alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Rumah Ibunda Bung Karno Akan Direstorasi, Dianggarkan Rp 150 Juta

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben, ibunda Sang Proklamator, Ir. Soekarno yang berlokasi di lingkungan Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng akan direstorasi tahun ini oleh Balai Cagar Budaya, Kemendikbud RI. Anggarannya pun sudah disiapkan sebesar Rp 150 juta.

Hal itu terungkap saat Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara melakukan pertemuan dengan sejumlah ahli waris rumah tersebut, Senin (20/7) siang. Pertemuan dilakukan untuk menyamakan persepsi antara ahli waris dan Dinas Kebudayaan terkait proses restorasi.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), kondisi rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben memang cukup memprihatinkan. Rumah berusia ratusan tahun itu, temboknya sudah keropos. Sedangkan atapnya yang terbuat dari seng sudah mulai berkarat dan berlubang. Namun, sejumlah kayu tiang penyangganya masih terlihat kokoh.

Kadisbud Buleleng, Gede Dody menjelaskan, pihaknya sudah mendapat arahan dari Bupati Buleleng untuk segera mewujudkan restorasi rumah Ibunda Sang Proklamator. Anggaran untuk restorasi rumah tua ini bersumber dari Balai Cagar Budaya.

“Pihak ahli waris sudah sepakat untuk mendukung kegiatan restorasi. Selanjutnya keluarga akan melakukan rembug kembali agar ada hasil secara tertulis. Sehingga jelas, kepada siapa hasil restorasi ini nantinya akan diserahkan,” ujar Dody kepada awak media.

Lanjut Dody, anggaran Rp 150 juta dari Cagar Budaya, disebutnya, sudah cukup untuk melakukan restorasi. Bahkan, Detail Engineering Design (DED) restorasi bangunan sudah tuntas dilakukan pada tahun 2019.

“Restorasi, kalau berdasarkan kisi-kisi dari hasil koordinasi dengan Balai Cagar Budaya secepatnya pada  September. Itu RAB yang sudah dibuat di tahun 2019 dengan memanfaatkan bahan-bahan yang masih bisa digunakan. Artinya tidak menghilangkan bentuk aslinya. Tapi merupakan kajian yang sudah dilakukan oleh Balai Cagar Budaya,” imbuhnya.

Dijelaskan Dody, rekanan pihak ketiga pelaksana restorasi rumah tua tersebut ditunjuk langsung oleh Balai Cagar Budaya. “Kami hanya menerima hasil dari restorasi saja. Jika dalam perjalannya, dana dari Cagar Budaya ada kesulitan, maka solusinya di APBD 2021 kami siapkan melalui mekanisme hibah,” pungkasnya.

Sementara itu, ahli waris, Made Supatika menjelaskan, keluarga besar sudah setuju terkait restorasi yang akan dilaksanakan terhadap rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben. Selanjutnya, pihak keluarga, sebut Supatika, akan secepatnya melaksanakan rapat, sehingga tidak ada hambatan dalam proses restorasi.

“Kalau soal relokasi, pembahasan kami belum mengarah ke sana. Malah yang dibahas itu setelah direstorasi ada rencana merenovasi tempat tinggalnya (Rai Srimben, Red) sehingga nyambung,” singkat Supatika.

Sebelumnya, rumah masa kecil Ibunda Sang proklamator ini diusulkan menjadi cagar budaya. Hanya saja, untuk menetapkan rumah itu menjadi cagar budaya, memerlukan proses yang panjang. Salah satunya dengan menyusun Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Bahkan, rumah tersebut sudah pernah dikunjungi oleh Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Triana Wulandari. Ia melihat bangunan Bale Gede berpotensi menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah.

Tidak menutup kemungkinan jika nantinya bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun ini akan menjadi cagar budaya. Sehingga memerlukan penanganan khusus untuk melestarikan bangunan itu. Salah satunya dengan melakukan restorasi untuk mengembalikan ke kondisi aslinya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben, ibunda Sang Proklamator, Ir. Soekarno yang berlokasi di lingkungan Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng akan direstorasi tahun ini oleh Balai Cagar Budaya, Kemendikbud RI. Anggarannya pun sudah disiapkan sebesar Rp 150 juta.

Hal itu terungkap saat Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara melakukan pertemuan dengan sejumlah ahli waris rumah tersebut, Senin (20/7) siang. Pertemuan dilakukan untuk menyamakan persepsi antara ahli waris dan Dinas Kebudayaan terkait proses restorasi.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), kondisi rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben memang cukup memprihatinkan. Rumah berusia ratusan tahun itu, temboknya sudah keropos. Sedangkan atapnya yang terbuat dari seng sudah mulai berkarat dan berlubang. Namun, sejumlah kayu tiang penyangganya masih terlihat kokoh.

Kadisbud Buleleng, Gede Dody menjelaskan, pihaknya sudah mendapat arahan dari Bupati Buleleng untuk segera mewujudkan restorasi rumah Ibunda Sang Proklamator. Anggaran untuk restorasi rumah tua ini bersumber dari Balai Cagar Budaya.

“Pihak ahli waris sudah sepakat untuk mendukung kegiatan restorasi. Selanjutnya keluarga akan melakukan rembug kembali agar ada hasil secara tertulis. Sehingga jelas, kepada siapa hasil restorasi ini nantinya akan diserahkan,” ujar Dody kepada awak media.

Lanjut Dody, anggaran Rp 150 juta dari Cagar Budaya, disebutnya, sudah cukup untuk melakukan restorasi. Bahkan, Detail Engineering Design (DED) restorasi bangunan sudah tuntas dilakukan pada tahun 2019.

“Restorasi, kalau berdasarkan kisi-kisi dari hasil koordinasi dengan Balai Cagar Budaya secepatnya pada  September. Itu RAB yang sudah dibuat di tahun 2019 dengan memanfaatkan bahan-bahan yang masih bisa digunakan. Artinya tidak menghilangkan bentuk aslinya. Tapi merupakan kajian yang sudah dilakukan oleh Balai Cagar Budaya,” imbuhnya.

Dijelaskan Dody, rekanan pihak ketiga pelaksana restorasi rumah tua tersebut ditunjuk langsung oleh Balai Cagar Budaya. “Kami hanya menerima hasil dari restorasi saja. Jika dalam perjalannya, dana dari Cagar Budaya ada kesulitan, maka solusinya di APBD 2021 kami siapkan melalui mekanisme hibah,” pungkasnya.

Sementara itu, ahli waris, Made Supatika menjelaskan, keluarga besar sudah setuju terkait restorasi yang akan dilaksanakan terhadap rumah masa kecil Nyoman Rai Srimben. Selanjutnya, pihak keluarga, sebut Supatika, akan secepatnya melaksanakan rapat, sehingga tidak ada hambatan dalam proses restorasi.

“Kalau soal relokasi, pembahasan kami belum mengarah ke sana. Malah yang dibahas itu setelah direstorasi ada rencana merenovasi tempat tinggalnya (Rai Srimben, Red) sehingga nyambung,” singkat Supatika.

Sebelumnya, rumah masa kecil Ibunda Sang proklamator ini diusulkan menjadi cagar budaya. Hanya saja, untuk menetapkan rumah itu menjadi cagar budaya, memerlukan proses yang panjang. Salah satunya dengan menyusun Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Bahkan, rumah tersebut sudah pernah dikunjungi oleh Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Triana Wulandari. Ia melihat bangunan Bale Gede berpotensi menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah.

Tidak menutup kemungkinan jika nantinya bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun ini akan menjadi cagar budaya. Sehingga memerlukan penanganan khusus untuk melestarikan bangunan itu. Salah satunya dengan melakukan restorasi untuk mengembalikan ke kondisi aslinya.


Most Read

Artikel Terbaru

/