alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Rumah Ibunda Bung Karno di Bale Agung Mulai Direstorasi

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Rumah Nyoman Rai Serimben, Ibunda Bung Karno yang berlokasi di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng resmi mulai direstorasi, Minggu (20/9) siang. 

Pembangunan diawali dengan peletakan batu pertama yang dilakukan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana. Restorasi rumah berusia ratusan tahun inipun diminta menyerupai aslinya.

Tak dipungkiri, rumah keluarga Nyoman Rai Serimben saat ini kondisinya memang sangat memprihatinkan. Atapnya yang berbahan seng sudah berkarat dan banyak yang berlubang. Pun dengan temboknya yang terbuat dari susunan batu bata, juga mulai keropos termakan zaman. Tak terkecuali dengan tiang penyangga yang telah rapuh.

Atas kondisi itulah Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan mengusulkan restorasi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Hingga akhirnya proposal restorasi yang diusulkan Dinas Kebudayaan disetujui oleh BPCB dengan pagu anggaran sebesar Rp 160 juta.

Bupati Suradnyana ditemui seusai peletakan batu pertama, mengaku, tidak ada target khusus  dalam kegiatan restorasi ini. Hanya saja dirinya menekankan, agar bentuk bangunan mendekati aslinya. Pihaknya akan terus berkordinasi dengan keluarga besar Bale Agung (Keluarga Nyoman Rai Serimben) untuk menggali lebih dalam, seperti apa kondisi lingkungan dan bangunan di zaman dahulu.

Utamanya ada areal rumah Rai Serimben untuk dibuat mirip melalui dokumen-dokumen yang masih tersimpan. “Bentuk bangunan harus mendekati aslinya. Kami akan coba lihat-lihat lagi foto-foto lama. Untuk lingkungannya seperti apa. Kami tetap berupaya agar lingkungannya dikembalikan,” kata Suradnyana.

Apabila nanti ada bangunan yang dipindahkan pada pengembalian lingkungan di sekitaran rumah Rai Serimben ini, Suradnyana mengaku, akan segera melakukan diskusi dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng. Harapannya, agar bangunan yang dipindahkan diperhitungkan pembangunannya.

Perhitungan ini untuk menentukan berapa nilainya dan juga posisinya dimana. Sehingga, lingkungan pada rumah Rai Serimben ini menyerupai bentuk aslinya. “Jadi, jangan setengah-setengah kalau mau menjadikan ini sebuah cagar budaya,” ujar Suradnyana.

Sementara perwakilan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, Giri Prayoga, menegaskan, untuk perubahan restorasi pada rumah Rai Serimben akan terus didiskusikan dengan Pemerintah Buleleng melalui Disbud Buleleng dan pihak keluarga besar Bale Agung Singaraja.

Pada restorasi ini dipastikan tidak ada kegiatan penggalian terhadap dasar bangunan. Hanya saja sudah diperkirakan ada sedikit kenaikan sisi bangunan sekitar 10 centimeter sampai 15 centimeter, karena dari sisi tangga yang paling bawah kelihatan pendek, karena adanya penimbunan dasar bangunan. “Ada kenaikan sedikit, karena memang mengembalikan ke aslinya,” ucap Giri Prayoga.

Sedangkan, untuk bahan baku akan tetap mempergunakan bahan baku aslinya. Hanya saja ada beberapa bahan yang sulit didapat, yaitu batu bata. Pasalnya, batu bata pada bangunan itu bentuknya sedikit berbeda-beda. Ada yang ukuran kecil dan ada ukuran besar. “Kalau target tuntas tentu saja di awal bulan Desember 2020. Jadi ini harus selesai tepat waktu,” pungkas Giri Prayoga.

Di sisi lain, panglingsir di Banjar Bale Agung, Jro Mangku Made Arsana, mengaku senang jika pemerintah akhirnya melakukan restorasi terhadap rumah Ibunda Bung Karno. Pihaknya pun tak menampik jika melakukan restorasi rumah yang berusia ratusan tahun bukanlah hal yang mudah. Sebab, harus mampu mengembalikan seperti nuansa ratusan tahun lalu.

“Yang jelas kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah untuk merestorasi rumah ini. Terkait rencana relokasi, yang kami bayangkan masih sebatas di areal penghuni di areal rumah Ibunda Bung Karno. Bukan dalam satu kawasan Bale Agung, tentu lingkungan secara keseluruhan bisa saja ditata,” singkatnya.

Sebelumnya, rumah masa kecil Ibunda Sang Proklamator ini diusulkan menjadi cagar budaya. Namun, untuk menetapkan rumah itu menjadi cagar budaya, memerlukan proses yang panjang. Salah satunya dengan menyusun Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Bahkan, rumah tersebut sudah pernah dikunjungi oleh Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Triana Wulandari. Ia melihat jika bangunan Bale Gede ini berpotensi menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah.

Tidak menutup kemungkinan jika nantinya bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun ini akan menjadi cagar budaya. Sehingga memerlukan penanganan khusus untuk melestarikan bangunan itu, salah satunya dengan melakukan restorasi untuk mengembalikan ke kondisi aslinya. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Rumah Nyoman Rai Serimben, Ibunda Bung Karno yang berlokasi di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng resmi mulai direstorasi, Minggu (20/9) siang. 

Pembangunan diawali dengan peletakan batu pertama yang dilakukan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana. Restorasi rumah berusia ratusan tahun inipun diminta menyerupai aslinya.

Tak dipungkiri, rumah keluarga Nyoman Rai Serimben saat ini kondisinya memang sangat memprihatinkan. Atapnya yang berbahan seng sudah berkarat dan banyak yang berlubang. Pun dengan temboknya yang terbuat dari susunan batu bata, juga mulai keropos termakan zaman. Tak terkecuali dengan tiang penyangga yang telah rapuh.

Atas kondisi itulah Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan mengusulkan restorasi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Hingga akhirnya proposal restorasi yang diusulkan Dinas Kebudayaan disetujui oleh BPCB dengan pagu anggaran sebesar Rp 160 juta.

Bupati Suradnyana ditemui seusai peletakan batu pertama, mengaku, tidak ada target khusus  dalam kegiatan restorasi ini. Hanya saja dirinya menekankan, agar bentuk bangunan mendekati aslinya. Pihaknya akan terus berkordinasi dengan keluarga besar Bale Agung (Keluarga Nyoman Rai Serimben) untuk menggali lebih dalam, seperti apa kondisi lingkungan dan bangunan di zaman dahulu.

Utamanya ada areal rumah Rai Serimben untuk dibuat mirip melalui dokumen-dokumen yang masih tersimpan. “Bentuk bangunan harus mendekati aslinya. Kami akan coba lihat-lihat lagi foto-foto lama. Untuk lingkungannya seperti apa. Kami tetap berupaya agar lingkungannya dikembalikan,” kata Suradnyana.

Apabila nanti ada bangunan yang dipindahkan pada pengembalian lingkungan di sekitaran rumah Rai Serimben ini, Suradnyana mengaku, akan segera melakukan diskusi dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng. Harapannya, agar bangunan yang dipindahkan diperhitungkan pembangunannya.

Perhitungan ini untuk menentukan berapa nilainya dan juga posisinya dimana. Sehingga, lingkungan pada rumah Rai Serimben ini menyerupai bentuk aslinya. “Jadi, jangan setengah-setengah kalau mau menjadikan ini sebuah cagar budaya,” ujar Suradnyana.

Sementara perwakilan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, Giri Prayoga, menegaskan, untuk perubahan restorasi pada rumah Rai Serimben akan terus didiskusikan dengan Pemerintah Buleleng melalui Disbud Buleleng dan pihak keluarga besar Bale Agung Singaraja.

Pada restorasi ini dipastikan tidak ada kegiatan penggalian terhadap dasar bangunan. Hanya saja sudah diperkirakan ada sedikit kenaikan sisi bangunan sekitar 10 centimeter sampai 15 centimeter, karena dari sisi tangga yang paling bawah kelihatan pendek, karena adanya penimbunan dasar bangunan. “Ada kenaikan sedikit, karena memang mengembalikan ke aslinya,” ucap Giri Prayoga.

Sedangkan, untuk bahan baku akan tetap mempergunakan bahan baku aslinya. Hanya saja ada beberapa bahan yang sulit didapat, yaitu batu bata. Pasalnya, batu bata pada bangunan itu bentuknya sedikit berbeda-beda. Ada yang ukuran kecil dan ada ukuran besar. “Kalau target tuntas tentu saja di awal bulan Desember 2020. Jadi ini harus selesai tepat waktu,” pungkas Giri Prayoga.

Di sisi lain, panglingsir di Banjar Bale Agung, Jro Mangku Made Arsana, mengaku senang jika pemerintah akhirnya melakukan restorasi terhadap rumah Ibunda Bung Karno. Pihaknya pun tak menampik jika melakukan restorasi rumah yang berusia ratusan tahun bukanlah hal yang mudah. Sebab, harus mampu mengembalikan seperti nuansa ratusan tahun lalu.

“Yang jelas kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah untuk merestorasi rumah ini. Terkait rencana relokasi, yang kami bayangkan masih sebatas di areal penghuni di areal rumah Ibunda Bung Karno. Bukan dalam satu kawasan Bale Agung, tentu lingkungan secara keseluruhan bisa saja ditata,” singkatnya.

Sebelumnya, rumah masa kecil Ibunda Sang Proklamator ini diusulkan menjadi cagar budaya. Namun, untuk menetapkan rumah itu menjadi cagar budaya, memerlukan proses yang panjang. Salah satunya dengan menyusun Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Bahkan, rumah tersebut sudah pernah dikunjungi oleh Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Triana Wulandari. Ia melihat jika bangunan Bale Gede ini berpotensi menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah.

Tidak menutup kemungkinan jika nantinya bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun ini akan menjadi cagar budaya. Sehingga memerlukan penanganan khusus untuk melestarikan bangunan itu, salah satunya dengan melakukan restorasi untuk mengembalikan ke kondisi aslinya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/