alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Pemilihan Bendesa Adat Keramas Bergejolak, Penetapan Tetap Jalan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemilihan Bendesa Adat Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, nampaknya belum menemui titik terang. Pasalnya, pada pemilihan yang dilangsungkan Sabtu (19/12) pagi, dua calon bendesa walkout dari paruman. 

Hal itu dilakukan karena panitia dinilai menggiring keputusan supaya pemilihan dilakukan oleh prejuru desa setempat. Meski diwarnai aksi keluar dari paruman, penetapan bendesa tetap dilakukan.

“Saya telah melakukan musyawarah mufakat dengan salah satu calon yang mendukung saya,” jelas I Gusti Agung Suadnyana, salah satu calon yang walkout dalam paruman, Minggu (20/12).

Disebutkannya, dalam pemilihan tersebut terdapat tiga calon Bendesa Adat. Selain dirinya, ada I Nyoman Kator Wirawan dan petahana I Nyoman Puja Waisnawa. Sesuai petunjuk Perda, panitia memberikan kesempatan ketiga calon tersebut untuk musyawarah mufakat. 

Dalam musyawarah mufakat itu, I Nyoman Kantor Wirawan mufakat memilih I Gusti Agung Suadnyana sebagai bendesa. Sedangkan I Nyoman Puja Waisnawa tidak sepakat tentang hal tersebut. Sebab, jika salah satu tidak setuju, maka panitia tidak bisa menerima keputusan itu. 

“Karena salah satu tidak setuju, panitia tidak menerima keputusan tersebut. Karena versi penitia, jika salah satu calon tidak setuju itu bukan mufakat. Lalu apa bedanya jika saya tidak sepakat atau setuju,  jika pemilihan dilakukan oleh prejuru adat, apa hal tersebut memungkinkan untuk dilangsungkan,” tanya Aguang Suadnyana.

Menurut Agung Suadnyana dan Kantor Wirawan, hal yang dimaksud tidak mufakat adalah jika ketiga calon sama-sama ngotot ingin menjadi bendesa. 

“Itu tidak mufakat. Sementara dari ketiga calon itu, salah satunya telah sepakat memilih saya. Artinya sudah mufakat asas 50% plus 1 tetap berjalan,” imbuhnya lagi. 

Dengan pola itu, pihaknya menilai panitia menggiring pemilihan bendesa dilakukan oleh prejuru desa adat setempat. Sebab, menurut mereka keputusan tersebut tetap  dikatakan belum mufakat. Untuk itu pihaknya pun akan mengirimkan surat keberatan atau protes ke Majelis  Desa Adat (MDA) Provinsi Bali. 

Hal itu dilakukan karena Majelis Desa Adat Kecamatan yang hadir dalam pemilihan tersebut, tidak bisa memberikan solusi apa pun. “Akhirnya setelah itu, kami memutuskan untuk keluar dari paruman. Dan, tidak menyetujui apa pun keputusan yang dihasilkan,” imbuhnya. 

Pemilihan ngadegan Bendesa Adat Keramas telah bermasalah sejak awal. Mulai dari penolakan warga terhadap penyusunan perarem yang dinilai tidak melibatkan dan meminta persetujuan masyarkat. Sehingga   terjadi pemasangan baliho penolakan terhadap perarem tersebut. Sampai salah satu banjar tidak mengikuti proses pencalonan hingga pemilihan bendesa. 

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Panitia Pemilihan Bedesa, Gusti Made Toya mengatakan, dalam Adat Desa Adat Keramas tidak ada istilah walkout. Kejadian dalam paruman kemarin tersebut terjadi saat perwakilan krama dari banjar akan melakukan musyawarah mufakat dengan pindah tempat duduk.  

“Saat dilakukan inilah kedua calon I Gusti Agung Suadnyana dengan I Nyoman Kantor Wirawan berjalan keluar dari area paruman dijemput pendukungnya yang tidak sebagai peserta rapat. Saya sudah sampaikan bahwa paruman ini belum selesai,” paparnya. 

Terkait dikatakan yang memilih hanyalah prajuru, Gusti Made Toya mengatakan hal itu tidak benar. Karena sesuai Perda terlebih situasi Covid l-19, desa adat yang besar pemilihan bisa dilakukan dengan perwakilan. “Setiap 50 krama diwakili oleh 1 orang, setiap tempekan subak diwakili 1 krama,” imbuhnya. 

Keputusan rapat membuat calon Bendesa I Nyoman Puja Waisnawa disepakati oleh 50 perwakilan krama. I Gusti Agung Suadnyana disepakati oleh 14 perwakilan krama, dan I Nyoman Kantor Wirawan 4 perwakilan krama.  

“Kemarin telah langsung diputuskan dan ditetapkan I Nyoman Puja Waisnawa menjadi Bendesa Adat Keramas, dan dalam penetapan itu pun disaksikan MDA Kecamatan, Perbekel, Ketua BPD, tidak ada yang meninggalkan paruman,” imbuhnya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemilihan Bendesa Adat Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, nampaknya belum menemui titik terang. Pasalnya, pada pemilihan yang dilangsungkan Sabtu (19/12) pagi, dua calon bendesa walkout dari paruman. 

Hal itu dilakukan karena panitia dinilai menggiring keputusan supaya pemilihan dilakukan oleh prejuru desa setempat. Meski diwarnai aksi keluar dari paruman, penetapan bendesa tetap dilakukan.

“Saya telah melakukan musyawarah mufakat dengan salah satu calon yang mendukung saya,” jelas I Gusti Agung Suadnyana, salah satu calon yang walkout dalam paruman, Minggu (20/12).

Disebutkannya, dalam pemilihan tersebut terdapat tiga calon Bendesa Adat. Selain dirinya, ada I Nyoman Kator Wirawan dan petahana I Nyoman Puja Waisnawa. Sesuai petunjuk Perda, panitia memberikan kesempatan ketiga calon tersebut untuk musyawarah mufakat. 

Dalam musyawarah mufakat itu, I Nyoman Kantor Wirawan mufakat memilih I Gusti Agung Suadnyana sebagai bendesa. Sedangkan I Nyoman Puja Waisnawa tidak sepakat tentang hal tersebut. Sebab, jika salah satu tidak setuju, maka panitia tidak bisa menerima keputusan itu. 

“Karena salah satu tidak setuju, panitia tidak menerima keputusan tersebut. Karena versi penitia, jika salah satu calon tidak setuju itu bukan mufakat. Lalu apa bedanya jika saya tidak sepakat atau setuju,  jika pemilihan dilakukan oleh prejuru adat, apa hal tersebut memungkinkan untuk dilangsungkan,” tanya Aguang Suadnyana.

Menurut Agung Suadnyana dan Kantor Wirawan, hal yang dimaksud tidak mufakat adalah jika ketiga calon sama-sama ngotot ingin menjadi bendesa. 

“Itu tidak mufakat. Sementara dari ketiga calon itu, salah satunya telah sepakat memilih saya. Artinya sudah mufakat asas 50% plus 1 tetap berjalan,” imbuhnya lagi. 

Dengan pola itu, pihaknya menilai panitia menggiring pemilihan bendesa dilakukan oleh prejuru desa adat setempat. Sebab, menurut mereka keputusan tersebut tetap  dikatakan belum mufakat. Untuk itu pihaknya pun akan mengirimkan surat keberatan atau protes ke Majelis  Desa Adat (MDA) Provinsi Bali. 

Hal itu dilakukan karena Majelis Desa Adat Kecamatan yang hadir dalam pemilihan tersebut, tidak bisa memberikan solusi apa pun. “Akhirnya setelah itu, kami memutuskan untuk keluar dari paruman. Dan, tidak menyetujui apa pun keputusan yang dihasilkan,” imbuhnya. 

Pemilihan ngadegan Bendesa Adat Keramas telah bermasalah sejak awal. Mulai dari penolakan warga terhadap penyusunan perarem yang dinilai tidak melibatkan dan meminta persetujuan masyarkat. Sehingga   terjadi pemasangan baliho penolakan terhadap perarem tersebut. Sampai salah satu banjar tidak mengikuti proses pencalonan hingga pemilihan bendesa. 

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Panitia Pemilihan Bedesa, Gusti Made Toya mengatakan, dalam Adat Desa Adat Keramas tidak ada istilah walkout. Kejadian dalam paruman kemarin tersebut terjadi saat perwakilan krama dari banjar akan melakukan musyawarah mufakat dengan pindah tempat duduk.  

“Saat dilakukan inilah kedua calon I Gusti Agung Suadnyana dengan I Nyoman Kantor Wirawan berjalan keluar dari area paruman dijemput pendukungnya yang tidak sebagai peserta rapat. Saya sudah sampaikan bahwa paruman ini belum selesai,” paparnya. 

Terkait dikatakan yang memilih hanyalah prajuru, Gusti Made Toya mengatakan hal itu tidak benar. Karena sesuai Perda terlebih situasi Covid l-19, desa adat yang besar pemilihan bisa dilakukan dengan perwakilan. “Setiap 50 krama diwakili oleh 1 orang, setiap tempekan subak diwakili 1 krama,” imbuhnya. 

Keputusan rapat membuat calon Bendesa I Nyoman Puja Waisnawa disepakati oleh 50 perwakilan krama. I Gusti Agung Suadnyana disepakati oleh 14 perwakilan krama, dan I Nyoman Kantor Wirawan 4 perwakilan krama.  

“Kemarin telah langsung diputuskan dan ditetapkan I Nyoman Puja Waisnawa menjadi Bendesa Adat Keramas, dan dalam penetapan itu pun disaksikan MDA Kecamatan, Perbekel, Ketua BPD, tidak ada yang meninggalkan paruman,” imbuhnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/