alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Koster Perjuangkan Revitalisasi Situs Sejarah Puri Kelodan Amlaraja

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Gubernur Bali Wayan Koster berjuang melakukan revitalisasi terhadap situs sejarah Puri Kelodan Amlaraja, Karangasem. Hal itu disampaikannya setelah mengetahui bahwa Puri Kelodan Amlaraja merupakan puri pertama yang ada di Karangasem.

Niat Koster itu dikatakan saat menghadiri undangan Panglingsir Puri Kelodan Amlaraja, Minggu (20/9). Apalagi begitu tiba dan turun dari mobil dinasnya, Koster mendapati kondisi puri yang memprihatinkan. Bangunan puri yang sarat makna sejarah dalam kondisi rusak.

Alunan musik tradisional Karangasem, Penting, yang sudah ada sejak 1960 menyambut kehadiran Koster di Puri Kelodan Amlaraja Karangasem. Dia tiba di sana dan didampingi Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana. Dia disambut perwakilan Keluarga Besar Puri Amlaraja, I Gusti Gde Agung Sanjaya.

Dalam kunjungan itu, Koster merasa bangga terhadap keberadaan Puri Kelodan Amlaraja. Bahkan setibanya di Bale Gedong, Koster sempat berhenti sejenak. Melihat lukisan Pahlawan Nasional, I Gusti Ketut Jelantik, yang pernah terlibat perang melawan penjajah pada Puputan Jagaraga. Kini lukisan tersebut sangat disakralkan oleh keluarga kerajaan di Puri Kelodan Amlaraja.

Selanjutnya, dia memasuki tempat peristirahatan tokoh Puri Kelodan Amlaraja yang pada zaman kerajaan menjabat sebagai Pungawa Pasedahan, I Gusti Agung Bagus Karang Cakra.

Tidak hanya itu, Koster menyempatkan diri memberi hormat kepada Keris Pusaka “Pejenengan” yang ditempatkan di Bale Gedong yang merupakan salah satu bangunan bergaya arsitektur Bali dan Cina.

Di salah satu bagian di dalam Bale Gedong terdapat tulisan China yang memberikan informasi bahwa pembangunan gedung itu dilakukan pada 1887.

Meski keberadaan Puri Kelodan Amlaraja ada di pusat Kota Karangasem, Koster terenyuh melihat kondisi bangunan puri yang sudah rusak. Akibat tidak ada satupun perhatian dari pemerintah, khususnya pemerintah setempat, dalam upaya pelestarian terhadap situs bersejarah tersebut.

“Puri Kelodan Amlaraja adalah puri pertama dan menjadi cikal bakalnya puri di Kabupaten Karangasem, yang kemudian berkembang dengan adanya Puri Kelodan Jelantik Anyar, Puri Kelodan Celuk Negara, dan Puri Kelodan Jagaraga, sehingga kehadiran Gubernur Bali ke puri ini sangat memberikan kami semangat baru,” kata I Gusti Gde Agung Sanjaya selaku perwakilan Keluarga Besar Puri Amlaraja.

 

Lebih lanjut, I Gusti Gde Agung Sanjaya dengan tegas menitipkan pesan kepada Gubernur Koster dan Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana, agar pemerintah menyatukan langkah bersama puri di dalam mewujudkan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.

Ini disampaikan, mengingat salah satu patung Pahlawan Nasional asal Karangasem, I Gusti Ketut Jelantik, disebutnya, tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat setelah mengalami rusak parah.

“Bersyukur sekarang, patung yang memiliki ikon sejarah Karangasem ini kembali bisa berdiri tegak setelah Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana berhasil menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah Kabupaten Karangasem untuk segera memperbaiki patung pahlawan tersebut,” tutur I Gusti Gde Agung Sanjaya.

Melihat kondisi saat ini, ditambah informasi dari perwakilan keluarga besar puri, Koster secara tegas akan memperjuangkan upaya revitalisasi Puri Kelodan Amlaraja.

“Saya sangat berterima kasih atas undangannya di tempat yang sangat terhormat ini. Saya kaget baru masuk ke puri dan turun dari mobil melihat kondisi puri ini. Ternyata puri yang sedang saya kunjungi adalah puri pertama yang ada di Karangasem. Saya pribadi baru tahu ini tempat bersejarah,” ujar Koster.

 “Semoga ini adalah tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang membawa kita ke sini, karena tempat ini sangat bersejarah dan telah mewarnani perjuangan Bangsa Indonesia, hingga menjadi warisan bernilai sejarah. Sehingga menurut saya, Puri Kelodan Amlaraja harus direvitalisasi,” sambungnya.

Dia mengatakan, niat untuk merevitalisasi puri tersebut juga sebagai implementasi ajaran Bung Karno. Jas Merah atau Jangan Sesekali Melupakan Sejarah, sehingga sebagai bangsa Indonesia harus terus mengingat sejarah.

“Karena kita merdeka, pasti ada yang berjuang. Kemudian ada yang memimpin perjuangan. Hingga ada yang menjadi pusat perjuangan seperti di Puri Kelodan Amlaraja ini salah satunya. Karena itu, saya tanpa diminta, tanpa diajak, kalau panglingsir puri berkenan, akan saya prioritaskan puri ini untuk direvitalisasi,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan.

Alasan kuat Wayan Koster untuk membangkitkan kembali peninggalan sejarah, karena sebagai orang yang mencetuskan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, dia meyakini di sebuah puri terdapat ilmu pengetahuan seni, kebudayaan yang unik dan beragam, hingga puri menjadi pusatnya perjuangan bangsa di zaman penjajahan.

Akibatnya, Bali yang memiliki kebudayaan yang unik dan beragam ini, mampu menjadi pulau yang dikunjungi hingga disegani oleh nasional dan dunia internasional.

“Tidak hanya itu, Bali yang memiliki delapan dan satu kota saya catat di masing-masing wilayahnya memiliki jejak sejarah perjuangan yang sangat kaya, dan diwarisi oleh leluhur kita. Sehingga sebagai generasi penerus, harus melestarikannya dengan Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru dalam visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ dan berpedoman pada Tri Sakti Bung Karno, yakni kita harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan,” ujar mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini.

Itu dia katakan seraya mengingatkan, usai mengalami masa penjajahan, Indonesia dan Bali masih menghadapi berbagai dinamika yang sangat serius. Seperti kerusakan alam lingkungan yang terus terjadi, kemerosotan moral, dan mental, hingga kecintaan dan penghormatan terhadap pembangunan kebudayaan Bali yang merupakan akar dari jati diri di pulau Bali dirasa mulai tergerus.

“Kalau saya boleh kasi tanda, Bali sudah mengalami kerusakan. Bila tidak segera ditangani, dikelola dengan komitmen dan konsep yang jelas, maka akan semakin rusak dan semakin kehilangan dari nilai-nilai kehidupan kearifan lokal masyarakat Bali itu sendiri. Sehingga saat Bali akan memasuki era baru, lengkap dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya, saya mohon jangan sesekali kita meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal, adat istiadat, seni, kebudayaan hingga unsur lainnya di Pulau Dewata ini,” pungkasnya. 


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Gubernur Bali Wayan Koster berjuang melakukan revitalisasi terhadap situs sejarah Puri Kelodan Amlaraja, Karangasem. Hal itu disampaikannya setelah mengetahui bahwa Puri Kelodan Amlaraja merupakan puri pertama yang ada di Karangasem.

Niat Koster itu dikatakan saat menghadiri undangan Panglingsir Puri Kelodan Amlaraja, Minggu (20/9). Apalagi begitu tiba dan turun dari mobil dinasnya, Koster mendapati kondisi puri yang memprihatinkan. Bangunan puri yang sarat makna sejarah dalam kondisi rusak.

Alunan musik tradisional Karangasem, Penting, yang sudah ada sejak 1960 menyambut kehadiran Koster di Puri Kelodan Amlaraja Karangasem. Dia tiba di sana dan didampingi Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana. Dia disambut perwakilan Keluarga Besar Puri Amlaraja, I Gusti Gde Agung Sanjaya.

Dalam kunjungan itu, Koster merasa bangga terhadap keberadaan Puri Kelodan Amlaraja. Bahkan setibanya di Bale Gedong, Koster sempat berhenti sejenak. Melihat lukisan Pahlawan Nasional, I Gusti Ketut Jelantik, yang pernah terlibat perang melawan penjajah pada Puputan Jagaraga. Kini lukisan tersebut sangat disakralkan oleh keluarga kerajaan di Puri Kelodan Amlaraja.

Selanjutnya, dia memasuki tempat peristirahatan tokoh Puri Kelodan Amlaraja yang pada zaman kerajaan menjabat sebagai Pungawa Pasedahan, I Gusti Agung Bagus Karang Cakra.

Tidak hanya itu, Koster menyempatkan diri memberi hormat kepada Keris Pusaka “Pejenengan” yang ditempatkan di Bale Gedong yang merupakan salah satu bangunan bergaya arsitektur Bali dan Cina.

Di salah satu bagian di dalam Bale Gedong terdapat tulisan China yang memberikan informasi bahwa pembangunan gedung itu dilakukan pada 1887.

Meski keberadaan Puri Kelodan Amlaraja ada di pusat Kota Karangasem, Koster terenyuh melihat kondisi bangunan puri yang sudah rusak. Akibat tidak ada satupun perhatian dari pemerintah, khususnya pemerintah setempat, dalam upaya pelestarian terhadap situs bersejarah tersebut.

“Puri Kelodan Amlaraja adalah puri pertama dan menjadi cikal bakalnya puri di Kabupaten Karangasem, yang kemudian berkembang dengan adanya Puri Kelodan Jelantik Anyar, Puri Kelodan Celuk Negara, dan Puri Kelodan Jagaraga, sehingga kehadiran Gubernur Bali ke puri ini sangat memberikan kami semangat baru,” kata I Gusti Gde Agung Sanjaya selaku perwakilan Keluarga Besar Puri Amlaraja.

 

Lebih lanjut, I Gusti Gde Agung Sanjaya dengan tegas menitipkan pesan kepada Gubernur Koster dan Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana, agar pemerintah menyatukan langkah bersama puri di dalam mewujudkan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.

Ini disampaikan, mengingat salah satu patung Pahlawan Nasional asal Karangasem, I Gusti Ketut Jelantik, disebutnya, tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat setelah mengalami rusak parah.

“Bersyukur sekarang, patung yang memiliki ikon sejarah Karangasem ini kembali bisa berdiri tegak setelah Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana berhasil menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah Kabupaten Karangasem untuk segera memperbaiki patung pahlawan tersebut,” tutur I Gusti Gde Agung Sanjaya.

Melihat kondisi saat ini, ditambah informasi dari perwakilan keluarga besar puri, Koster secara tegas akan memperjuangkan upaya revitalisasi Puri Kelodan Amlaraja.

“Saya sangat berterima kasih atas undangannya di tempat yang sangat terhormat ini. Saya kaget baru masuk ke puri dan turun dari mobil melihat kondisi puri ini. Ternyata puri yang sedang saya kunjungi adalah puri pertama yang ada di Karangasem. Saya pribadi baru tahu ini tempat bersejarah,” ujar Koster.

 “Semoga ini adalah tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang membawa kita ke sini, karena tempat ini sangat bersejarah dan telah mewarnani perjuangan Bangsa Indonesia, hingga menjadi warisan bernilai sejarah. Sehingga menurut saya, Puri Kelodan Amlaraja harus direvitalisasi,” sambungnya.

Dia mengatakan, niat untuk merevitalisasi puri tersebut juga sebagai implementasi ajaran Bung Karno. Jas Merah atau Jangan Sesekali Melupakan Sejarah, sehingga sebagai bangsa Indonesia harus terus mengingat sejarah.

“Karena kita merdeka, pasti ada yang berjuang. Kemudian ada yang memimpin perjuangan. Hingga ada yang menjadi pusat perjuangan seperti di Puri Kelodan Amlaraja ini salah satunya. Karena itu, saya tanpa diminta, tanpa diajak, kalau panglingsir puri berkenan, akan saya prioritaskan puri ini untuk direvitalisasi,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan.

Alasan kuat Wayan Koster untuk membangkitkan kembali peninggalan sejarah, karena sebagai orang yang mencetuskan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, dia meyakini di sebuah puri terdapat ilmu pengetahuan seni, kebudayaan yang unik dan beragam, hingga puri menjadi pusatnya perjuangan bangsa di zaman penjajahan.

Akibatnya, Bali yang memiliki kebudayaan yang unik dan beragam ini, mampu menjadi pulau yang dikunjungi hingga disegani oleh nasional dan dunia internasional.

“Tidak hanya itu, Bali yang memiliki delapan dan satu kota saya catat di masing-masing wilayahnya memiliki jejak sejarah perjuangan yang sangat kaya, dan diwarisi oleh leluhur kita. Sehingga sebagai generasi penerus, harus melestarikannya dengan Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru dalam visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ dan berpedoman pada Tri Sakti Bung Karno, yakni kita harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan,” ujar mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini.

Itu dia katakan seraya mengingatkan, usai mengalami masa penjajahan, Indonesia dan Bali masih menghadapi berbagai dinamika yang sangat serius. Seperti kerusakan alam lingkungan yang terus terjadi, kemerosotan moral, dan mental, hingga kecintaan dan penghormatan terhadap pembangunan kebudayaan Bali yang merupakan akar dari jati diri di pulau Bali dirasa mulai tergerus.

“Kalau saya boleh kasi tanda, Bali sudah mengalami kerusakan. Bila tidak segera ditangani, dikelola dengan komitmen dan konsep yang jelas, maka akan semakin rusak dan semakin kehilangan dari nilai-nilai kehidupan kearifan lokal masyarakat Bali itu sendiri. Sehingga saat Bali akan memasuki era baru, lengkap dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya, saya mohon jangan sesekali kita meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal, adat istiadat, seni, kebudayaan hingga unsur lainnya di Pulau Dewata ini,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/