28.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Bagus Oscar, Korban Ledakan Kompor Mayat Akan Dikremasi Senin Besok

Biasa Bantu Kakek Bakar Mayat saat Libur Kerja, Tinggalkan Dua Orang Anak

GIANYAR, BALI EXPRESS – Siapa sangka jika aktifitas yang sudah biasa dijalani Bagus Oscar Horizoninho, 34, sehari-hari justru akan menjadi petaka dan mengantarkannya menuju ajal. Bagus Oscar adalah warga Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, yang menjadi korban ledakan kompor mayat dalam upacara Ngaben Massal di Desa Adat Selat, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Jumat petang (19/8).

 

Korban sempat mendapatkan perawatan di RSUP Prof Ngoerah (sebelumnya RSUP Sanglah), sebelum dinyatakan meninggal dunia karena beratnya luka bakar yang dialami. Pria berusia 34 tahun itu sendiri merupakan satu dari beberapa orang petugas kompor mayat yang disewa pihak Desa Adat untuk membantu proses pembakaran puluhan sawa dalam Ngaben Massal tersebut. Sebab pemilik usaha kompot mayat itu merupakan usaha milik kakeknya sendiri, I Made Suarta.

 

Berdasarkan pantauan di lapangan Minggu (21/8), nampak keluarga korban dengan menggunakan pakaian adat madya sudah memenuhi rumah duka. Meskipun jenazah Oscar masih dititipkan di RSUP Prof Ngoerah, namun pihak keluarga sudah mulai mempersiapkan sarana upakara untuk prosesi kremasi.

 

Paman korban, Made Rai Ridartha menuturkan jika pihak keluarga memang telah menerima informasi bahwa korban meninggal dunia di RSUP Prof Ngoerah, Sabtu petang (20/8). Dan setelah melakukan rembug dengan keluarga dan pihak adat, maka disepakati jenazah Bagus Oscar akan dikremasi di Krematorium Pundukdawa, Klungkung, Senin 22 Agustus 2022. Kremasi dilakukan lantaran akan berlangsung piodalan do Pura Kebo Edan yang ada masuk wilayah Desa Adat Pejeng. “Besok (Senin) Ngaben sampai Nganyut langsung di tempat kremasi di Pundukdawa karena mau ada odalan di Pura Kebo Edan. Jadi sekarang kami mempersiapkan banten pejati dan untuk mecaru di setra dan pura-pura yang ada disini. Dan saat ini jenazah masih dititipkan di Sanglah,” terang pria yang juga merupakan Sekdis Perhubungan Gianyar tersebut.

Baca Juga :  Tanamkam Sikap Anti Korupsi Sejak Dini, Kejari Tabanan Gelar Lomba

 

Lebih lanjut ia menuturkan jika, sehari-hari korban bekerja di PT. Telkom. Namun memang, apabila hari libur, korban akan membantu sang kakek jika mendapatkan panggilan untuk membakar jenazah. “Jadi memang sudah biasa membantu kakeknya membakar jenazah kalau ditempat kerjanya libur,” sambungnya.

 

Sosok Bagus Oscar pun dikenal sebagai anak yang baik dan ulet. Sehingga kepergian korban dengan cara yang tragis itu pun membuat keluarga merasa sangat kehilangan. Kendatipun demikian, keluarga tetap mencoba ikhlas dan menganggap peristiwa itu adalah musibah. “Ini sebuah musibah, tidak ada yang disengaja. Mungkin penyebab dampaknya sampai begitu keras adalah karena lokasinya sempit. Sehingga saat meledak ada banyak yang kena percikan minyak. Dan terbakar,” paparnya.

 

Bagus Oscar pun pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dua orang buah hati yang masih kecil dan seorang istri bernama Ayu Sri Kartini. Anak pertama berusia 3 tahun dan anak kedua berusia 1 tahun. Sang istri dulunya juga bekerja di Telkom, namun setelah menikah memutuskan untuk focus mengurus anak. Dengan demikian, korban menjadi tulang punggung keluarga. “Korban waktu masih umur 1 tahun juga ditinggal sama bapaknya. Bapaknya dulu anggota TNI meninggal karena kecelakaan,” sebutnya.

 

Ditambahkan oleh kerabatnya, I Nyoman Regig, putranya, Kadek Dwi Saputra Jaya, 32, juga menjadi korban dalam peristiwa naas tersebut. Dimana tiga orang petugas kompor mayat yang menjadi korban adalah, Bagus Oscar, Dwi Saputra Jaya dan I Ketut Adi Wiranata, 32. Ketiganya sama-sama berasal dari Banjar Intaran yang bahkan masih memiliki hubungan saudara. Namun luka bakar yang dialami oleh Dwi Saputra Jaya dibawah 50 persen. “Anak saya dirujuk ke Sanglah juga. Sekarang masih di ruang ICU, sudah bisa bicara tapi katanya tubuhnya panas sekali. Padahal suhu di ruangan itu sangat dingin,” ujarnya.

Baca Juga :  Keren, Pecalang Desa Sayan Gunakan Motor Listrik untuk Patroli Saat Nyepi

 

Regig menambahkan jika menurut penuturan putranya, sebelum kejadian korban Dwi Saputra Jaya sejatinya mendapatkan tugas membakar sawa di kelompok lain atau bukan pada kelompok yang kompornya meledak. “Saat itu sebenarnya pekerjaan anak saya sudah selesai. Lalu dia ke kelompok yang sawa dibakar Oscar bersama Ketut Wiranata, tujuannya untuk membantu agar cepat selesai. Tapi ternyata terjadi musibah seperti ini. Ya semoga anak saya cepat sembuh,” tandasnya.

 

Sementara itu, pemilik usaha kompor mayat, I Made Suarta saat ditemui di rumah duka, tak pernah menyangka jika usaha yang sudah digelutinya 20 tahunan akan menghadapi musibah seperti ini. Sebab kata dia, sebelum melakukan pekerjaannya, pihaknya selalu melakukan pengecekan alat.

 

Disamping itu, pada hari peristiwa itu terjadi pihaknya juga melakukan pembakaran sawa di Desa Adat lain dan tidak menemui kendala apapun. “Paginya sebelum di Selat, kami di Bayad. Saat itu tidak ada masalah,” ujarnya.

 

Kendatipun demikian, pihaknya tetap meminta maaf kepada seluruh korban. “Kepada para korban, saya minta maaf. Saya tidak menyangka akan terjadi seperti ini,” pungkasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Siapa sangka jika aktifitas yang sudah biasa dijalani Bagus Oscar Horizoninho, 34, sehari-hari justru akan menjadi petaka dan mengantarkannya menuju ajal. Bagus Oscar adalah warga Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, yang menjadi korban ledakan kompor mayat dalam upacara Ngaben Massal di Desa Adat Selat, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Jumat petang (19/8).

 

Korban sempat mendapatkan perawatan di RSUP Prof Ngoerah (sebelumnya RSUP Sanglah), sebelum dinyatakan meninggal dunia karena beratnya luka bakar yang dialami. Pria berusia 34 tahun itu sendiri merupakan satu dari beberapa orang petugas kompor mayat yang disewa pihak Desa Adat untuk membantu proses pembakaran puluhan sawa dalam Ngaben Massal tersebut. Sebab pemilik usaha kompot mayat itu merupakan usaha milik kakeknya sendiri, I Made Suarta.

 

Berdasarkan pantauan di lapangan Minggu (21/8), nampak keluarga korban dengan menggunakan pakaian adat madya sudah memenuhi rumah duka. Meskipun jenazah Oscar masih dititipkan di RSUP Prof Ngoerah, namun pihak keluarga sudah mulai mempersiapkan sarana upakara untuk prosesi kremasi.

 

Paman korban, Made Rai Ridartha menuturkan jika pihak keluarga memang telah menerima informasi bahwa korban meninggal dunia di RSUP Prof Ngoerah, Sabtu petang (20/8). Dan setelah melakukan rembug dengan keluarga dan pihak adat, maka disepakati jenazah Bagus Oscar akan dikremasi di Krematorium Pundukdawa, Klungkung, Senin 22 Agustus 2022. Kremasi dilakukan lantaran akan berlangsung piodalan do Pura Kebo Edan yang ada masuk wilayah Desa Adat Pejeng. “Besok (Senin) Ngaben sampai Nganyut langsung di tempat kremasi di Pundukdawa karena mau ada odalan di Pura Kebo Edan. Jadi sekarang kami mempersiapkan banten pejati dan untuk mecaru di setra dan pura-pura yang ada disini. Dan saat ini jenazah masih dititipkan di Sanglah,” terang pria yang juga merupakan Sekdis Perhubungan Gianyar tersebut.

Baca Juga :  Proyek Pasar Silakarang Mangkrak, LSM Berharap Segera Dicarikan Solusi

 

Lebih lanjut ia menuturkan jika, sehari-hari korban bekerja di PT. Telkom. Namun memang, apabila hari libur, korban akan membantu sang kakek jika mendapatkan panggilan untuk membakar jenazah. “Jadi memang sudah biasa membantu kakeknya membakar jenazah kalau ditempat kerjanya libur,” sambungnya.

 

Sosok Bagus Oscar pun dikenal sebagai anak yang baik dan ulet. Sehingga kepergian korban dengan cara yang tragis itu pun membuat keluarga merasa sangat kehilangan. Kendatipun demikian, keluarga tetap mencoba ikhlas dan menganggap peristiwa itu adalah musibah. “Ini sebuah musibah, tidak ada yang disengaja. Mungkin penyebab dampaknya sampai begitu keras adalah karena lokasinya sempit. Sehingga saat meledak ada banyak yang kena percikan minyak. Dan terbakar,” paparnya.

 

Bagus Oscar pun pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dua orang buah hati yang masih kecil dan seorang istri bernama Ayu Sri Kartini. Anak pertama berusia 3 tahun dan anak kedua berusia 1 tahun. Sang istri dulunya juga bekerja di Telkom, namun setelah menikah memutuskan untuk focus mengurus anak. Dengan demikian, korban menjadi tulang punggung keluarga. “Korban waktu masih umur 1 tahun juga ditinggal sama bapaknya. Bapaknya dulu anggota TNI meninggal karena kecelakaan,” sebutnya.

 

Ditambahkan oleh kerabatnya, I Nyoman Regig, putranya, Kadek Dwi Saputra Jaya, 32, juga menjadi korban dalam peristiwa naas tersebut. Dimana tiga orang petugas kompor mayat yang menjadi korban adalah, Bagus Oscar, Dwi Saputra Jaya dan I Ketut Adi Wiranata, 32. Ketiganya sama-sama berasal dari Banjar Intaran yang bahkan masih memiliki hubungan saudara. Namun luka bakar yang dialami oleh Dwi Saputra Jaya dibawah 50 persen. “Anak saya dirujuk ke Sanglah juga. Sekarang masih di ruang ICU, sudah bisa bicara tapi katanya tubuhnya panas sekali. Padahal suhu di ruangan itu sangat dingin,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemdes Pemogan Edukasi Prokes di Pasar Tradisional

 

Regig menambahkan jika menurut penuturan putranya, sebelum kejadian korban Dwi Saputra Jaya sejatinya mendapatkan tugas membakar sawa di kelompok lain atau bukan pada kelompok yang kompornya meledak. “Saat itu sebenarnya pekerjaan anak saya sudah selesai. Lalu dia ke kelompok yang sawa dibakar Oscar bersama Ketut Wiranata, tujuannya untuk membantu agar cepat selesai. Tapi ternyata terjadi musibah seperti ini. Ya semoga anak saya cepat sembuh,” tandasnya.

 

Sementara itu, pemilik usaha kompor mayat, I Made Suarta saat ditemui di rumah duka, tak pernah menyangka jika usaha yang sudah digelutinya 20 tahunan akan menghadapi musibah seperti ini. Sebab kata dia, sebelum melakukan pekerjaannya, pihaknya selalu melakukan pengecekan alat.

 

Disamping itu, pada hari peristiwa itu terjadi pihaknya juga melakukan pembakaran sawa di Desa Adat lain dan tidak menemui kendala apapun. “Paginya sebelum di Selat, kami di Bayad. Saat itu tidak ada masalah,” ujarnya.

 

Kendatipun demikian, pihaknya tetap meminta maaf kepada seluruh korban. “Kepada para korban, saya minta maaf. Saya tidak menyangka akan terjadi seperti ini,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru