat dan tahan banting dalam berbagai situasi. Seperti saat ini, lulusan jangan hanya terpaku pada sektor pariwisata baik itu perhotelan, restoran maupun kapal pesiar yang sedang terpuruk, tetapi memanfaatkan back up ilmu entreprenuer yang telah diselipkan dalam pembelajaran mata latih. “Apapun situasinya, lulusan sudah harus memiliki skill yang lain yaitu berwirausaha,” tandasnya.

Meski sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, akan tetapi Santhi mengajak mahasiswa yang mengambil jurusan pariwisata untuk tetap optimis. Ada atau tidaknya pandemi ini, mahasiswa tetap harus belajar. “Justru ini saat yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia dan meningkatkan kompetensi untuk dapat bersaing di dunia kerja,” ujar Shanti.

Walau dalam keterbatasan untuk melakukan pembelajaran dan pelatihan, pihak ITS pantang untuk berdiam. Hal itu dilakukan untuk tetap menyiapkan SDM yang nantinya mampu bersaing di dunia kerja. Ketika pariwisata kembali dibuka, pihaknya telah menyiapkan tenaga kerja kompeten. “Tantangan ke depan, siswa yang baru menamatkan pendidikan tidak hanya bersaing dengan rekan seangkatannya, tetapi juga bersaing dengan senior yang telah memiliki banyak pengalaman,” jelasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS ­– Pandemi berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata. Hal ini juga berimbas pada sekolah-sekolah pariwisata yang notabene mencetak lulusan untuk siap terjun ke dunia kerja di bidang pariwisata. Hal ini menjadi tantangan berat bagi sekolah pariwisata, di samping persaingan yang semakin ketat. Sehingga sekolah pariwisata pun harus berinovasi dan membuat terobosan baru untuk menyesuaikan adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Indonesia Tourism School (ITS) Komang Rusma Ari Santhi, Rabu (16/12).

Perempuan yang akrab disapa Santhi ini mengakum, pembelajaran tatap muka sangat penting dilakukan untuk melakukan interaksi dalam pelatihan baik antara instruktur dan peserta latihan maupun dengan peserta latihan yang lain. Hanya saja pada masa pandemi saat ini, dibutuhkan strategi dalam menerapkan pelatihan di kelas. Pihaknya mengaku tidak mengurangi jam pelatihan tetapi hanya melakukan pembatasan peserta pelatihan untuk mendapatkan pelatihan yang berkualitas dan mencegah terjadinya klaster penyebaran Covid-19. “Kegiatan pelatihan yang kami lakukan tentu dengan penerapan protokol kesehatan. Dulunya satu kelas bisa mencapai 30 siswa, tetapi sekarang hanya 50 persen dari jumlah normal,” jelasnya.

Dia tidak memungkiri jika mahasiswa lulusannya sebagian besar akan mencari pekerjaan ke hotel, restoran maupun kapal pesiar. Hanya saja pada masa pandemi ini pihaknya harus berinovasi menyesuaikan dengan tatanan kehidupan baru sehingga lulusannya tetap diserap dunia kerja. Salah satu inovasi yang dilakukan  adalah merancang jurusan medical tourism untuk menyiapkan tenaga perawat bagi wisatawan asing yang telah lama tinggal di Indonesia.

“Ketika pandemi banyak WNA yang telah lama di Bali memilih untuk tetap stay di Bali. Namun ketika sakit tidak ada yang merawat karena terkendala komunikasi sehingga inilah yang kami siapkan ke depan,” ujar Santhi.

Pihaknya melihat belum ada SDM yang menunjang peluang tersebut sehingga solusinya dengan menyiapkan tenaga medis untuk pariwisata. Pihaknya terus berupaya melahirkan program-program sebagai alternatif lulusan untuk mencari peluang pekerjaan. Dengan memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum, lulusan diharapkan memiliki karakter yang kuat dan tahan banting dalam berbagai situasi. Seperti saat ini, lulusan jangan hanya terpaku pada sektor pariwisata baik itu perhotelan, restoran maupun kapal pesiar yang sedang terpuruk, tetapi memanfaatkan back up ilmu entreprenuer yang telah diselipkan dalam pembelajaran mata latih. “Apapun situasinya, lulusan sudah harus memiliki skill yang lain yaitu berwirausaha,” tandasnya.

Meski sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, akan tetapi Santhi mengajak mahasiswa yang mengambil jurusan pariwisata untuk tetap optimis. Ada atau tidaknya pandemi ini, mahasiswa tetap harus belajar. “Justru ini saat yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia dan meningkatkan kompetensi untuk dapat bersaing di dunia kerja,” ujar Shanti.

Walau dalam keterbatasan untuk melakukan pembelajaran dan pelatihan, pihak ITS pantang untuk berdiam. Hal itu dilakukan untuk tetap menyiapkan SDM yang nantinya mampu bersaing di dunia kerja. Ketika pariwisata kembali dibuka, pihaknya telah menyiapkan tenaga kerja kompeten. “Tantangan ke depan, siswa yang baru menamatkan pendidikan tidak hanya bersaing dengan rekan seangkatannya, tetapi juga bersaing dengan senior yang telah memiliki banyak pengalaman,” jelasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/