28.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Jadi Korban Kompor Mayat Meledak, Ini Pengakuan Gusti Nyoman Gede

GIANYAR, BALI EXPRESS – I Gusti Nyoman Gede, 60, warga Banjar Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, tak pernah menyangka jika dirinya akan menjadi salah satu korban ledakan kompor mayat saat Ngaben Massal di Setra Desa Adat Selat, Jumat petang (19/8).

 

Ditemui dikediamannya, I Gusti Nyoman Gede menuturkan jika sesaat sebelum peristiwa itu terjadi, ia berada disebelah petulangan yang berisi sawa (jenazah/tulang) pamannya. Namun saat petulangan itu dibakar menggunakan kompor mayat, tiba-tiba saja tabung yang digunakan untuk menghidupkan kompor meledak. “Tabungnya itu pas disamping saya jatuh. Lalu ada ledakan kedua. Posisi saya hadap selatan. Tangkinya dua, selangnya jadi satu. Saat itu meledak dua,” tuturnya Sabtu (20/8).

 

Akibatnya, siku tangan kirinya pun mengalami goresan cukup dalam karena terkena komponen kompor.  Namun setelah mendapatkan penanganan medis di UGD RSU Sanjiwani, ia diperbolehkan untuk pulang. “Luka goresannya dalam, untuk tidak tulangnya yang kena. Tapi sekarang ini masih sakit tangannya. Disuruh gerak-gerakin sama dokternya. Lalu jam 24.00 WITA dikasi pulang, dan Senin disuruh kontrol lagi ke RSU Sanjiwani,” terangnya.

Baca Juga :  STD Denpasar Garap Mural Pasar Badung

 

Ia menambahkan jika sebelum kejadian ia sejatinya sudah pulang ke rumahnya. Namun terbersit keinginan untuk kembali ke Setra menyaksikan proses pembakaran tulang sang paman. “Karena sawanya banyak makanya lama (prosesi pembakaran). Pembakarannya mulai jam 12.30 WITA sampai malam. Sekarang 5 tahun sekali Ngaben Massalnya, sawanya banyak 64,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Kelian Adat Selat, I Wayan Suartawan mengatakan jika saat kejadian dirinya tidak berada di TKP. Hanya saja ketika itu kata dia pembakaran sudah selesai, dan para tukang kompor mayat sedang merapikan selang-selang yang digunakan. “Saya dengan dentuman. Itu sudah selesai membakar, tinggal melepas-lepas selang kelompok saya yang di timur itu,” ujarnya.

Baca Juga :  Kerja Lembur Berakhir Naas, Buruh Proyek Tewas Tersengat Listrik

 

Pihak Desa Adat kini masih akan melanjutkan sejumlah prosesi upacara Ngaben Massal sambil juga terus memantau kondisi 7 orang warga Banjar Selat yang menjadi korban dalam insiden tersebut. “Jadi puncak acaranya kemarin, dilanjutkan dengan Ngayud. Lagi tiga hari ada pecaruan untuk upacara Ngabennya. Biar kelar semuanya baru nanti kami akan sangkep untuk menentukan tindak lanjut atas peristiwa ini,” pungkasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – I Gusti Nyoman Gede, 60, warga Banjar Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, tak pernah menyangka jika dirinya akan menjadi salah satu korban ledakan kompor mayat saat Ngaben Massal di Setra Desa Adat Selat, Jumat petang (19/8).

 

Ditemui dikediamannya, I Gusti Nyoman Gede menuturkan jika sesaat sebelum peristiwa itu terjadi, ia berada disebelah petulangan yang berisi sawa (jenazah/tulang) pamannya. Namun saat petulangan itu dibakar menggunakan kompor mayat, tiba-tiba saja tabung yang digunakan untuk menghidupkan kompor meledak. “Tabungnya itu pas disamping saya jatuh. Lalu ada ledakan kedua. Posisi saya hadap selatan. Tangkinya dua, selangnya jadi satu. Saat itu meledak dua,” tuturnya Sabtu (20/8).

 

Akibatnya, siku tangan kirinya pun mengalami goresan cukup dalam karena terkena komponen kompor.  Namun setelah mendapatkan penanganan medis di UGD RSU Sanjiwani, ia diperbolehkan untuk pulang. “Luka goresannya dalam, untuk tidak tulangnya yang kena. Tapi sekarang ini masih sakit tangannya. Disuruh gerak-gerakin sama dokternya. Lalu jam 24.00 WITA dikasi pulang, dan Senin disuruh kontrol lagi ke RSU Sanjiwani,” terangnya.

Baca Juga :  Longsor, Senderan di Pinggir Sungai Loloan Medewi Belum Ditangani

 

Ia menambahkan jika sebelum kejadian ia sejatinya sudah pulang ke rumahnya. Namun terbersit keinginan untuk kembali ke Setra menyaksikan proses pembakaran tulang sang paman. “Karena sawanya banyak makanya lama (prosesi pembakaran). Pembakarannya mulai jam 12.30 WITA sampai malam. Sekarang 5 tahun sekali Ngaben Massalnya, sawanya banyak 64,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Kelian Adat Selat, I Wayan Suartawan mengatakan jika saat kejadian dirinya tidak berada di TKP. Hanya saja ketika itu kata dia pembakaran sudah selesai, dan para tukang kompor mayat sedang merapikan selang-selang yang digunakan. “Saya dengan dentuman. Itu sudah selesai membakar, tinggal melepas-lepas selang kelompok saya yang di timur itu,” ujarnya.

Baca Juga :  Tanpa Identitas, Tim Yustisi Klungkung Pulangkan Duktang

 

Pihak Desa Adat kini masih akan melanjutkan sejumlah prosesi upacara Ngaben Massal sambil juga terus memantau kondisi 7 orang warga Banjar Selat yang menjadi korban dalam insiden tersebut. “Jadi puncak acaranya kemarin, dilanjutkan dengan Ngayud. Lagi tiga hari ada pecaruan untuk upacara Ngabennya. Biar kelar semuanya baru nanti kami akan sangkep untuk menentukan tindak lanjut atas peristiwa ini,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru