alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Layanan RSUD Dikeluhkan, Dewan Pertanyakan Kiat Manajemen

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemkab Karangasem saat ini tengah konsen di bidang kesehatan. Apalagi, di masa pandemi Covid-19, sejumlah anggaran pemerintah diarahkan untuk peningkatan layanan kesehatan ke masyarakat. Termasuk untuk penanganan pandemi. 

Meski demikian, Pemkab Karangasem tampaknya harus mengevaluasi peforma kerja sejumlah unit di badan layanan umum daerah (BLUD). Khususnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sebab, masyarakat mulai menyoroti pelayanan yang diberikan rumah sakit plat merah tersebut. Tak ayal, keluhan-keluhan itu pun sampai ke telinga para anggota DPRD Karangasem.

Persoalan layanan rumah sakit turut disampaikan dalam rapat kerja Badan Anggaran DPRD Karangasem dengan eksekutif, pembahasan KUPA/PPAS 2021, beberapa hari lalu. Dewan menyoroti layanan dan fasilitas BLUD rumah sakit yang tak sebanding dengan pemasukan yang mencapai Rp 17 miliar. 

Anggota komisi III dari Fraksi Golkar I Nyoman Musna Antara dalam rapat itu, mengungkapkan, tidak sedikit laporan-laporan yang masuk mengenai layanan rumah sakit yang dinilai kurang maksimal. Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu ada pasien yang dirawat di pelataran Instalasi Rawat Darurat (IRD) dengan alasan ruang perawatan tidak memungkinkan alias overload.

“Bahkan saya lihat di medsos sampai ada yang di kursi ruang tunggu. Mohon kinerja direktur (RSUD) digenjot. Apalagi ada bahasa, dengan Rp 17 M itu tidak diambil lagi, melainkan akan dikelola. Sehingga kami berharap layanan rumah sakit dapat maksimal,” harap Musna Antara, di hadapan peserta rapat, belum lama ini.

Politisi asal Kecamatan Kubu ini pun mempertanyakan apa saja kiat dan terobosan manajemen rumah sakit dalam meningkatkan layanan. Dia menilai, dengan anggaran bidang kesehatan yang cukup besar, harapannya tidak ada lagi kabar dugaan penolakan pasien yang dirujuk dari klinik atau Puskesmas dengan alasan ketersediaan ruang rawat.

“Padahal arahan Pak Bupati, bagaimana masyarakat Karangasem bisa berobat. Tapi rencana untuk berobat ditolak. Ini jadi atensi kita. Mohon juga diimbangi dengan fasilitas, layanan bagaimana. Setelah diberikan dana, kinerjanya apa sih? Adakah yang signifikan, terlebih situasi seperti ini, pandemi,” ucapnya.

“Kita sudah dua tahun (menangani pandemi). Lebih kuatlah kita. Walaupun layanannya dengan tenda-tenda, yang penting mereka (pasien) tidak diabaikan. Diterima dulu,” imbuh Musna. Bupati Karangasem I Gede Dana dalam satu pertemuan sempat menyinggung perihal layanan rumah sakit. Pihaknya berjanji melakukan pembinaan manajemen rumah sakit. “Tentunya kami tata dulu manajemennya,” kata Gede Dana, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pihak manajemen rumah sakit juga sudah menyampaikan kendala yang dihadapi. Direktur RSUD Karangasem dr I Wayan Suardana mengakui, terjadi penumpukan pasien di tengah membludaknya antrean pasien suspect Covid-19. Sehingga akibatkan ruang rawat terancam overload. Perihal pasien hingga dirawat di pelataran IRD, Suardana mengklaim dilakukan pemisahan karena dalam ruang IRD juga ada antrean pasien suspect korona.

“Kondisinya memang begini (penuh) akibat lonjakan kasus. Ada ruangan yang dipakai untuk skrining memastikan apakah korona atau bukan. Sehingga pasien umum tertahan. Kami membagi agar pasien yang bukan pasien korona tidak tertular pasien skrining korona,” sebut Suardana.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemkab Karangasem saat ini tengah konsen di bidang kesehatan. Apalagi, di masa pandemi Covid-19, sejumlah anggaran pemerintah diarahkan untuk peningkatan layanan kesehatan ke masyarakat. Termasuk untuk penanganan pandemi. 

Meski demikian, Pemkab Karangasem tampaknya harus mengevaluasi peforma kerja sejumlah unit di badan layanan umum daerah (BLUD). Khususnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sebab, masyarakat mulai menyoroti pelayanan yang diberikan rumah sakit plat merah tersebut. Tak ayal, keluhan-keluhan itu pun sampai ke telinga para anggota DPRD Karangasem.

Persoalan layanan rumah sakit turut disampaikan dalam rapat kerja Badan Anggaran DPRD Karangasem dengan eksekutif, pembahasan KUPA/PPAS 2021, beberapa hari lalu. Dewan menyoroti layanan dan fasilitas BLUD rumah sakit yang tak sebanding dengan pemasukan yang mencapai Rp 17 miliar. 

Anggota komisi III dari Fraksi Golkar I Nyoman Musna Antara dalam rapat itu, mengungkapkan, tidak sedikit laporan-laporan yang masuk mengenai layanan rumah sakit yang dinilai kurang maksimal. Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu ada pasien yang dirawat di pelataran Instalasi Rawat Darurat (IRD) dengan alasan ruang perawatan tidak memungkinkan alias overload.

“Bahkan saya lihat di medsos sampai ada yang di kursi ruang tunggu. Mohon kinerja direktur (RSUD) digenjot. Apalagi ada bahasa, dengan Rp 17 M itu tidak diambil lagi, melainkan akan dikelola. Sehingga kami berharap layanan rumah sakit dapat maksimal,” harap Musna Antara, di hadapan peserta rapat, belum lama ini.

Politisi asal Kecamatan Kubu ini pun mempertanyakan apa saja kiat dan terobosan manajemen rumah sakit dalam meningkatkan layanan. Dia menilai, dengan anggaran bidang kesehatan yang cukup besar, harapannya tidak ada lagi kabar dugaan penolakan pasien yang dirujuk dari klinik atau Puskesmas dengan alasan ketersediaan ruang rawat.

“Padahal arahan Pak Bupati, bagaimana masyarakat Karangasem bisa berobat. Tapi rencana untuk berobat ditolak. Ini jadi atensi kita. Mohon juga diimbangi dengan fasilitas, layanan bagaimana. Setelah diberikan dana, kinerjanya apa sih? Adakah yang signifikan, terlebih situasi seperti ini, pandemi,” ucapnya.

“Kita sudah dua tahun (menangani pandemi). Lebih kuatlah kita. Walaupun layanannya dengan tenda-tenda, yang penting mereka (pasien) tidak diabaikan. Diterima dulu,” imbuh Musna. Bupati Karangasem I Gede Dana dalam satu pertemuan sempat menyinggung perihal layanan rumah sakit. Pihaknya berjanji melakukan pembinaan manajemen rumah sakit. “Tentunya kami tata dulu manajemennya,” kata Gede Dana, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pihak manajemen rumah sakit juga sudah menyampaikan kendala yang dihadapi. Direktur RSUD Karangasem dr I Wayan Suardana mengakui, terjadi penumpukan pasien di tengah membludaknya antrean pasien suspect Covid-19. Sehingga akibatkan ruang rawat terancam overload. Perihal pasien hingga dirawat di pelataran IRD, Suardana mengklaim dilakukan pemisahan karena dalam ruang IRD juga ada antrean pasien suspect korona.

“Kondisinya memang begini (penuh) akibat lonjakan kasus. Ada ruangan yang dipakai untuk skrining memastikan apakah korona atau bukan. Sehingga pasien umum tertahan. Kami membagi agar pasien yang bukan pasien korona tidak tertular pasien skrining korona,” sebut Suardana.


Most Read

Artikel Terbaru

/