alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Cok Ace Optimis Bali Siap Sambut Wisatawan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Dipilihnya Provinsi Bali sebagai daerah yang menjadi proyek percontohan penerapan protokol kesehatan, khususnya di industri pariwisata yakni Cleanliness, Health, Safety (CHS) atau kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan, mendapatkan sambutan baik Pemprov Bali. Tidak hanya itu, Pemprov Bali optimis dengan kesiapan menyambut para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace saat menjadi narasumber di salah satu program televisi swasta nasional yang mengangkat tema Cara Baru Berwisata melalui video call, pada Senin malam (20/7).

Cok Ace yang berlatar belakang pelaku pariwisata ini menjelaskan, melalui pertimbangan yang matang, Pemprov Bali telah membuka kegiatan lokal pada 9 Juli lalu. Itupun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan dan protokol pencegahan Covid-19 di lapangan, Gubernur Bali Wayan Koster juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru.

SE ini berisi protokol yang mengatur tata cara beraktivitas yang aman dari Covid-19 di 14 sektor dan harus dipatuhi, salah satunya sektor pariwisata.

“Selain mengikuti peraturan dan SOP yang ditetapkan pemerintah, sektor pariwisata juga berinisiatif untuk melakukan assessment mandiri, meliputi kesiapan industri pariwisata dalam menyambut para wisatawan,” imbuhnya.

Dalam assessment tersebut akan dinilai penerapan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19, serta penerapan standar CHS yang dikeluarkan WHO.

“Jika sudah memenuhi, maka akan dikeluarkan sertifikat kompetensi sebagai modal industri pariwisata dalam menarik kepercayaan wisatawan,” jelasnya dalam acara yang menghadirkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, CEO Tiket.com George Hendrata, Ketua PHRI Indonesia Hariyadi B.S. Sukamdani, serta Ketua ASITA Indonesia Nunung Rusmiati.

Mengenai penanganan Covid-19, Wagub Cok Ace juga mengatakan, upaya yang dilakukan di Bali sudah relatif baik. Ini bisa dilihat dari angka kasus yang cukup rendah di Indonesia serta fatality rate yang rendah sekitar 1,58 persen. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari koordinasi yang baik antara pemerintah dengan desa adat. “Bahkan berbagai sanksi telah diberlakukan desa setempat. Pada umumnya masyarakat Bali adalah masyarakat yang patuh. Sehingga kami bisa menekan angka kasus,” imbuhnya.

Sementara dari segi sanksi oleh pemerintah, tokoh Puri Ubud ini menyatakan ketegasan pemerintah bagi para pelanggar. Ini dia contohkan penyelenggara yoga massal di tengah pandemi, pemerintah langsung mendeportasi WNA yang menyelenggarakan.

Mengenai kekhawatiran akan merebaknya kembali virus Covid-19 yang dibawa wisatawan asing, Wagub Cok Ace menjelaskan, telah mengambil langkah preventif. “Kami telah mengeluarkan SE Gubernur tentang protokol kedatangan pelaku perjalanan dari luar negeri. Dalam SE tersebut diatur berbagai hal yang harus dipenuhi seperti surat pernyataan dan hasil negatif Covid-19,” jelasnya.

Sementara untuk mendukung kepercayaan asing, Pemprov Bali tengah meningkatkan fasilitas, baik di ruang publik maupun fasilitas kesehatan.

Sebelumnya Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, untuk kasus Covid-19 di Indonesia jangan dilihat secara global. Namun dilihat dari daerah ke daerah, seperti halnya beberapa provinsi atau kabupaten yang cukup berhasil menangani virus ini, dan pusat merasa sudah layak membuka pariwisatanya. “Seperti Bali, Yogja (Yogyakarta) atau pulau Bintan. Daerah-daerah ini dinilai cukup berhasil dalam menangani Covid-19, sehingga cukup layak dibuka,” jelasnya.

Apalagi saat ini GTPP Covid-19 telah menpunyai data real tentang penyebaran virus ini, sehingga memudahkan para wisatawan untuk memutuskan akan berwisata ke mana.

Untuk membuka kran pariwisata sendiri, Menko Luhut mengatakan, Indonesia tengah menjajaki dengan negara-negara sahabat. Tentu dia menegaskan, dibutuhkan perjanjian kedua belah pihak agar warga mereka juga merasa aman.

Semua hal tersebut menjadi dasar pemerintah membuka pariwisata untuk domestik Indonesia pada 31 Juli, serta mancanegara pada 11 September mendatang.

Selain itu, dia mengakui sektor pariwisata adalah sektor yang menghidupi sektor-sektor lainnya. UMKM, dan masyarakat berbagai kalangan pasti kecipratan dengan dibukanya pariwisata, serta akan menggerakkan perekonomian nasional juga. Untuk itu dia berharap pemerintah daerah betul-betul menyiapkan berbagai keperluan, fasilitas, serta sarana prasarana dalam menarik wisatawan.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Dipilihnya Provinsi Bali sebagai daerah yang menjadi proyek percontohan penerapan protokol kesehatan, khususnya di industri pariwisata yakni Cleanliness, Health, Safety (CHS) atau kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan, mendapatkan sambutan baik Pemprov Bali. Tidak hanya itu, Pemprov Bali optimis dengan kesiapan menyambut para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace saat menjadi narasumber di salah satu program televisi swasta nasional yang mengangkat tema Cara Baru Berwisata melalui video call, pada Senin malam (20/7).

Cok Ace yang berlatar belakang pelaku pariwisata ini menjelaskan, melalui pertimbangan yang matang, Pemprov Bali telah membuka kegiatan lokal pada 9 Juli lalu. Itupun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan dan protokol pencegahan Covid-19 di lapangan, Gubernur Bali Wayan Koster juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru.

SE ini berisi protokol yang mengatur tata cara beraktivitas yang aman dari Covid-19 di 14 sektor dan harus dipatuhi, salah satunya sektor pariwisata.

“Selain mengikuti peraturan dan SOP yang ditetapkan pemerintah, sektor pariwisata juga berinisiatif untuk melakukan assessment mandiri, meliputi kesiapan industri pariwisata dalam menyambut para wisatawan,” imbuhnya.

Dalam assessment tersebut akan dinilai penerapan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19, serta penerapan standar CHS yang dikeluarkan WHO.

“Jika sudah memenuhi, maka akan dikeluarkan sertifikat kompetensi sebagai modal industri pariwisata dalam menarik kepercayaan wisatawan,” jelasnya dalam acara yang menghadirkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, CEO Tiket.com George Hendrata, Ketua PHRI Indonesia Hariyadi B.S. Sukamdani, serta Ketua ASITA Indonesia Nunung Rusmiati.

Mengenai penanganan Covid-19, Wagub Cok Ace juga mengatakan, upaya yang dilakukan di Bali sudah relatif baik. Ini bisa dilihat dari angka kasus yang cukup rendah di Indonesia serta fatality rate yang rendah sekitar 1,58 persen. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari koordinasi yang baik antara pemerintah dengan desa adat. “Bahkan berbagai sanksi telah diberlakukan desa setempat. Pada umumnya masyarakat Bali adalah masyarakat yang patuh. Sehingga kami bisa menekan angka kasus,” imbuhnya.

Sementara dari segi sanksi oleh pemerintah, tokoh Puri Ubud ini menyatakan ketegasan pemerintah bagi para pelanggar. Ini dia contohkan penyelenggara yoga massal di tengah pandemi, pemerintah langsung mendeportasi WNA yang menyelenggarakan.

Mengenai kekhawatiran akan merebaknya kembali virus Covid-19 yang dibawa wisatawan asing, Wagub Cok Ace menjelaskan, telah mengambil langkah preventif. “Kami telah mengeluarkan SE Gubernur tentang protokol kedatangan pelaku perjalanan dari luar negeri. Dalam SE tersebut diatur berbagai hal yang harus dipenuhi seperti surat pernyataan dan hasil negatif Covid-19,” jelasnya.

Sementara untuk mendukung kepercayaan asing, Pemprov Bali tengah meningkatkan fasilitas, baik di ruang publik maupun fasilitas kesehatan.

Sebelumnya Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, untuk kasus Covid-19 di Indonesia jangan dilihat secara global. Namun dilihat dari daerah ke daerah, seperti halnya beberapa provinsi atau kabupaten yang cukup berhasil menangani virus ini, dan pusat merasa sudah layak membuka pariwisatanya. “Seperti Bali, Yogja (Yogyakarta) atau pulau Bintan. Daerah-daerah ini dinilai cukup berhasil dalam menangani Covid-19, sehingga cukup layak dibuka,” jelasnya.

Apalagi saat ini GTPP Covid-19 telah menpunyai data real tentang penyebaran virus ini, sehingga memudahkan para wisatawan untuk memutuskan akan berwisata ke mana.

Untuk membuka kran pariwisata sendiri, Menko Luhut mengatakan, Indonesia tengah menjajaki dengan negara-negara sahabat. Tentu dia menegaskan, dibutuhkan perjanjian kedua belah pihak agar warga mereka juga merasa aman.

Semua hal tersebut menjadi dasar pemerintah membuka pariwisata untuk domestik Indonesia pada 31 Juli, serta mancanegara pada 11 September mendatang.

Selain itu, dia mengakui sektor pariwisata adalah sektor yang menghidupi sektor-sektor lainnya. UMKM, dan masyarakat berbagai kalangan pasti kecipratan dengan dibukanya pariwisata, serta akan menggerakkan perekonomian nasional juga. Untuk itu dia berharap pemerintah daerah betul-betul menyiapkan berbagai keperluan, fasilitas, serta sarana prasarana dalam menarik wisatawan.


Most Read

Artikel Terbaru

/