alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Investasi Goldkoin Dipolisikan 86 Member, Kerugian Capai Rp 4 M

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus dugaan investasi ilegal PT Goldkoin Sevalon Internasional & Koperasi Konsumen Keluarga Goldkoin tampaknya makin runyam. Setelah Kantor Pusatnya di Jalan Nangka, Denpasar diberitakan disegel Polresta Denpasar, kini 86 orang member melaporkan perusahaan itu ke Polda Bali pada Kamis (21/4).

 

Mereka didampingi Tim Kuasa Hukum yang dikomandoi I Wayan Mudita. Dalam kesempatan itu, dua member yang mengaku sebagai korban bernama Susan Yulia dan Listya pun membeberkan masalah yang dihadapi. Pertama, Susan yang berdomisili di Amerika mengaku tertarik berinvestasi aset kripto (mata uang digital) berkat ajakan temannya. Dia diberitahu bahwa Goldkoin adalah legal, dilengkapi dengan beberapa izin.

 

Dari pihak perusahaan yang dikemas dalam bentuk koperasi itu menyampaikan program-programnya disebut pumping. Salah satunya adalah memberikan hadiah berupa mobil jika Susan menyetorkan dana sebesar Rp 100 juta. Wanita ini pun mentransfer melalui rekening koperasi pada Desember 2021. “Syarat jadi member setor Rp, 3,15 juta, agar dapat mobil Rp 100 juta, mobilnya bisa pilih Expander, Wuling dan lainnya,” tuturnya.

 

Setelah menyetorkan dana, periode pumping untuk mendapatkan mobil adalah 99 hari. Sehingga seharusnya sudah dapat mobil pada Maret 2022. Pelapor juga menyetor dana untuk mengikuti program lain seperti pumping charity, pumping mania, dan pumping regular, dengan keuntungan atau sisa hasil usaha (SHU) beberapa persen. Akan tetapi setelah jauh-jauh ke Bali, Susan tak mendapat haknya.

 

Karena Otoritas Jasa Keuangan menyatakan Goldkoin sebagai entitas investasi ilegal tentang perdagangan aset kripto tanpa izin dan kegiatan usahanya ditutup. Maka pihak manajemen beralasan tak ada dana yang masuk ke koperasi, otomatis tidak ada disetor ke dealer untuk mobil, serta tak bisa memberikan hak berupa keuntungan ataupun modal kepada member. Ini yang membuat Susan kecewa karena meski kegiatannya dihentikan, seharusnya dana member tetap dipertanggungjawabkan. “Kalau hak berupa mobil dan keuntungan investasi tidak bisa diberikan, ya setidaknya modal kami bisa dikembalikan,” tambahnya.

 

Total wanita ini menyebut mengalami kerugian sebesar Rp 220 juta. Angka itu adalah modalnya yang tak kunjung kembali. Susan juga akhirnya mengetahui izin-izin yang ditunjukan di awal adalah palsu. Pengakuan senada disampaikan oleh Listya. Ia menjadi member koperasi dan ikut pumping dengan syarat penyertaan modal minimal Rp 1 juta. Listya pun meminjam uang dan menyetor sebesar Rp 5 juta sesuai kontrak 30 hari, dengan SHU yang dijanjikan antara 0,1 persen sampai 1 persen per hari.

 

Nantinya keuntungannya di transfer pada hari ke 31 dan modal dikembalikan saat kontrak berakhir. Memang awalnya dia mendapatkan modalnya kembali, sehingga menjadi tergiur, apalagi saat situasi Pandemi Covid-19 ini. Sehingga wanita itu meminjam lagi cukup banyak uang untuk ikut kontrak satu tahun. Dengan ketentuan, tiga bulan pertama, dapat keuntungan 0,1 persen sampai 1 persen per hari. Tiga bulan ke dua bisa dapat 0,1 persen sampai 0,5 persen per hari. Tiga bulan ke tiga bisa dapat 0,1 sampai 0,3 persen per hari, dan 3 bulan ke empat, bisa dapat 0,1 persen sampai 0,2 persen.

 

Jika ditotal, modalnya mencapai Rp 180 juta. Alhasil nasibnya serupa dengan susan. Dia tak dapat keuntungan, begitu juga modal tak di kembalikan dengan alasan sama yakni penutupan oleh OJK. Maka dengan laporan ini kedua wanita itu berharap modal mereka dikembalikan seperti semula dan ketua Goldkoin Rizki Adam selaku yang dilaporkan bisa diproses hukum. “Anehnya kan mereka tak bisa kembalikan modal kami, tapi masih tetap menjalankan program dan cari member, masak maunya terima uang saja,” tandasnya.

 

Sementara itu, Wayan Mudita mengatakan pihaknya sudah mensomasi Rizki Adan dan PT Goldkoin Savelon Internasional, tapi tak ada tanggapan. Sehingga pada (8/4) sebetulnya sudah melapor ke Polda Bali dengan Tanda Bukti Laporan Pengaduan Masyarakat dengan Nomor Registrasi: Dumas/280/IV/2022/SPKT/POLDA BALI. Ternyata keesokan harinya ada member lain di luar kuasanya yang melapor ke Polresta Denpasar keesokan harinya. Adapun tujuan kedatangan ke Polda Bali kali ini sebenarnya adalah untuk melakukan advokasi total 86 member Goldkoin yang kerugiannya disebut lebih dari Rp 4 miliar. Namun 20 yang hadir mewakili.

 

“Kalau total member se- Bali 3500 ya dengan dana lebih dari Rp 70 miliar. Pihak Goldkoin sempat mengaku akan mengembalikan uang member yang berhenti selama satu bulan, ketentuan itu ditandatangani pada 3 Maret 2022, jadi harusnya uang member kembali 3 April 2022, faktanya tak ada pengembalian itu dan mereka bilang lagi mau kembalikan setelah enam bulan,” kata dia. Adapun objek yang dilaporkan ada lima, yaitu PT Goldkoin Savelon Internasional, Koperasi Konsumen Keluarga Goldkoin, PT Bali Token Global International (anak perusahaan Goldkoin), PT Segara International Development dan Rizki Adam.

 

Pihaknya juga memohon perlindungan hukum kepada Kapolda Bali Irjenpol Putu Jayan Danu Putra agar kegiatan entitas investasi ilegal ini diatensi secara serius. Jika nantinya sudah berkekuatan hukum tetap atau ada penyitaan dari Polda atau kasusnya berlanjut maka perlindungan hukum ini kan ke peradilan, dengan harapannya satu agar seluruh uang member dapat dikembalikan. “Kami sayangkan sebetulnya kenapa malah Polresta lebih cepat bergerak padahal duluan kami lapor di Polda, maka dari itu dengan permohonan ini kami harap proses hukum berjalan sebaik-baiknya karena ini negara hukum,” pungkasnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus dugaan investasi ilegal PT Goldkoin Sevalon Internasional & Koperasi Konsumen Keluarga Goldkoin tampaknya makin runyam. Setelah Kantor Pusatnya di Jalan Nangka, Denpasar diberitakan disegel Polresta Denpasar, kini 86 orang member melaporkan perusahaan itu ke Polda Bali pada Kamis (21/4).

 

Mereka didampingi Tim Kuasa Hukum yang dikomandoi I Wayan Mudita. Dalam kesempatan itu, dua member yang mengaku sebagai korban bernama Susan Yulia dan Listya pun membeberkan masalah yang dihadapi. Pertama, Susan yang berdomisili di Amerika mengaku tertarik berinvestasi aset kripto (mata uang digital) berkat ajakan temannya. Dia diberitahu bahwa Goldkoin adalah legal, dilengkapi dengan beberapa izin.

 

Dari pihak perusahaan yang dikemas dalam bentuk koperasi itu menyampaikan program-programnya disebut pumping. Salah satunya adalah memberikan hadiah berupa mobil jika Susan menyetorkan dana sebesar Rp 100 juta. Wanita ini pun mentransfer melalui rekening koperasi pada Desember 2021. “Syarat jadi member setor Rp, 3,15 juta, agar dapat mobil Rp 100 juta, mobilnya bisa pilih Expander, Wuling dan lainnya,” tuturnya.

 

Setelah menyetorkan dana, periode pumping untuk mendapatkan mobil adalah 99 hari. Sehingga seharusnya sudah dapat mobil pada Maret 2022. Pelapor juga menyetor dana untuk mengikuti program lain seperti pumping charity, pumping mania, dan pumping regular, dengan keuntungan atau sisa hasil usaha (SHU) beberapa persen. Akan tetapi setelah jauh-jauh ke Bali, Susan tak mendapat haknya.

 

Karena Otoritas Jasa Keuangan menyatakan Goldkoin sebagai entitas investasi ilegal tentang perdagangan aset kripto tanpa izin dan kegiatan usahanya ditutup. Maka pihak manajemen beralasan tak ada dana yang masuk ke koperasi, otomatis tidak ada disetor ke dealer untuk mobil, serta tak bisa memberikan hak berupa keuntungan ataupun modal kepada member. Ini yang membuat Susan kecewa karena meski kegiatannya dihentikan, seharusnya dana member tetap dipertanggungjawabkan. “Kalau hak berupa mobil dan keuntungan investasi tidak bisa diberikan, ya setidaknya modal kami bisa dikembalikan,” tambahnya.

 

Total wanita ini menyebut mengalami kerugian sebesar Rp 220 juta. Angka itu adalah modalnya yang tak kunjung kembali. Susan juga akhirnya mengetahui izin-izin yang ditunjukan di awal adalah palsu. Pengakuan senada disampaikan oleh Listya. Ia menjadi member koperasi dan ikut pumping dengan syarat penyertaan modal minimal Rp 1 juta. Listya pun meminjam uang dan menyetor sebesar Rp 5 juta sesuai kontrak 30 hari, dengan SHU yang dijanjikan antara 0,1 persen sampai 1 persen per hari.

 

Nantinya keuntungannya di transfer pada hari ke 31 dan modal dikembalikan saat kontrak berakhir. Memang awalnya dia mendapatkan modalnya kembali, sehingga menjadi tergiur, apalagi saat situasi Pandemi Covid-19 ini. Sehingga wanita itu meminjam lagi cukup banyak uang untuk ikut kontrak satu tahun. Dengan ketentuan, tiga bulan pertama, dapat keuntungan 0,1 persen sampai 1 persen per hari. Tiga bulan ke dua bisa dapat 0,1 persen sampai 0,5 persen per hari. Tiga bulan ke tiga bisa dapat 0,1 sampai 0,3 persen per hari, dan 3 bulan ke empat, bisa dapat 0,1 persen sampai 0,2 persen.

 

Jika ditotal, modalnya mencapai Rp 180 juta. Alhasil nasibnya serupa dengan susan. Dia tak dapat keuntungan, begitu juga modal tak di kembalikan dengan alasan sama yakni penutupan oleh OJK. Maka dengan laporan ini kedua wanita itu berharap modal mereka dikembalikan seperti semula dan ketua Goldkoin Rizki Adam selaku yang dilaporkan bisa diproses hukum. “Anehnya kan mereka tak bisa kembalikan modal kami, tapi masih tetap menjalankan program dan cari member, masak maunya terima uang saja,” tandasnya.

 

Sementara itu, Wayan Mudita mengatakan pihaknya sudah mensomasi Rizki Adan dan PT Goldkoin Savelon Internasional, tapi tak ada tanggapan. Sehingga pada (8/4) sebetulnya sudah melapor ke Polda Bali dengan Tanda Bukti Laporan Pengaduan Masyarakat dengan Nomor Registrasi: Dumas/280/IV/2022/SPKT/POLDA BALI. Ternyata keesokan harinya ada member lain di luar kuasanya yang melapor ke Polresta Denpasar keesokan harinya. Adapun tujuan kedatangan ke Polda Bali kali ini sebenarnya adalah untuk melakukan advokasi total 86 member Goldkoin yang kerugiannya disebut lebih dari Rp 4 miliar. Namun 20 yang hadir mewakili.

 

“Kalau total member se- Bali 3500 ya dengan dana lebih dari Rp 70 miliar. Pihak Goldkoin sempat mengaku akan mengembalikan uang member yang berhenti selama satu bulan, ketentuan itu ditandatangani pada 3 Maret 2022, jadi harusnya uang member kembali 3 April 2022, faktanya tak ada pengembalian itu dan mereka bilang lagi mau kembalikan setelah enam bulan,” kata dia. Adapun objek yang dilaporkan ada lima, yaitu PT Goldkoin Savelon Internasional, Koperasi Konsumen Keluarga Goldkoin, PT Bali Token Global International (anak perusahaan Goldkoin), PT Segara International Development dan Rizki Adam.

 

Pihaknya juga memohon perlindungan hukum kepada Kapolda Bali Irjenpol Putu Jayan Danu Putra agar kegiatan entitas investasi ilegal ini diatensi secara serius. Jika nantinya sudah berkekuatan hukum tetap atau ada penyitaan dari Polda atau kasusnya berlanjut maka perlindungan hukum ini kan ke peradilan, dengan harapannya satu agar seluruh uang member dapat dikembalikan. “Kami sayangkan sebetulnya kenapa malah Polresta lebih cepat bergerak padahal duluan kami lapor di Polda, maka dari itu dengan permohonan ini kami harap proses hukum berjalan sebaik-baiknya karena ini negara hukum,” pungkasnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/