alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tak Ada Larangan Ngalawang, Asalkan Taati Prokes

GIANYAR, BALI EXPRESS – Perayaan Galungan dan Kuningan di masa pandemi Covid-19, berpengaruh terhadap tradisi Ngalawang atau Ngunya. Menyusul adanya imbaun Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA), terkait pembatasan pelaksanaan upacara keagamaan. 

Namun, lantaran Ngalawang atau Ngunya diyakini sebagai penetralisasi hal-hal negatif dan penyakit, PHDI Kabupaten Gianyar tidak melarang tradisi tersebut, asalkan menaati protokol kesehatan (prokes).

Ketua PHDI Kabupaten Gianyar, I Nyoman Patra, Minggu (20/9), mengatakan, dalam surat tersebut tidak adanya sebuah pelarangan terhadap aktivitas sosial keagamaan. Hanya yang ditekankan adalah penundaan sementara terhadap upacara yadnya yang sifatnya skala besar.

“Yang menjadi acuan dalam hal ini adalah jarak. Tidak ada larangan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan sosial keagamaan. Asal tetap mengikuti protokol kesehatan,” paparnya.

Ia menyampaikan seperti apa yang telah didapatkan saat mengikuti  kegiatan Germas di Desa Siangan, Gianyar, beberapa waktu lalu, bahwa selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dijaga. 

Dikatakannya, filosofi Ngalawang sendiri, bahwa banyak sasuhunan yang harus tedun ketika ada wabah grubug, dan sasuhunan juga akan tedun secara kasat mata, sekaligus akan membangkitkan semangat. Orang-orang pun akan lupa pada sakitnya.  “Pada saat orang bahagia, ia  akan lupa sakitnya, minimal imun tubuh meningkat,” tandasnya.

Dikatakannya, untuk Ngalawang yang dilakukan dalam rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan tidak ada pelarangan. Hanya saja harus ada restu dari bendesa adat dan ada yang mempertanggungjawabkannya, dan tetap mengacu pada protokol kesehatan.

“Karena bendesa yang mewenangi desa adat tersebut, kegiatan Ngalawang dikembalikan kepada bendesa setempat, dan kelian sekaa, agar dalam berkegiatan Ngalawang tetap mengikuti protokol kesehatan,” pungkas Nyoman Patra.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Perayaan Galungan dan Kuningan di masa pandemi Covid-19, berpengaruh terhadap tradisi Ngalawang atau Ngunya. Menyusul adanya imbaun Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA), terkait pembatasan pelaksanaan upacara keagamaan. 

Namun, lantaran Ngalawang atau Ngunya diyakini sebagai penetralisasi hal-hal negatif dan penyakit, PHDI Kabupaten Gianyar tidak melarang tradisi tersebut, asalkan menaati protokol kesehatan (prokes).

Ketua PHDI Kabupaten Gianyar, I Nyoman Patra, Minggu (20/9), mengatakan, dalam surat tersebut tidak adanya sebuah pelarangan terhadap aktivitas sosial keagamaan. Hanya yang ditekankan adalah penundaan sementara terhadap upacara yadnya yang sifatnya skala besar.

“Yang menjadi acuan dalam hal ini adalah jarak. Tidak ada larangan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan sosial keagamaan. Asal tetap mengikuti protokol kesehatan,” paparnya.

Ia menyampaikan seperti apa yang telah didapatkan saat mengikuti  kegiatan Germas di Desa Siangan, Gianyar, beberapa waktu lalu, bahwa selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dijaga. 

Dikatakannya, filosofi Ngalawang sendiri, bahwa banyak sasuhunan yang harus tedun ketika ada wabah grubug, dan sasuhunan juga akan tedun secara kasat mata, sekaligus akan membangkitkan semangat. Orang-orang pun akan lupa pada sakitnya.  “Pada saat orang bahagia, ia  akan lupa sakitnya, minimal imun tubuh meningkat,” tandasnya.

Dikatakannya, untuk Ngalawang yang dilakukan dalam rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan tidak ada pelarangan. Hanya saja harus ada restu dari bendesa adat dan ada yang mempertanggungjawabkannya, dan tetap mengacu pada protokol kesehatan.

“Karena bendesa yang mewenangi desa adat tersebut, kegiatan Ngalawang dikembalikan kepada bendesa setempat, dan kelian sekaa, agar dalam berkegiatan Ngalawang tetap mengikuti protokol kesehatan,” pungkas Nyoman Patra.


Most Read

Artikel Terbaru

/