alexametrics
28.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Sarana Pelestarian Tradisi Catur Desa, Arena Magangsing Diresmikan

BANJAR, BALI EXPRESS-Arena Magangsing di Desa Munduk, Kecamatan Banjar tuntas dikerjakan. Bangunan yang menelan anggaran Rp 871 Juta yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik, yang diberikan  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, nantinya akan difungsikan untuk pelestarian event Magangsing di Catur Desa.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Made Sudama Diana menjelaskan, pembangunan Arena Magangsingan ini tercantum di DPA Dinas Pariwisata dengan program Pembangunan Panggung Kesenian dan Penonton. Dipilihnya Desa Adat Munduk untuk lokasi pembangunan arena Magangsing bukanlah tanpa alasan.

Pasalnya, Desa Munduk masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sehingga pembangunan arena ini bisa diusulkan. Terlebih, Desa Munduk juga masuk sebagai salah satu dari bagian Catur Desa. Yakni Desa Adat Tamblingan, Desa Gobleg, dan Desa Umajero.

Dijelaskannya, Pagu anggaran yang diberikan oleh Pemerintah Pusat sebesar Rp 1.02 Miliar. Namun, ketika proses tender, nilai kontraknya turun menjadi Rp 871 Juta. 

“Sesuai kontrak kerja, proyek ini dikerjakan selama 105 hari dimulai  25 Agustus 2020 dan selesai pada tanggal 14 Desember 2020,” tuturnya.

Selama ini even Magangsingan yang dilaksanakan setiap Twin Lake Festival tempatnya kurang representatif. Solusinya, Pemkab Buleleng melalui Dinas Pariwisata dan usulan dari Desa Adat Munduk, membangun arena tersebut.

“Jadi, dengan dibangunnya Arena Magangsingan ini, kedepannya jika ada festival yang melibatkan atraksi Magangsingan bisa dilakukan disini,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana yang meresmikan arena tersebut, Sabtu (19/12) siang, mengatakan, aset kebudayaan seperti Magangsingan ini perlu dilestarikan sebagai community based tourism. Pasalnya, permainan Magangsingan tidak boleh terlepas dari tradisi yang sudah ada.

Terlebih, mulai dari penentuan bahan, hingga pengerjaan harus tetap menggunakan bahan dan alat yang tradisional. Proses itu diakuinya  memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bahkan, Suradnyana juga mengusulkan, sebelum lomba Magangsingan dimulai, masyarakat bisa mengadakan lomba membuat Gangsing.

“Kedepan kalau ada lomba Magangsingan, tiga hari sebelumnya ada lomba membuat Gangsing yang akan digunakan untuk perlombaan nantinya, sehingga runutannya lebih panjang. Ini juga bisa menjadi edukasi kepada wisatawan bagaimana cara membuat Gangsing,” usulnya.

Masyarakat juga diminta untuk menanam pohon yang kayunya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan Gangsing. “Jadi arahnya jelas sebagai pelestarian lingkungan. Tanam pohon yang bisa digunakan sebagai bahan Gangsing. Nanti adakan acara panen pohon bahan Gangsing satu pohon, tapi kita tanam 100 pohon untuk menggantinya,” pungkasnya.

Magangsing merupakan permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu di Buleleng, khususnya di daerah Catur Desa, yaitu Desa Gesing, Desa Gobleg, dmDesa Munduk, dan Desa Umejero.

Bahkan, di setiap event yang diselenggarakan Pemkab Buleleng, selalu menampilkan tradisi khas Buleleng, termasuk Magangsingan. Selain itu, permainan Magangsing dianggap bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata yang dapat disuguhkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Buleleng.


BANJAR, BALI EXPRESS-Arena Magangsing di Desa Munduk, Kecamatan Banjar tuntas dikerjakan. Bangunan yang menelan anggaran Rp 871 Juta yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik, yang diberikan  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, nantinya akan difungsikan untuk pelestarian event Magangsing di Catur Desa.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Made Sudama Diana menjelaskan, pembangunan Arena Magangsingan ini tercantum di DPA Dinas Pariwisata dengan program Pembangunan Panggung Kesenian dan Penonton. Dipilihnya Desa Adat Munduk untuk lokasi pembangunan arena Magangsing bukanlah tanpa alasan.

Pasalnya, Desa Munduk masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sehingga pembangunan arena ini bisa diusulkan. Terlebih, Desa Munduk juga masuk sebagai salah satu dari bagian Catur Desa. Yakni Desa Adat Tamblingan, Desa Gobleg, dan Desa Umajero.

Dijelaskannya, Pagu anggaran yang diberikan oleh Pemerintah Pusat sebesar Rp 1.02 Miliar. Namun, ketika proses tender, nilai kontraknya turun menjadi Rp 871 Juta. 

“Sesuai kontrak kerja, proyek ini dikerjakan selama 105 hari dimulai  25 Agustus 2020 dan selesai pada tanggal 14 Desember 2020,” tuturnya.

Selama ini even Magangsingan yang dilaksanakan setiap Twin Lake Festival tempatnya kurang representatif. Solusinya, Pemkab Buleleng melalui Dinas Pariwisata dan usulan dari Desa Adat Munduk, membangun arena tersebut.

“Jadi, dengan dibangunnya Arena Magangsingan ini, kedepannya jika ada festival yang melibatkan atraksi Magangsingan bisa dilakukan disini,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana yang meresmikan arena tersebut, Sabtu (19/12) siang, mengatakan, aset kebudayaan seperti Magangsingan ini perlu dilestarikan sebagai community based tourism. Pasalnya, permainan Magangsingan tidak boleh terlepas dari tradisi yang sudah ada.

Terlebih, mulai dari penentuan bahan, hingga pengerjaan harus tetap menggunakan bahan dan alat yang tradisional. Proses itu diakuinya  memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bahkan, Suradnyana juga mengusulkan, sebelum lomba Magangsingan dimulai, masyarakat bisa mengadakan lomba membuat Gangsing.

“Kedepan kalau ada lomba Magangsingan, tiga hari sebelumnya ada lomba membuat Gangsing yang akan digunakan untuk perlombaan nantinya, sehingga runutannya lebih panjang. Ini juga bisa menjadi edukasi kepada wisatawan bagaimana cara membuat Gangsing,” usulnya.

Masyarakat juga diminta untuk menanam pohon yang kayunya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan Gangsing. “Jadi arahnya jelas sebagai pelestarian lingkungan. Tanam pohon yang bisa digunakan sebagai bahan Gangsing. Nanti adakan acara panen pohon bahan Gangsing satu pohon, tapi kita tanam 100 pohon untuk menggantinya,” pungkasnya.

Magangsing merupakan permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu di Buleleng, khususnya di daerah Catur Desa, yaitu Desa Gesing, Desa Gobleg, dmDesa Munduk, dan Desa Umejero.

Bahkan, di setiap event yang diselenggarakan Pemkab Buleleng, selalu menampilkan tradisi khas Buleleng, termasuk Magangsingan. Selain itu, permainan Magangsing dianggap bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata yang dapat disuguhkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Buleleng.


Most Read

Artikel Terbaru

/