24.8 C
Denpasar
Monday, November 28, 2022

UGD Dipenuhi Rintihan dan Teriakan Para Korban yang Kesakitan (II)

Pasca Kompor Mayat Meledak saat Ngaben Massal, Ini Penjelasan Pemilik Kompor

GIANYAR, BALI EXPRESS –  Sementara itu, situasi di Setra Desa Adat Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, yang sempat diwarnai kepanikan pasca meledaknya kompor mayat yang digunakan dalam upacara Ngaben Massal, berangsur reda, Jumat malam (19/8).

 

Meskipun sebagian besar warga sudah pulang ke rumah masing-masing, namun nampak masih ada sejumlah warga di TKP. Petugas kepolisian juga terlihat melakukan olah TKP dan meminta keterangan dari sejumlah saksi.

 

Pemilik kompor mayat, I Made Suarta, yang ditemui di TKP menyebutkan jika pihaknya membawa 10 kompor dengan 4 tabung gas berukuran besar. Ditambah satu unit kompresor berbahan bakar solar dan satu unit kompresor berbahan bakar pertalite. Tabungnya kemudian telah termodifikasi sehingga ukurannya lebih besar.

 

Hanya saja dirinya tidak tahu pasti kenapa kompor yang digunakannya bisa meledak. Sebab sebelum digunakan sudah dilakukan pengecekan terlebih dahulu. “Saya juga tidak tahu situasinya tadi, tidak menyangka kejadiannya bisa seperti ini,” ungkapnya yang tidak bisa menyembunyikan kepanikan.

 

Sementara itu, Kelian Adat, I Wayan Suartawan menjelaskan bahwa dalam Ngaben Massal kali ini diikuti oleh 14 kelompok dengan 60 sawa. Namun saat upacara puncak berupa pembakaran petulangan, tiba-tiba saja terjadi peristiwa tersebut yang memang tak pernah disangka. “Kebetulan waktu itu saya tidak ada di lokasi karena mempersiapkan keperluan untuk besok Nganyud. Tapi tiba-tiba mendengar laporan tersebut dari masyarakat saya jadi gemetar,” tegasnya.

Baca Juga :  Ratusan Guru PNS Pensiun, Badung Tambah Honorer

 

Sebelumnya diberitakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WITA. Dimana ketika itu petulangan berbentuk singa yang posisinya paling selatan dan berisikan 12 sawa (jenazah) yang giliran dibakar. Awalnya pembakaran dengan menggunakan kompor mayat itu berjalan lancar, setelah 30 menit berlalu keluarga pemilik sawa pun mendekat. Namun tiba-tiba kompor meledak sehingga api menyambar belasan orang yang ada di lokasi.

 

Paling parah dialami oleh 9 orang warga yang terdiri dari tiga orang tukang kompor mayat dan lainnya merupakan warga setempat. Bahkan satu diantaranya masih anak-anak. Selanjutnya para korban pun dilarikan ke RSU Sanjiwani guna mendapatkan pertolongan. Adapun sembilan orang korban tersebut diantaranya warga Desa Adat Selat sebanyak 6 orang yakni I Ketut Muliana, 49, yang mengalami kedua jari tangan melepuh. I Gusti Nyoman Gede, 60, yang mengalami luka bakar pada siku kiri. I Gusti Made Budiarta, 50, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. I Kadek Gian Pramana Putra, 15, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. Gusti Ketut Wiriantara, 38, yang mengalami luka bakar ringan. Dan I Gusti Ngurah Pradita, 11, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh.

Baca Juga :  Tingkatkan Kecintaan Terhadap Bahasa Bali, Gianyar Gelar Lomba Nyastra

 

Kemudian tiga orang lainnya merupakan tukang kompor asal Pejeng, Tampaksiring, yakni Ketut Adi Wiranata, 32, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. Bagus Oscar. 34, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh, dan I Kadek Dwi Putra Jaya, 32, yang juga mengalami luka bakar disekujur tubuh.

 

Dikonfirmasi terpisah, Camat Blahbatuh I Wayan Gede Eka Putra mengatakan jika saat ini pihaknya masih fokus pada pengananan warganya yang menjadi korban. “Sebab ada yang harus dirujukke RSUP Sanglah karena memang mengalami luka bakar cukup parah,” tegasnya.

 

Ditambahkannya jika ada 9 orang korban yang dilarikan ke UGD RSU Sanjiwani, dan yang mengalami luka bakar parah sebanyak 3 orang. Bahkan sampai 90 persen. “Ya jadi yang akan dibawa ke RSUP Sanglah itu ada 3 orang,” imbuhnya.

 

Dirinya sendiri mengaku tidak mengetahui pasti bagaimana kronologi peristiwa tersebut, hanya saja memang warga Desa Adat Selat tengah melaksanakan upacara Ngaben Massal. “Ya warga di Selat memang sedang ada upacara Ngaben,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS –  Sementara itu, situasi di Setra Desa Adat Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, yang sempat diwarnai kepanikan pasca meledaknya kompor mayat yang digunakan dalam upacara Ngaben Massal, berangsur reda, Jumat malam (19/8).

 

Meskipun sebagian besar warga sudah pulang ke rumah masing-masing, namun nampak masih ada sejumlah warga di TKP. Petugas kepolisian juga terlihat melakukan olah TKP dan meminta keterangan dari sejumlah saksi.

 

Pemilik kompor mayat, I Made Suarta, yang ditemui di TKP menyebutkan jika pihaknya membawa 10 kompor dengan 4 tabung gas berukuran besar. Ditambah satu unit kompresor berbahan bakar solar dan satu unit kompresor berbahan bakar pertalite. Tabungnya kemudian telah termodifikasi sehingga ukurannya lebih besar.

 

Hanya saja dirinya tidak tahu pasti kenapa kompor yang digunakannya bisa meledak. Sebab sebelum digunakan sudah dilakukan pengecekan terlebih dahulu. “Saya juga tidak tahu situasinya tadi, tidak menyangka kejadiannya bisa seperti ini,” ungkapnya yang tidak bisa menyembunyikan kepanikan.

 

Sementara itu, Kelian Adat, I Wayan Suartawan menjelaskan bahwa dalam Ngaben Massal kali ini diikuti oleh 14 kelompok dengan 60 sawa. Namun saat upacara puncak berupa pembakaran petulangan, tiba-tiba saja terjadi peristiwa tersebut yang memang tak pernah disangka. “Kebetulan waktu itu saya tidak ada di lokasi karena mempersiapkan keperluan untuk besok Nganyud. Tapi tiba-tiba mendengar laporan tersebut dari masyarakat saya jadi gemetar,” tegasnya.

Baca Juga :  Usai Dibui Akibat tak Punya Paspor, WN Tiongkok Dideportasi

 

Sebelumnya diberitakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WITA. Dimana ketika itu petulangan berbentuk singa yang posisinya paling selatan dan berisikan 12 sawa (jenazah) yang giliran dibakar. Awalnya pembakaran dengan menggunakan kompor mayat itu berjalan lancar, setelah 30 menit berlalu keluarga pemilik sawa pun mendekat. Namun tiba-tiba kompor meledak sehingga api menyambar belasan orang yang ada di lokasi.

 

Paling parah dialami oleh 9 orang warga yang terdiri dari tiga orang tukang kompor mayat dan lainnya merupakan warga setempat. Bahkan satu diantaranya masih anak-anak. Selanjutnya para korban pun dilarikan ke RSU Sanjiwani guna mendapatkan pertolongan. Adapun sembilan orang korban tersebut diantaranya warga Desa Adat Selat sebanyak 6 orang yakni I Ketut Muliana, 49, yang mengalami kedua jari tangan melepuh. I Gusti Nyoman Gede, 60, yang mengalami luka bakar pada siku kiri. I Gusti Made Budiarta, 50, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. I Kadek Gian Pramana Putra, 15, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. Gusti Ketut Wiriantara, 38, yang mengalami luka bakar ringan. Dan I Gusti Ngurah Pradita, 11, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh.

Baca Juga :  Pengungsi yang Bikin Pastika Ditegur Jokowi Akhirnya Pindah

 

Kemudian tiga orang lainnya merupakan tukang kompor asal Pejeng, Tampaksiring, yakni Ketut Adi Wiranata, 32, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh. Bagus Oscar. 34, yang mengalami luka bakar disekujur tubuh, dan I Kadek Dwi Putra Jaya, 32, yang juga mengalami luka bakar disekujur tubuh.

 

Dikonfirmasi terpisah, Camat Blahbatuh I Wayan Gede Eka Putra mengatakan jika saat ini pihaknya masih fokus pada pengananan warganya yang menjadi korban. “Sebab ada yang harus dirujukke RSUP Sanglah karena memang mengalami luka bakar cukup parah,” tegasnya.

 

Ditambahkannya jika ada 9 orang korban yang dilarikan ke UGD RSU Sanjiwani, dan yang mengalami luka bakar parah sebanyak 3 orang. Bahkan sampai 90 persen. “Ya jadi yang akan dibawa ke RSUP Sanglah itu ada 3 orang,” imbuhnya.

 

Dirinya sendiri mengaku tidak mengetahui pasti bagaimana kronologi peristiwa tersebut, hanya saja memang warga Desa Adat Selat tengah melaksanakan upacara Ngaben Massal. “Ya warga di Selat memang sedang ada upacara Ngaben,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/